DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI TIMUR – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan melakukan deteksi dini terhadap masalah kejiwaan kepada para penyingas gempa di wilayah itu. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pendampingan pemerintah terhadap masalah psikososial yang kemungkinan bisa diderita oleh para penyintas selama berada di posko.

Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas mengatakan, penanganan kesehatan jiwa membutuhkan pendekatan menyeluruh dengan mengintegrasikan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Ia pun menegaskan agar semua lintas sector di Kabupaten Manggarai Timur bergerak maksimal sesuai dengan tugas. Peran setiap instansi memberi pemahaman tentang buruknya stigma dan pentingnya memastikan Orang Dengan masalah Kejiwaan (ODMK) sangatlah penting dilakukan sejak dini.

Karena itu Andreas mengarahkan agar tim dari perangkat daerah bisa bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memperhatikan kondisi psikososial para penyintas gempa.

“Para penyintas gempa perlu mendapat perhatian. Kondisi di pengungsian dengan segala beban yang dihadapi tentu tidak mudah, karenanya saya minta mereka harus dideteksi dini terkait masalah kejiwaan dan juga diberikan obat-obatan serta pendampingan” kata Andreas, Kamis 1 Oktober 2026.

Dalam Rapat Kordinasi Lintas Sector Pengendalian Kesehatan Jiwa Tingkat Kabupaten Manggarai Timur telah disepakati agar peran lintas sector diperkuat lagi untuk segera mungkin melakukan deteksi dini kepada para penyintas gempa yang mungkin mengalami gangguan kejiwaan atau ODMK.

Selain penanganan ODMK, penanganan ODGJ di Kabupaten Manggarai Timur masih menghadapi berbagai kendala. Menurut Andreas, masalah yang dihadapi dalam penanganan kejiwaan adalah kurangnya obat-obatan dan tenaga kesehatan terampil yang mampu mendampingi ODGJ maupun ODMK.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur mencatat, jumlah ODGJ pada tahun 2026 sebanyak 783 orang. Dari jumlah tersebut 715 orang telah tertangani melalui pemberian obat, sedangkan 51 orang masih dipasung dan satu orang lainnya sudah bebas dari pasung.

Reporter: Berto Davids