DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) Bali menggelar pelatihan cara distribusi obat yang baik (CDOB) bagi 68 peserta, di Hotel Aston Denpasar, Kamis (08/06/2023). Pelatihan digelar guna meningkatkan mutu dan meminimalisir pelanggaran pendistribusian obat di tengah masyarakat.

Ketua Umum GP Farmasi Bali, Kadek Sudika mengatakan pelatihan CDOB merupakan salah satu program kerja GP Farmasi Indonesia Bali yang bertujuan untuk meningkatkan mutu serta tertibnya pendistribusian obat, perlengkapan farmasi dan keamanan pasien.

“Mudah-mudah dengan pelatihan CDOB yang juga bekerjasama dengan BBPOM (Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, red), distribusi obat di Bali semakin tertib. Sehingga apa yang diharapkan oleh pemerintah dapat kita support sebagai organisasi GP Farmasi Bali,” terang I Kadek Sudika.

Baca juga :  Jurus Kemenperin Wujudkan Kemandirian Industri Farmasi dan Alat Kesehatan

Lebih lanjut, Kadek Sudika menjelaskan sejauh ini secara umum pendistribusian obat di Bali sudah berjalan dengan baik. Kendatipun masih ada beberapa kekeliruan lantaran adanya apoteker baru dan perusahaan-perusahaan baru. Untuk itulah menurutnya perlu ada refresh dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman.

“Kami berharap dengan pelatihan ini pemahaman terkait CDOB bisa seragam. dan CDOB dapat tersebar diseluruh distributor sehingga pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan kita lakukan (distributor) dapat dihindari,” katanya.

Baca juga :  Jurus Kemenperin Wujudkan Kemandirian Industri Farmasi dan Alat Kesehatan

Menurut Kadek Sudika perusahaan distribusi harus memiliki sertifikat CDOB yang didalamnya berisi variabel boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para distributor mulai dari kegiatan order, kedatangan barang, penyimpanan barang, pengiriman barang, kemudian penyimpanan barang oleh outlet.

“Jadi dari ujung sampai akhir semua ada regulasinya. Intinya adalah mencegah pelanggaran dan kesalahan serta dapat meningkatkan mutu dan kualitas,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPPOM Denpasar, I Made Bagus Gerametta yang turut hadir memberikan sambutan mengatakan pelatihan CDOB memegang peranan penting untuk memastikan agar obat dari produksi sampai konsumen, mutu dan kualitasnya tetap dalam kondisi bagus.

Baca juga :  Jurus Kemenperin Wujudkan Kemandirian Industri Farmasi dan Alat Kesehatan

“Obat ini kan industri mencakup produksi, distribusi dan sarana pelayanan. Dalam distribusi ada namanya cara distribusi yang baik dan benar. Dimana agar obat tersebut dari produksi sampai konsumen mutunya masih tetap bagus,” ungkapnya.

Dalam hal ini, tambah Bagus Gerametta, BPOM berfungsi sebagai pengawas obat dan makanan. Dalam konteks pelatihan CDOB ini, BPOM ingin memastikan agar obat dapat dijamin mutu dan manfaat ketika sudah sampai ditangan masyarakat.