DIKSIMERDEKA.COM, KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong kemandirian energi listrik untuk dua Kabupaten di Flores, yakni pengembangan potensi energi bersih panas bumi di Poco Leok Kabupaten Manggarai dan Wae Sano Kabupaten Manggarai Barat

Menurutnya, NTT punya potensi energi terbarukan yang besar. Karena itu energi harus hadir andal, terjangkau, dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat.

Pemenuhan kebutuhan listrik, kata Gubernur Melki, akan menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat yang tinggalnya di wilayah Kepulauan di Provinsi NTT yang berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui UMKM.

“Bagi masyarakat pulau-pulau kecil (NTT), ukurannya sederhana: listrik menyala, anak bisa belajar, puskesmas bisa menyimpan obat, dan UMKM bisa bekerja dengan biaya yang terjangkau” ungkapnya.

Ia berkata, dalam pengembangan potensi energi panas bumi tentu harus membawa dampak positif yang berimbang pada aspek kualitas layanan. Artinya transisi energi harus memperbaiki kualitas layanan listrik.

Lebih lanjut ia mengatakan, pengembangan panas bumi di Flores perlu berjalan terus sambil menghormati masyarakat, tanah, air, dan ruang hidup mereka.

“Harus disesuaikan dengan potensi dan karakteristik lokal di setiap daerah agar efektif dan tepat sasaran” kata dia.

“NTT adalah provinsi kepulauan. Tidak mungkin satu resep energi cocok untuk semua pulau. Kita membutuhkan solusi yang sesuai dengan karakter Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, dan pulau-pulau kecil lainnya,” tambah dia.

Terkait rencana pengembangan potensi panas bumi Poco Leok dan Wae Sano, ia menyebut pihaknya membutuhkan kegiatan sosialisasi yang berkelanjutan dan intens kepada masyarakat.

“Khusus untuk panas bumi di Poco Leok dan Wae Sano, saya percaya satu hal, kepercayaan tidak lahir dari satu kali sosialisasi,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan potensi panas bumi untuk menjawab kekhawatiran masyarakat serta memastikan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar rencana pembangunan.

“Warga harus didengar sejak awal. Data harus terbuka. Persoalan tanah dan hak masyarakat harus jelas. Dampak terhadap air dan lingkungan harus dapat dipantau dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar harus nyata,” jelasnya.

Transisi energi juga harus membuka peluang baru bagi NTT mulai dari usaha tenun, pertanian, perikanan, pariwisata, penyediaan air, hingga tumbuhnya tenaga kerja dan teknisi lokal.

“Jadi, bagi saya, pertanyaannya bukan hanya berapa megawatt energi terbarukan yang bisa kita bangun. Pertanyaan yang lebih penting setelah energi itu hadir, apa yang berubah dalam kehidupan rakyat?,” pungkasnya.

Reporter: Berto Davids