DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Glorifikasi atau pengagungan berlebih terhadap penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November 2022 mendatang dinilai menyebabkan pertemuan para pemimpin dunia yang menguasai lebih dari 80 persen ekonomi global tersebut tertutup dari kritikan. 

Baca juga :  Presiden Minta Hasil KTT G20 Segera Ditindaklanjuti

Padahal kritik harus dihadirkan, terutama menyangkut apa manfaat G20 untuk Indonesia, khususnya Bali sebagai tuan rumah. Demikian terungkap dalam diskusi santai yang digelar oleh Komunitas Masyarakat Sipil, bertempat di Kubu Kopi Denpasar, Selasa (11/10/2022). 

“Glorifikasi terhadap even-even besar yang diadakan di Bali, termasuk KTT G-20 sering terjadi. Hal ini membuat kritik terhadap event-event tersebut menjadi tidak ada. Padahal kehadiran event-event tersebut harus dipertanyakan, disikapi, dan dikritisi seberapa besar manfaatnya bagi Bali,” ujar Koordinator Pro Demokrasi Bali, Nyoman Mardika, salah satu narasumber diskusi.

Baca juga :  KTT G20 Dukung Pencapaian Target 3,6 Juta Wisman ke Indonesia

Mardika mengatakan  penyelenggaraan even-even internasional, termasuk KTT G-20 tidak langsung berdampak bagi masyarakat Bali, terkhusus masyarakat tingkat menengah kebawah seperti petani, buruh, nelayan, serta sektor-sektor pekerja kasar yang sebagian besar diisi oleh masyarakat Bali.