Fiksi Melawan Fiksi: Negara Versus One Piece
Oleh: Dewa Putu Adi Wibawa
Mengapa pejabat sekaliber Dasco dan Budi Gunawan meresahkan seruan pengibaran “bendera Jolly Roger” yang diambil dari anime/manga populer One Piece? Mari kita lebih spesifik, mengapa mereka takut pada fiksi? Keresahan—mungkin juga ketakutan—mereka tersebut signifikan secara filosofis dan politis. Dengan kata lain, ketakutan terhadap fiksi adalah ketakutan filosofis, ketakutan yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengerti dasar eksistensial negara. Apa hubungan bendera bajak laut Monkey D. Luffy dan kawan-kawan ini dengan negara? Keduanya dihubungkan oleh “makna lain dari apa yg disebut sbg fiksi itu”.
Istilah fiksi telah identik dengan “cerita bohong”. Namun, bertahun-tahun lalu, Harari dalam buku berjudul “Sapiens” yang sangat populer itu, memperkenalkan kerangka teoritis yang menjelaskan salah satu ciri khas sapiens (manusia) dibanding spesies lain. Ciri khas itu tampil dalam kemampuan manusia dalam membangun gagasan imajiner atau fiksi. Kemampuan itu berkaitan dengan keterampilan bercerita, mengembangkan mitos, dan menciptakan realitas tak kasat mata namun dipercaya bersama. Lebih dari sekedar cerita rekaan, fiksi dalam kerangka teoritis ini bermakna sebagai kisah-kisah yang diciptakan manusia serta tidak memiliki eksistensi nyata di dunia fisik, tetapi memiliki fungsi signifikan dalam mengintegrasikan dan mengorganisasi kerja sama berskala besar. Sederhananya, sesuatu tidak pernah ada sebelum sesuatu itu dipercayai bersama-sama keberadaannya, sekalipun sesuatu itu produk imajinasi kita. Ini yang disebut sebagai realitas intersubjektif oleh Habermas, sesuatu ada karena disepakati bahwa sesuatu itu ada. Fiksi berfungsi membangun realitas intersubjektif.
Fiksi mengemuka sebagai kisah yang dipercayai banyak orang sehingga memungkinkan manusia membangun kerja sama dalam kelompok besar, sesuatu yang spesies lain tidak mampu lakukan. Beberapa jenis serangga seperti semut atau lebah memang mampu bekerja sama dalam kelompok besar, namun kerja sama itu bersifat kaku dan berakar dari konstruksi genetis. Serangga-serangga ini tidak mampu mengubah organisasi kerja dan sistem sosial mereka. Sedangkan sistem sosial manusia senantiasa mengalami perubahan sepanjang sejarah. Setiap perubahan sistem sosial didahului dengan perubahan fiksi yang melandasinya.
Negara adalah salah satu dari sejumlah fiksi besar yang pernah diproduksi imajinasi manusia. Pada mulanya negara hanya ada dlm imajinasi kita, namun ia mengada setelah disepakati oleh banyak orang. Bagaimana kesepakatan itu dibuat, melalui koersi, konsesi atau deliberasi, itu soal lain. Syarat utama keberadaan negara sebagai fiksi adalah kepercayaan atau kesepakatan bersama bahwa negara memang ada. Di sinilah dasar filosofis ketakutan Dasco dan BG di atas. Formulasinya sederhana, bila fiksi negara dapat bermanifestasi menjadi sesuatu yang nyata, maka mungkin bagi apa pun fiksi dalam pengibaran bendera bajak laut One Piece menjadi kenyataan pula.
Ini pertentangan fiksi melawan fiksi. Bendera bajak laut dari serial anime/manga One Piece ini telah berposisi sebagai fiksi tandingan. Tidak menutup kemungkinan fiksi yang dibawa dalam gerakan pengibaran bendera tersebut dapat menandingi fiksi negara asalkan ada banyak orang yang mempercayainya. Tidak berlebihan jika para pendukung keberlanjutan eksistensi negara beranggapan bahwa keberlangsungan eksistensi negara sedang terancam oleh bendera yang diambil dari serial anime/manga asing. Di sinilah letak jantung kegelisahan itu.
Tren ini memberi petunjuk adanya gejala krisis kepercayaan banyak orang, terutama generasi muda, pada negara. Bagi siapa saja yang mendukung keberadaan negara, tren itu mengkhawatirkan karena mengarah pada instabilitas jika dibiarkan terus-menerus. Uniknya, saat ini produk anime/manga dipilih sebagai fiksi alternatif untuk menandingi negara. Tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa referensi kultur pop lebih dipilih sebagai alternatif dibanding referensi fiksi-fiksi klasik seperti sosialisme, anarkisme, liberalisme, aktivisme, atau fiksi lainnya. Mungkin karena fiksi-fiksi lain adalah penyokong negara. Mungkin juga karena memang tidak diminati meski memiliki jumlah followers dan fans yang besar di media sosial. Terlepas dari hal itu, dapat dimengerti alasan negara merasa terancam oleh fenomena ini. Bukan sekedar masalah penegakan hukum, namun juga masalah kepercayaan. Saat kepercayaan terhadap fiksi lama mengalami pelemahan, tidak menutup kemungkinan fiksi baru yang lebih dipercaya akan mengambil alih. Ironisnya, secara teoritis, hal itu bisa datang dari fiksi yang berakar pada narasi anime/manga asing.

Tinggalkan Balasan