Ketegangan Trump Zelensky: AS Sempat Blokir Intelijen, Sinyal Starlink ‘Diputus Demi Pesan Politik
DIKSIMERDEKA.COM KYIV – Ketegangan Trump Zelensky kembali memanas dan menjadi sorotan dunia. Drama politik antara Washington dan Kiev terus berlanjut. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memang menyampaikan terima kasih kepada pemerintahan Donald Trump karena kembali membuka akses berbagi data intelijen. Namun, di balik ucapan terima kasih itu, Zelensky melempar “sentilan” tajam: Amerika Serikat dituding sengaja memblokir akses internet satelit Starlink hanya demi mengirimkan “pesan” di tengah perseteruan Trump dengan pemimpin Ukraina tersebut.
Dilansir dari The Guardian, Minggu (19/10/2026), dinamika perang makin rumit ketika dua orang tewas dan sedikitnya 17 lainnya terluka akibat saling serang fasilitas infrastruktur energi antara Rusia dan Ukraina.
Dalam wawancara tajam di jaringan televisi NBC, Zelensky membongkar bahwa AS sempat “memblokir” informasi intelijen terkait ancaman serangan rudal balistik Rusia, yang belakangan meluluhlantakkan infrastruktur energi Ukraina menjelang musim dingin.
“Sempat diblokir selama beberapa waktu. Lalu dibuka kembali oleh pihak Amerika. Kami sangat berterima kasih untuk ini. Sekarang sudah berfungsi,” tegas Zelensky di program Meet the Press NBC.
“Hanya Amerika Serikat yang memiliki intelijen unik ini untuk memberi tahu pihak kami kapan Rusia menggunakan rudal balistik. Dan kami tidak mendapatkannya selama serangan balistik dalam tiga hari.”
Lebih jauh, Zelensky menuding bahwa SpaceX milik Elon Musk ikut andil dalam pembatasan mendadak kecepatan terminal Starlink di Ukraina. Akibatnya, operasi drone di garis depan dan sejumlah misi pertahanan udara Ukraina jadi kedodoran.
“Itu adalah sebuah pesan dari pemerintah Amerika untuk membatasi kecepatan,” sentilnya tajam. “Dan secara teknis, SpaceX yang melakukannya.”
Gencatan Senjata Energi Trump Ambruk, Kiev Balas Dendam
Di lapangan, korban terus berjatuhan. Kesepakatan “gencatan senjata energi” yang diklaim secara sepihak dan berumur pendek oleh Trump kini benar-benar ambruk berkeping-keping.
Trump sendiri makin terang-terangan mencari titik temu dengan Moskow. Ia menandatangani kesepakatan impor bahan bakar diesel dari Rusia dan mengesampingkan sanksi yang sebelumnya didukung mutlak oleh dua kamar Kongres AS. Langkah ini memicu kritik keras dari Zelensky, apalagi AS juga terus menekan Ukraina agar berhenti menyerang kilang minyak Rusia dan menyudahi perang secepatnya dengan syarat yang menguntungkan Vladimir Putin.
“Kami ingin mempercayainya dan saya berharap dia akan mengubah keputusannya,” ucap Zelensky merespons manuver Trump. “Karena saya pikir itu semua adalah kesalahan dan tidak akan membantu kami. Serta tidak akan membantu Amerika Serikat.”
Pada hari Minggu, Zelensky mengaku telah berkomunikasi dengan Steve Witkoff dan Jared Kushner, dua utusan Trump yang ditugaskan mengakhiri perang di Ukraina. Ini menjadi bagian dari komunikasi maraton Ukraina dengan pemerintahan Trump.
H2: Saling Tuding Petinggi AS: Zelensky Dicap Sembrono
Sentilan Zelensky soal Starlink langsung bikin kuping pejabat Washington panas. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara terpisah di NBC, melontarkan serangan balik. Ia menyebut Zelensky sangat “sembrono” menuduh pemerintahan Trump berada di balik pencekikan sinyal Starlink.
“Presiden Trump dan Menteri Rubio secara kategoris menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di pemerintahan Trump yang melakukan hal tersebut,” bantah Bessent keras. “Dan menurut saya sangat sembrono bagi Presiden Zelensky untuk melontarkan tuduhan seperti itu.”
Ia memberi peringatan keras, “Presiden Zelensky harus sangat berhati-hati dalam membuat pernyataan yang tidak benar seperti ini.”
Bahkan pada Minggu malam, Trump turun gunung menyerang balik melalui platform Truth Social miliknya. Mengklaim sedang memimpin negosiasi perdamaian yang mencapai “kemajuan besar”, Trump malah menuding Ukraina sebagai pihak yang ogah damai.
“Zelensky tidak peduli, dan sejujurnya, dengan semua uang yang diberikan Eropa kepadanya… dia tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin tidak pernah ingin mengakhirinya,” tulis Trump pedas.
HSerangan 1.000 Drone Ukraina dan Insiden di Langit NATO
Ukraina tidak tinggal diam. Mereka kembali melancarkan serangan masif ke kilang minyak Rusia. Pada Minggu malam, Ukraina mengerahkan lebih dari 1.000 drone untuk menghantam depot minyak, fasilitas logistik, dan pusat data Rusia—menjadi salah satu bombardir udara terbesar sepanjang sejarah perang ini.
Gubernur St Petersburg, Alexander Beglov, mengonfirmasi kebakaran hebat melanda terminal minyak, depot, dan gudang industri di kotanya semalaman. Perusahaan ritel Ozon dan raksasa teknologi lokal VK juga menjadi sasaran amuk drone Ukraina. Menurut Gubernur wilayah Leningrad, Alexander Drozdenko, 145 drone berhasil ditembak jatuh, namun dampaknya membuat sekitar 20.000 warga hidup tanpa listrik.
Di tengah kekacauan ini, ketegangan nyaris merembet ke wilayah NATO. Pada Minggu pagi, warga di wilayah tengah dan utara Lithuania diseru mencari perlindungan setelah sebuah “objek terbang tak dikenal” menerobos masuk ruang udara negara tersebut.
Jet tempur NATO sampai harus diterbangkan darurat (scramble) dan Bandara Kaunas terpaksa ditutup sementara. Sayangnya, cuaca berawan membuat pesawat NATO gagal mengidentifikasi objek tersebut dan tidak berupaya menembaknya jatuh.
Kementerian Luar Negeri Ukraina buru-buru merilis permohonan maaf, menduga kuat drone mereka nyasar ke langit Lithuania akibat gangguan perang elektronik (electronic warfare) yang dilancarkan Rusia.
“Kami meminta maaf atas segala gangguan, risiko, dan kekhawatiran yang mungkin ditimbulkan,” tulis juru bicara Kemenlu Ukraina, Heorhii Tykhyi, di X (Twitter). “Kami berkomitmen untuk berbagi semua informasi yang relevan dengan mitra kami di Lithuania untuk mengungkap keadaan sebenarnya dari insiden tersebut.”

Tinggalkan Balasan