Saat Angin Merobohkan Pura, Harapan Warga Angseri Kembali Menyala
DIKSIMERDEKA.COM, TABANAN – Pagi itu, suara angin masih seperti terngiang di telinga warga Banjar Angseri, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti. Sudah hampir sebulan berlalu sejak terjangan angin kencang pada 5 Maret 2026 merobohkan sejumlah bangunan di Pura Luhur Pucak Tinggah. Namun, bayangan bale paruman yang ambruk masih membekas di ingatan para pengempon.
Bale paruman berukuran 18 x 7 meter dengan 24 pilar itu sebelumnya menjadi ruang musyawarah dan tempat umat berkumpul sebelum upacara. Kini, yang tersisa hanyalah rangka kayu dan atap sirap bambu yang tercerai-berai. Selain itu, bale murdamanik, lumbung kelingking, dan pelinggih penegtegan merta turut mengalami kerusakan.

Bagi warga, pura bukan sekadar bangunan suci. Ia adalah pusat kehidupan spiritual dan sosial. Di sanalah doa-doa dipanjatkan, anak-anak belajar menghaturkan canang, dan para tetua desa merawat tradisi yang diwariskan leluhur. Ketika bangunan itu rusak, yang terasa bukan hanya kehilangan fisik, melainkan juga ruang kebersamaan.
“Kami sempat khawatir karena beberapa upacara terpaksa disederhanakan. Tapi kami tetap sembahyang dengan kondisi apa adanya,” tutur salah seorang pengempon pura, dengan mata berkaca-kaca.
Harapan mulai tumbuh kembali saat Gubernur Bali Wayan Koster datang langsung ke lokasi, Senin (30/3/2026). Ia menyerahkan bantuan simbolis sebesar Rp1 miliar dari Pemerintah Provinsi Bali untuk mempercepat rehabilitasi. Bagi warga, kehadiran itu menjadi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi musibah.

Dana tersebut bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) sebagai respons cepat atas bencana. Pemerintah memastikan perbaikan dilakukan segera agar aktivitas keagamaan dapat kembali berlangsung normal. Jika kebutuhan anggaran bertambah, dukungan lanjutan akan dipertimbangkan.
Di tengah puing-puing yang masih tersisa, warga kini bergotong royong membersihkan area pura. Anak-anak kembali berlarian di pelataran, sementara para ibu menyiapkan sesajen sederhana. Angin yang dulu merobohkan bangunan kini hanya menjadi pengingat bahwa ujian bisa datang kapan saja, tetapi kebersamaan selalu menjadi kekuatan utama.
Bagi masyarakat Angseri, pemulihan Pura Luhur Pucak Tinggah bukan hanya soal membangun kembali tembok dan atap. Ini tentang menegakkan kembali harapan, menjaga taksu desa, dan memastikan doa-doa tetap bergema di kaki perbukitan Baturiti.

Tinggalkan Balasan