Dinas Koperasi dan UKM Bali Kurasi 35 UMKM Ramah Lingkungan Lewat Tumbuh Anugraha
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali menggelar Tumbuh Anugraha 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang tidak hanya mampu mengembangkan usahanya, tetapi juga menerapkan inovasi dan praktik usaha ramah lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program yang digagas Pemerintah Provinsi Bali untuk mendorong pertumbuhan UMKM melalui pendampingan, pembinaan, serta kurasi terhadap usaha yang memiliki perhatian terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan.
Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali sekaligus Ketua Panitia Tumbuh Anugraha, Ni Wayan Mulianingsih, mengatakan usaha mikro dan kecil memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian Bali, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari omzet. Pelaku usaha juga dituntut mampu terus tumbuh, berinovasi, memberikan dampak sosial, serta menerapkan praktik usaha yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Tumbuh Anugraha memberikan ruang apresiasi kepada pelaku usaha mikro kecil di Bali yang menunjukkan pertumbuhan usaha, inovasi, pemanfaatan inovasi dan digital, serta dampak sosial dan prinsip ekonomi hijau yang berkelanjutan,” ujar Mulianingsih dalam acara Tumbuh Anugraha 2026 di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali bekerja sama dengan Konsorsium Ekonomi Hijau (KEH) Bali. Pembiayaan kegiatan bersumber dari APBD Provinsi Bali Tahun Anggaran 2026 melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.
Selain memberikan apresiasi kepada pelaku usaha yang inspiratif, Tumbuh Anugraha juga bertujuan mendorong inovasi dan kreativitas, meningkatkan kesadaran terhadap praktik usaha ramah lingkungan, serta mengidentifikasi potensi usaha yang dapat menjadi role model bisnis hijau di Bali.
“Kami juga ingin membangun jejaring dan kolaborasi untuk pengembangan usaha,” kata Mulianingsih.
Tercatat ada 35 pelaku usaha di Bali telah mendaftar dan melengkapi formulir yang disediakan panitia. Dari jumlah tersebut, dilakukan seleksi administrasi dan proses kurasi oleh tim juri. Hasilnya, ditetapkan 10 finalis terbaik yang berhak mengikuti tahapan final pitching.
Beberapa finalis yang telah diumumkan di antaranya Bali Ocean Carbon, Rumah Hijau Bali, Five Pillar Experience, Kaura Bali, Gede Jamur, Maru Bali, Mana Eart Paradise Eco Bamboo Bali, dan Membumi Project.
Pada tahap final, para peserta akan mempresentasikan perjalanan usaha, inovasi, serta komitmen terhadap keberlanjutan di hadapan dewan juri. Dari tahapan tersebut akan ditentukan empat penerima penghargaan.
Juara pertama mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp5 juta, juara kedua Rp4 juta, juara ketiga Rp3 juta, dan juara harapan memperoleh Rp2 juta.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, mengatakan Tumbuh Anugraha merupakan salah satu bagian dari program Tumbuh yang dikembangkan Pemprov Bali.
“Program Tumbuh itu adalah kita mencoba memberikan pendampingan, kemudian juga pembinaan, kemudian terakhir kita coba melakukan suatu kurasi atau kompetisi terhadap pengusaha-pengusaha UMKM yang memang concern atau fokus kepada kelestarian lingkungan,” kata Tri Arya.
Menurutnya, program Tumbuh tidak hanya mencakup Tumbuh Anugraha. Pemprov Bali juga memiliki subprogram lain, seperti Tumbuh Kompeten dan Tumbuh Digital.
Khusus Tumbuh Anugraha 2026, pendaftaran dibuka bagi pelaku UMKM yang telah menerapkan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk efisiensi atau penghematan energi dalam menjalankan usahanya.
“Ini kita laksanakan kali ini dengan mencoba membuka pendaftaran kepada pengusaha-pengusaha UMKM yang sudah melaksanakan terkait upaya untuk kelestarian lingkungan, efisiensi atau penghematan energi,” ujarnya.
Tri Arya mengatakan, selain 35 peserta yang mendaftar dalam Tumbuh Anugraha, Dinas Koperasi dan UKM Bali sebelumnya juga melakukan pembinaan terhadap sekitar 30 pelaku usaha melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT).
Para peserta dan pelaku usaha yang telah mengikuti program tersebut tetap berpeluang mendapatkan pendampingan lanjutan.
“Alumnus-alumnus dari yang mendaftar sampai yang 10 besar ini mungkin akan kita tetap dampingi terkait dengan apa yang mereka laksanakan selama ini,” katanya.
Tri Arya menjelaskan, penilaian dalam Tumbuh Anugraha tidak hanya melihat perkembangan usaha, tetapi juga bagaimana pelaku UMKM menjalankan kegiatan usahanya dengan memperhatikan aspek lingkungan.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi, penggunaan bahan yang ramah lingkungan, serta dampak kegiatan ekonomi terhadap kelestarian lingkungan.
“Dalam memproduksi, apakah mereka melakukan penghematan pemakaian energi, kemudian apakah bahan-bahan produknya ramah lingkungan,” jelasnya.
Selain proses produksi, aspek pemasaran juga menjadi perhatian. Pelaku usaha dinilai sejauh mana kegiatan bisnis yang dijalankan memperhatikan prinsip keberlanjutan dan lingkungan.
“Dampak mereka melakukan kegiatan ekonomi itu apakah minimal mengganggu kelestarian lingkungan. Hal-hal seperti ini juga mereka dalam melakukan pemasaran pun mereka mungkin banyak melakukan dengan memperhatikan terkait dengan lingkungan,” katanya.
Indikator tersebut menjadi bagian dari proses kurasi untuk menentukan 10 finalis yang kemudian mengikuti tahapan akhir Tumbuh Anugraha 2026.

Tinggalkan Balasan