DIKSIMERDEKA.COM, JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember menggandeng perguruan tinggi untuk meneliti efektivitas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama satu dekade terakhir.

Langkah ini bertujuan untuk memastikan APBD benar-benar berdampak terhadap penurunan kemiskinan, stunting, serta angka kematian ibu dan bayi.

Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan, kajian akademik ini diperlukan agar arah pembangunan Jember ke depan berbasis data ilmiah.

Baca juga :  Jember Jadi Sorotan Nasional dalam Peringatan Hari Lansia 2025

“Penelitian ini penting untuk melihat efektivitas APBD, agar program ke depan lebih tepat sasaran,” ujar Fawait, Rabu (18/6/2025).

Dalam kesempatan itu, Fawait mengungkap bahwa alokasi APBD Jember mencapai Rp40 hingga Rp50 triliun dalam 10 tahun terakhir.

Baca juga :  Sekolah Maggot di Jember: Edukasi Sampah Organik Sejak Dini

“APBD kita cukup besar, namun hasilnya belum terlihat signifikan dalam menekan kemiskinan dan stunting,” tambahnya.

Menurutnya, penelitian kampus akan memberikan sudut pandang objektif dalam evaluasi kebijakan daerah.

“Ini bukan menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Ini bekal memperbaiki arah pembangunan kita ke depan,” tegas Fawait.

Berdasarkan data yang dikantonginya, jumlah penduduk miskin di Jember tahun 2023 mencapai 236.460 jiwa.

Baca juga :  Wujudkan Wisata Bersih, Bupati Jember Gandeng Siswa dan Warga Resik-resik Watu Ulo

“Data itu yang akan kita uji dengan pendekatan akademik, apakah benar-benar mencerminkan realitas,” kata dia.

Fawait juga menyinggung bahwa stunting dan angka kematian ibu-bayi justru mengalami peningkatan.

“Ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja belanja daerah kita,” pungkasnya.