WASHINGTON DIKSIMERDEKA.COM Rakyat Amerika Serikat baru saja memberikan “tamparan” keras bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik dalam ajang Pemilu Sela (Midterm Elections). Gelombang kemarahan warga atas meroketnya biaya hidup dan imbas perang di Iran memicu tsunami politik yang mengantarkan Partai Demokrat kembali menguasai Kongres AS, Rabu (4/11/2026).

Kemenangan gemilang Demokrat ini menjadi antiklimaks bagi Trump, hanya berselang dua tahun setelah ia sukses kembali menduduki Gedung Putih secara dominan. Hasil ini menunjukkan rontoknya koalisi solid yang sebelumnya memenangkan Trump di periode kedua, padahal sang presiden telah mati-matian merayu pendukungnya agar memilih seolah-olah nama Trump sendiri yang tertera di surat suara.

Merespons kekalahan pahit partainya, Trump berusaha menutupi kekecewaannya. Dalam wawancara dengan The New York Times, ia mengklaim siap menerima kenyataan dan bekerja sama dengan pihak oposisi. “Kami akan, Anda tahu, menantikan untuk bekerja sama dengan mereka. Kami mungkin akan menyelesaikan sesuatu,” ujar Trump berusaha tampil tenang.

Namun, efek kejut dari Pemilu Sela AS ini langsung merembet ke pasar global. Saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) berguguran di seluruh bursa Asia. Hal ini dipicu kekhawatiran bahwa Kongres AS yang kini dikendalikan Demokrat akan memperketat aturan ekspor teknologi dan rantai pasok cip semikonduktor, yang pada akhirnya akan mempersempit ruang gerak pemerintahan Trump di sektor teknologi tinggi tersebut.

Baca juga :  Trump Klaim Tangan Kanan ISIS Tewas dalam Operasi Gabungan AS-Nigeria

Demokrat Acak-Acak Kandang Republik

Kemenangan Demokrat kali ini bukan sekadar menang tipis. Mereka berhasil meruntuhkan “tembok kokoh” peta elektoral yang selama ini sangat terpolarisasi. Demokrat sukses merebut kursi Senat di basis-basis terkuat Republik, seperti Carolina Selatan, Texas, dan Kansas—wilayah yang sebelumnya diyakini mustahil disentuh Demokrat.

Tak hanya itu, mereka juga menyapu bersih kemenangan di wilayah kompetitif seperti Pennsylvania, Kentucky, dan New Jersey. Gelombang “Biru” Demokrat bahkan merajai perebutan kursi gubernur dan badan legislatif di berbagai negara bagian. Sapu bersih ini mengakhiri kekuasaan mutlak Partai Republik di pemerintahan pusat Washington.

Hasil ini secara drastis akan membatasi ruang gerak Trump di sisa masa jabatannya. Situasinya jauh berbeda dengan dua tahun pertama periode keduanya, di mana kendali penuh Republik atas Kongres membuatnya nyaris tak tersentuh.

Yang paling memalukan bagi Partai Republik, beberapa jagoan yang dipilih dan di-endorse langsung oleh Trump justru tumbang secara mengenaskan. Di Texas, kandidat Demokrat James Talarico secara mengejutkan mengalahkan Jaksa Agung Republik Ken Paxton. Ini adalah kemenangan tingkat negara bagian pertama bagi Demokrat di Texas dalam kurun waktu 30 tahun terakhir!

Baca juga :  King Charles Mendarat di White House, Trump Senyum Lebar, Tapi Hubungan AS–Inggris Lagi Panas-Panasnya

Di Carolina Selatan, Senator Darline Graham (adik mendiang Lindsey Graham) gagal mempertahankan kursinya setelah dilibas oleh politisi Demokrat Annie Andrews. Bahkan, di Michigan, Abdul El-Sayed dari Demokrat mencetak sejarah sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi Senator AS, menumbangkan rentetan serangan Trump yang sempat melabelinya sebagai “jihadis”.

“Ini adalah bencana yang hampir sepenuhnya disebabkan oleh ulah Trump sendiri,” sindir David Axelrod, pakar strategi Partai Demokrat. “Pemilih marah soal biaya hidup dan marah pada pilihan-pilihan (kebijakan) dia yang justru memicu kenaikan harga-harga. Lebih dari itu, beberapa kandidat lemah yang ia pilih sendiri tampaknya kalah malam ini.”

Kemarahan Rakyat Soal Urusan Perut

Isu ekonomi dan urusan perut menjadi faktor penentu kehancuran Republik di Pemilu Sela ini. Menurut jajak pendapat The Voter Poll oleh Associated Press dan SSRS, sekitar tiga perempat pemilih mengaku “marah” dan “tidak puas” dengan arah negara di bawah kendali Trump.

Baca juga :  Bank Inggris Siapkan Sistem Pembayaran Tandingan Visa–Mastercard, Alarm Ketergantungan AS Menguat

Meski angka pengangguran rendah, rakyat AS nyatanya makin tercekik oleh inflasi dan suku bunga pinjaman yang melonjak. Janji Trump untuk menekan harga-harga pupus setelah pecahnya perang dengan Iran, yang memicu lonjakan gila-gilaan pada harga energi dan BBM. Akibatnya, harga sembako dan biaya kesehatan pun ikut terbang tak terkendali.

“Pemilu ini adalah pelajaran tentang hukum gravitasi politik,” ujar Kevin Madden, pakar strategi Republik. “Ketika kekhawatiran utama pemilih adalah inflasi dan keterjangkauan harga, lalu Anda menjawabnya dengan tarif (pajak impor), perang dagang, dan perang dengan Iran yang memperparah kekhawatiran itu, Anda pasti akan kalah dalam pemilu.”

Kini, dengan kendali penuh di tangan, Partai Demokrat bersiap “bersih-bersih” di Washington. Tokoh senior Demokrat Chuck Schumer mendeklarasikan bahwa hasil pemilu ini akan “mengubah wajah Amerika”. Sementara itu, Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menegaskan komitmennya untuk memulihkan daya beli rakyat sekaligus memastikan akuntabilitas atas korupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Langkah Trump ke depan dipastikan tak akan lagi semulus sebelumnya.