DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pelaksanaan Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Bali berjalan dengan penuh khidmat serta mencerminkan toleransi yang nyata di tengah masyarakat.

Koster mengatakan pelaksanaan Nyepi Tahun 2026 yang berlangsung selama 24 jam, mulai 19 Maret pukul 06.00 Wita hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 Wita (Ngembak Geni) berjalan dengan sangat hening, tertib, dan tanpa adanya pelanggaran.

“Kita patut bersyukur karena warisan tradisi luhur Nyepi dari para leluhur Bali tetap terjaga dan dilaksanakan secara konsisten hingga saat ini,” ujarnya.

Baca juga :  Hadiri Rapat Koordinasi Tingkat Menteri, Gubernur Koster Harapkan Pemulihan Ekonomi Bali

Koster menjelaskan, Nyepi merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Bali dalam memuliakan dan mengharmoniskan alam. Dalam momen tersebut, seluruh aktivitas kehidupan dihentikan selama satu hari penuh sebagai refleksi diri dan menjaga keseimbangan alam semesta.

Atas pelaksanaan Nyepi yang berjalan lancar, Koster menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh krama Bali yang telah menjaga kekhusyukan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.

Baca juga :  Bali Mulai Jalankan Haluan Pembangunan 100 Tahun Era Baru 2025–2125

Selain itu, Koster juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H kepada umat Muslim yang telah merayakan hari kemenangan pada 21 Maret 2026 setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada umat Muslim di Bali yang tetap menunjukkan sikap toleransi dengan melaksanakan takbiran di rumah masing-masing saat bertepatan dengan Hari Suci Nyepi.

“Ini merupakan wujud toleransi yang sangat indah dalam menghormati pelaksanaan Nyepi, sehingga keharmonisan kehidupan di Bali tetap terjaga,” katanya.

Baca juga :  Gubernur Koster Tinjau Kedatangan Singapore Airlines

Lebih lanjut, Koster mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat kerukunan dan kebersamaan dengan semangat menyama braya, sehingga Bali tetap aman, damai, dan kondusif dalam mendukung pembangunan daerah.

Menurutnya, keharmonisan yang terjaga ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi pembangunan Bali, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia secara sekala dan niskala.

“Semangat kebersamaan ini harus terus kita jaga demi masa depan Bali yang lebih baik,” ungkapnya.

Editor: Agus Pebriana