DIKSIMERDEKA.COM TOKYO Jepang tak mau cuma jadi penonton dalam persaingan antariksa global. Negeri Matahari Terbit ini sukses meluncurkan pesawat ruang angkasa dalam misi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membawa pulang sampel batuan dari salah satu bulan milik Mars. Para ilmuwan menaruh harapan besar bahwa material ini akan menguak misteri asal-usul tata surya dan kehidupan di Bumi.

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) menyatakan, wahana penjelajah Martian Moons Exploration (MMX) yang didorong oleh roket andalan Jepang, H3, telah meluncur mulus sebelum fajar dari pulau Tanegashima di wilayah barat daya negara tersebut, Selasa (20/10/2026).

Tepat pukul 04:41 pagi waktu setempat, roket H3 yang membawa wahana tak berawak itu menembus langit gelap dari Pusat Luar Angkasa Tanegashima. Momen bersejarah ini disaksikan ribuan orang yang rela bangun pagi demi mengikuti siaran langsungnya. Satu jam berselang, ruang kendali penerbangan pecah oleh sorak-sorai perayaan setelah ilmuwan JAXA mendeklarasikan peluncuran itu sukses usai pesawat ruang angkasa terpisah dari tahap atas roket.

Wahana ini diproyeksikan tiba di orbit Mars pada Agustus tahun depan. Target utamanya: menggaruk sedikitnya 10 gram tanah dan batuan dari permukaan Phobos—salah satu dari dua bulan kecil berbentuk mirip kentang yang mengorbit Planet Merah. Rencananya, sampel berharga ini akan mendarat kembali di Bumi pada 2031.

Baca juga :  Demi Ambisi Capai Puncak, Seorang Ayah Tega Tinggalkan Anaknya yang Berusia 7 Tahun Sendirian di Gunung Fuji

Bulan bopeng berdiameter 22,5 kilometer ini diketahui mengorbit Mars tiga kali sehari di ketinggian sekitar 6.000 kilometer dari permukaannya.

Selama setengah abad terakhir, badan antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mendaratkan sembilan pesawat ruang angkasa di Mars, sementara China menyusul mendarat di permukaan Mars pada 2021. Namun, inilah kali pertama di dunia ada yang berani mencoba mendarat langsung di Phobos maupun di bulan Mars yang lebih kecil, Deimos.

“Ada banyak adrenalin dan banyak kegembiraan serta banyak decak kagum,” ungkap ahli astrofisika NASA, Tom Statler, yang ikut terlibat dalam proyek pimpinan Jepang ini.

Rover ‘Bule’ Idefix Siap Melompat di Gravitasi Lemah

Dilansir The Guardian, misi prestisius senilai $578 juta (sekitar Rp8,9 triliun) ini adalah hasil kolaborasi lima badan antariksa dunia. Pesawat seberat lima ton ini akan menyinkronkan diri dengan orbit sempit Phobos di sekitar Mars pada musim panas mendatang. Setelah itu, ia akan memuntahkan sebuah robot penjelajah (rover) kecil buatan Prancis-Jerman yang diberi nama Idefix—diambil dari nama anjing terrier putih dalam komik Asterix.

Baca juga :  Gempa Dahsyat Jepang, 5 Tewas, 9 Hilang, 300 Ribu Warga Mengungsi

Jika semua berjalan mulus sesuai skenario, rover beroda empat ini akan melompat-lompat selama beberapa menit di permukaan Phobos (karena gravitasinya hanya 1/1.000 dari gravitasi Bumi) sebelum akhirnya berhenti. Idefix akan menghabiskan 100 hari menyurvei permukaan planet untuk mencari lokasi pendaratan dan pengambilan sampel yang paling aman.

Setelah lokasi aman ditemukan, pesawat utama—sebuah pendarat statis berkaki empat—akan turun tangan. Pendarat ini hanya akan menghabiskan waktu dua jam di Phobos untuk mengebor dan menyedot material, sebelum langsung meluncur kembali ke luar angkasa. Pejabat terkait menyebut, pesawat ini juga akan mengamati Deimos melalui beberapa kali terbang lintas (flyby) sebelum cabut dari orbit Mars pada November 2030.

“Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Kami adalah bagian dari misi pengembalian sampel pertama dari sistem Mars,” tegas Kepala Rover Badan Luar Angkasa Jerman, Markus Grebenstein.

Lewat misi ini, ilmuwan ingin menguji dua teori utama pembentukan Phobos dan Deimos. Teori pertama, hipotesis “benturan raksasa”, menyebut kedua bulan itu terbentuk setelah sebuah benda langit menabrak Mars. Teori kedua, hipotesis “tangkapan”, menyarankan bahwa bulan-bulan itu hanyalah asteroid yang tersedot oleh gravitasi Mars.

Baca juga :  Ke Jepang, Menperin Gaet Komitmen Investasi dan Perluasan Ekspor

JAXA menyebut, membuktikan teori mana yang benar akan membantu mengungkap “bagaimana lingkungan yang dapat dihuni untuk kehidupan mungkin muncul di planet kebumian,” merujuk pada empat planet terdekat dari matahari: Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

AS Tersandung Politik, China Siap Menyalip

Misi Jepang ini seolah menampar Amerika Serikat yang kini tengah tersendat. AS dan China sebenarnya sedang adu cepat balapan menjadi yang pertama membawa pulang sampel batuan dari permukaan Mars.

Rover Perseverance milik NASA, yang sudah wara-wiri di Mars sejak 2021, sebenarnya sudah berhasil mengumpulkan sampel. Ironisnya, proses pemulangannya ke Bumi malah dihentikan oleh pemerintahan Trump menyusul hasil pemungutan suara kongres pada Januari tahun ini.

Di sisi lain, naga Asia tak tinggal diam. Wahana antariksa Tianwen-3 milik China dijadwalkan meluncur sekitar 2028 dan bisa membawa pulang sampel Mars secepatnya pada 2031, yang berpotensi mendahului kepulangan misi bulan milik Jepang ini.