DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali terus mengembangkan lanskap hijau seiring perluasan area kawasan. Untuk mendukung upaya tersebut, Nursery Kura Kura Bali di Fish Bone Park merawat sekitar 25.941 tanaman dari 83 spesies yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan lanskap kawasan.

Berdasarkan data per 11 September 2026, koleksi tanaman di Nursery Kura Kura Bali terdiri atas 57 jenis tanaman perdu (shrub) dan 26 jenis pohon (tree). Ribuan tanaman tersebut berada dalam berbagai tahap pembibitan dan perawatan sebelum siap ditanam untuk mendukung pengembangan lanskap kawasan.

Pengembangan Nursery menjadi bagian dari upaya Kura Kura Bali menjaga ketersediaan tanaman seiring bertambahnya luasan area hijau. Pada 2026, luas lanskap kawasan tercatat mencapai sekitar 240.379 meter persegi atau 24 hektare, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.

Baca juga :  Koster Tegaskan Perluasan Mangrove Jadi Program Prioritas Pemprov Bali

Sejalan dengan perluasan tersebut, jumlah tanaman pohon dan perdu di seluruh kawasan juga meningkat. Hingga 2026, jumlahnya mencapai sekitar 737.441 tanaman, jauh lebih banyak dibandingkan 2023 yang tercatat sebanyak 177.000 tanaman.

Dari total 25.941 tanaman yang berada di Nursery, sebanyak 14.674 tanaman masih dalam fase semai, 10.746 tanaman berada pada fase sapih, dan 521 tanaman telah berstatus siap tanam (ready to plant).

Pembibitan dilakukan secara bertahap untuk memastikan tanaman mencapai kondisi yang sesuai sebelum ditanam di area kawasan.

Koleksi Nursery mencakup beragam tanaman yang mendukung struktur dan karakter lanskap. Beberapa jenis dengan populasi cukup besar antara lain cendrawasih (Phyllanthus myrtifolius) sebanyak 3.889 tanaman, kenyeri (Nerium oleander) sebanyak 2.764 tanaman, dan selada laut (Scaevola taccada) sebanyak 2.475 tanaman.

Selain itu, Nursery juga membudidayakan sejumlah tanaman yang dikenal sebagai bagian dari vegetasi Bali dan kawasan pesisir tropis, seperti widuri (Calotropis gigantea), jepun (Plumeria pudica), jempiring (Gardenia jasminoides), dan andong (Cordyline fruticosa).

Baca juga :  Abrasi Ancam Bali, Koster Dorong Gerakan Penanaman Mangrove Berkelanjutan

Pengelolaan lanskap juga terhubung dengan fasilitas pengolahan sampah organik, Island Compost Center (ICC), yang berada di Fish Bone Park. Kompos yang dihasilkan dari fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pengelolaan media tanam dan pemeliharaan tanaman.

Dengan demikian, pengembangan lanskap turut mengintegrasikan pembibitan, pemanfaatan kembali sumber daya, dan pengelolaan sampah organik.

Di sisi lain, operasional Nursery turut melibatkan masyarakat lokal. Sebanyak 64 persen tenaga kerja yang menjalankan kegiatan perawatan Nursery berasal dari Desa Serangan. Mereka bekerja melalui tiga mitra, yakni CAREFAST, KKBP, dan PERKASA.Dua pekerja asal Serangan, Astini dan Dayu, mengatakan kegiatan sehari-hari di Nursery meliputi pembibitan hingga perawatan tanaman.

“Kami mulai bekerja dari jam 8 pagi. Iya kegiatannya mulai dari pembibitan sampai perawatan tanaman, semuanya dilakukan di sini,” tutur mereka.

Baca juga :  Hari Mangrove Sedunia, Parta Ajak Pemerintah dan Dunia Usaha Perkuat Konservasi

Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan Nursery tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendukung estetika lanskap, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Pengembangan lanskap KEK Kura Kura Bali kami jalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Lewat Nursery dan pemanfaatan kompos dari Island Compost Center (ICC), Nursery ini menjadi simbol bagaimana pertumbuhan kawasan dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan manfaat bagi komunitas sekitar,” ujar Zefri.

Ke depan, pengembangan Nursery akan disesuaikan dengan pertumbuhan kawasan dan kebutuhan lanskap. Pembibitan, pemeliharaan tanaman, pemanfaatan kompos, serta keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian dari upaya Kura Kura Bali mendukung perluasan lanskap hijau secara berkelanjutan.

Editor: Agus Pebriana