DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI TIMUR – Masa tanggap darurat bencana gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) telah selesai. Saat ini pemerintah secara bertahap meningkatkan upaya penanganan bencana gempa bumi di wilayah itu menuju fase Post Earthquake Recovery atau pemulihan pasca bencana.

Hal tersebut tertungan dalam ‎Surat Keputusan (SK) Bupati Manggarai Timur Nomor: HK/72/Tahun 2026 yang menetapkan status transisi darurat menuju kegiatan pemulihan bencana gempa bumi Flores.

‎Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas mengatakan bahwa sejak kejadian gempa bumi M7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu pihaknya menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi sebanyak 3 kali sampai dengan tanggal 26 September 2026.

Pada masa tanggap darurat, kata Andreas, telah dilaksanakan upaya kaji cepat kondisi bencana. Upaya tersebut diikuti dengan tindakan penyelamatan dan evakuasi korban serta pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kelompok rentan dan pemulihan sarana dan prasarana vital.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama seluruh masyarakat dan unsur terkait mulai mengarahkan langkah pada upaya pemulihan kondisi masyarakat dan wilayah yang terdampak.
‎
‎Andreas menjelaskan, pada prinsipnya fase Post Earthquake Recovery yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur akan menjadi momentum penting untuk memastikan kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan secara perlahan.

Karena itu, kata dia, pemulihan tidak hanya menyangkut perbaikan sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan, tetapi juga pemulihan aktivitas sosial, ekonomi, pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta berbagai kebutuhan dasar masyarakat di 12 kecamatan.
‎
Ia pun merinci, sampai dengan akhir masa tanggap darurat, data yang dirilis oleh Pusat Data Posko Bencana Gempa Flores Kabupaten Manggarai Timur menunjukan jumlah pengungsi secara keseluruhan sebanyak 10.140 orang yang tersebar di 12 Kecamatan.

Selain itu, kerusakan infrasruktur sebanyak 31.940 unit dengan jumlah korban luka ringan tercatat 404 orang, luka berat 239 orang dan meninggal dunia sebanyak 53 orang.

“Pada masa transisi ini pemerintah daerah bersama semua unsur terkait akan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjamin termasuk air bersih, sanitasi dan hygiene, sandang, pangan, pelayanan kesehatan termasuk hunian sementara” tutur Andreas, Sabtu 3 Oktober 2026.

Lebih lanjut Bupati dua periode itu mengatakan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui tim Enumerator juga sampai saat ini masih terus melakukan pendataan dan verifikasi terhadap dampak kerusakan akibat gempa bumi. Hal tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan terkhususnya pembangunan hunian sementara yang telah dan sedang dalam proses pengerjaan.

Jumlah hunian sementara tahap I dan II, yang akan dibangun di Manggara Timur sesuai data BNPB per tanggal 2 Oktober 2026 sebanyak 2.503 unit. Saat ini sebanyak 743 unit huntara sedang dalam proses pembangunan dan 17 unit telah selesai dibangun.

Target huntara tahap pertama di Kabupaten Manggarai Timur adalah sejumlah 1.305 unit.
‎
‎Dalam fase Post Earthquake Recovery ini, lanjut Andreas, sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI, Polri, BPBD, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, serta seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan sekaligus memastikan bantuan dan intervensi dapat diterima oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan, khususnya kelompok masyarakat rentan yang membutuhkan perhatian khusus pasca gempa bumi.

“Kaum rentan seperti disabilitas, ODGJ, nifas, bumil, balita, bayi dan kelompok lansia yang mencapai total 10.025 dari jumlah penduduk 345.826 perlu diperhatikan serius pada fase Post Earthquake Recovery ini” ungkapnya.
‎
‎Di sisi lain, perhatian terhadap kondisi psikososial masyarakat juga menjadi bagian penting dalam fase pemulihan.

Sebab, menurut Andreas, bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap rasa aman dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, pendampingan dan penguatan kembali semangat masyarakat untuk bangkit menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemulihan.
‎
Lantas Andreas pun menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, tenaga, maupun perhatian selama masa penanganan bencana.

“Kebersamaan dan gotong royong yang telah ditunjukkan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi situasi bencana selama ini. Secara pribadi dan atas nama pemerintah saerah, saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu dan mendukung Manggarai Timur terutama pada masa tanggap darurat” kata Andreas.

“Kami dapat merasakan bahwa kami tidak sendiri, selalu ada orang-orang baik yang tulus bersama kami” tambah dia.

Reporter: Berto Davids