DIKSIMERDEKA.COM PARIS Emosi Presiden Prancis, Emmanuel Macron, akhirnya meledak. Ia secara terang-terangan mengutuk “komentar bodoh” dari Donald Trump dan sejumlah pemimpin asing yang tega menjadikan krisis dan kerusuhan di Prancis sebagai alat jualan politik demi meraup suara di negara mereka sendiri. Kamis (22/10/2026). Seperti yang dilansir The Guardian

Sebelumnya, di tengah panasnya suhu politik Amerika Serikat jelang pemilu paruh waktu bulan November, Donald Trump memang tanpa tedeng aling-aling menjadikan kerusuhan Prancis sebagai alat untuk menakut-nakuti pemilih Amerika. Trump dengan sengaja memutarbalikkan fakta demonstrasi—yang awalnya adalah protes mahasiswa soal sekolah bobrok dan mahalnya biaya hidup—menjadi bukti “bahaya imigrasi” dan hancurnya peradaban Barat.

Dalam kampanye akbar di Kansas pada Senin (19/10/2026) malam, Trump berkoar di hadapan ribuan pendukungnya bahwa Prancis yang dulunya merupakan negara besar kini telah “ditaklukkan, dijarah, dan dibakar habis oleh imigran, jihadis, dan komunis.”

“Kalau Anda mau lihat apa yang dipertaruhkan dalam pemilu kita ini, lihat saja apa yang terjadi di Prancis,” teriak Trump, memicu sorak-sorai gemuruh di Kansas, wilayah basis kuat Partai Republik.

Manuver Trump tak berhenti di panggung kampanye. Sebelum berangkat ke Kansas, ia sesumbar kepada wartawan di Gedung Putih bahwa dirinya sudah memperingatkan Macron kalau ia sedang “melakukan kesalahan besar.”

Baca juga :  Trump Bikin Beijing Panas! Mau Kontak Langsung Presiden Taiwan

“Seluruh dunia masuk ke sana, dan seperti yang Anda tahu, Paris sebentar lagi bakal jadi kota Muslim, dan itu bukan kesepakatannya,” klaim Trump sembarangan. Ia juga berkoar di jejaring sosial Truth Social, menuntut pemimpin Prancis untuk “TUTUP PERBATASAN, SEKARANG!”

Gedung Putih seakan ikut menabuh genderang perang narasi. Melalui akun X resminya, mereka mencuit: “Jika Anda mengimpor dunia ketiga, Anda akan menjadi dunia ketiga.” Bahkan sebelum Trump naik panggung di Kansas, layar raksasa memutar liputan Fox News selama 10 menit yang secara sepihak menyalahkan kebijakan imigrasi Prancis atas kekacauan tersebut. Narasi ini juga diamini oleh politisi Republik lainnya, termasuk JD Vance, yang narasinya sejalan dengan kelompok sayap kanan ekstrem Prancis pimpinan Marine Le Pen.

Jauh Panggang dari Api: Urusan Perut Dituduh Invasi Migran

Faktanya, rentetan protes di Prancis sama sekali tidak ada urusannya dengan imigran. Gelombang demonstrasi ini murni urusan perut. Protes dimulai beberapa minggu lalu oleh siswa SMA yang turun ke jalan memprotes kekurangan guru dan sistem penerimaan universitas yang berantakan.

Amarah ini kemudian meluas karena meroketnya harga BBM—dampak pemogokan AS yang menutup Selat Hormuz—serta anjloknya daya beli masyarakat. Serikat pekerja terbesar Prancis, CGT, ikut turun tangan menuntut harga barang diturunkan, upah dinaikkan, dan pensiun diperbaiki. Protes inilah yang pada hari Sabtu lalu berujung pada bentrokan berdarah dengan polisi, pembakaran balai kota bersejarah, dan berujung pada penangkapan ribuan orang.

Baca juga :  Trump Ancam Bom Oman Jika Menghalangi Upaya Akhiri Perang Iran

Balasan Menohok Macron: “Itu Komentar Bodoh!”

Tak terima negaranya diobok-obok dan dijadikan alat kampanye, Macron langsung menyerang balik. Berbicara di sela-sela kunjungannya ke Qatar, Macron menuding telah terjadi “manipulasi informasi” yang memicu “komentar-komentar yang tidak bisa diterima sekaligus bodoh, dari banyak orang, termasuk para pemimpin asing”.

Saat ditanya apakah ia menyindir Trump, Macron menjawab tajam: “Antara lain.”

“Mereka yang berada di tengah-tengah kampanye pemilu, baik di kawasan ini maupun di seberang Atlantik, dengan naif menyebarkan narasi yang jelas-jelas coba dipromosikan oleh kalangan tertentu,” serang Macron. “Mereka menggunakan negara kami untuk kampanye politik mereka sendiri. Dan kami tidak butuh itu. Kami sudah punya banyak kesulitan yang harus dihadapi.”

Macron juga membongkar fakta bahwa gambar-gambar hoaks hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) sengaja disebar untuk menipu dunia. “Ada orang-orang yang mengklaim bahwa kita diinvasi oleh gerombolan migran dan kelompok Islamis, yang mana itu sepenuhnya bohong!” tegasnya, sekaligus menyindir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang juga menggunakan isu Prancis untuk kampanye pemilunya.

Baca juga :  Waduh! Final Piala Dunia Dibayangi Asap Karhutla Kanada

Paris Siaga Satu, Aparat Tempur Diterjunkan

Saat ini, pemerintahan Macron sedang bekerja keras mengendalikan situasi, tepat enam bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Untuk meredam amarah massa, jam malam parsial telah diberlakukan di sejumlah kota, termasuk Paris.

Kepolisian juga melarang keras segala bentuk aksi protes di titik-titik vital Paris, mulai dari Istana Elysee, parlemen, hingga kawasan wisata Museum Louvre. Para menteri bahkan telah berjanji akan menggelar operasi keamanan “masif”, dengan menerjunkan pasukan militer untuk membantu polisi menindak tegas perusuh pada demonstrasi lanjutan akhir pekan ini.

Menteri Kehakiman Gérald Darmanin menegaskan hukum tetap ditegakkan. Dari ribuan yang ditangkap, ratusan orang telah dijebloskan ke penjara dan diproses hukum secara pidana.

Kepanikan akibat masalah ekonomi ini rupanya tidak hanya milik Prancis. Gejolak amarah akibat biaya hidup yang mencekik juga mulai merembet ke negara-negara Eropa lainnya seperti Belgia dan Italia, di mana pemerintah Italia sampai harus mengirim 500 tentara ke Milan untuk meredam kekacauan jalanan.