Gebrakan Mendikdasmen! 32 Ribu Guru Dibiayai Kuliah S1, Gelar Sarjana di Tangan, Ngajar Jalan Terus!
JAKARTA DIKSIMERDEKA.COM – Angin segar berhembus untuk para pahlawan tanpa tanda jasa di seluruh penjuru Tanah Air! Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi tancap gas mengeksekusi program peningkatan kualifikasi akademik guru.
Tak main-main, pada tahun 2026 ini, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) memfasilitasi 32.828 guru untuk unjuk gigi melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana (S-1) dan Diploma Empat (D-4).menjelas
Kemendikdasmen lewat siaran persnya menjelaskan gebrakan yang dinamai Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru Gelombang 3 ini resmi berjalan setelah Kemendikdasmen menggandeng Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama di Jakarta, Senin (7/9) lalu.
H2: Kualifikasi Bukan Lagi Mimpi, Janji Presiden Dieksekusi
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, memastikan bahwa negara hadir untuk memoles kualitas pendidikan dari akarnya: sang guru.
“Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa baik kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kunci penting dalam membangun manusia Indonesia, terutama ditentukan dengan kualitas gurunya,” ujar Nunuk dengan nada optimis.
Ia blak-blakan menyoroti bahwa keterbatasan akses tak boleh lagi jadi halangan. Kebijakan ini adalah bentuk nyata eksekusi janji pemimpin negara untuk mengangkat derajat tenaga pendidik.
“Kualifikasi bukanlah mimpi. Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Mendikdasmen membuka kesempatan bagi guru-guru yang memiliki keterbatasan untuk bisa belajar di perguruan tinggi,” tegasnya.
Asyiknya lagi, program ini mendobrak gaya lama. Guru tak perlu pusing membelah diri antara kampus dan sekolah. Kampus LPTK penyelenggara sudah menyiapkan skema perkuliahan super fleksibel. Artinya, guru bisa kejar gelar sarjana tanpa harus menelantarkan murid-muridnya di kelas.
H2: 127 Kampus Turun Gunung Keroyokan Bangun Pendidikan
Animo guru di lapangan rupanya meledak. Untuk Gelombang 3 tahun 2026 ini saja, ada 45.660 guru yang mendaftar. Dari jumlah tersebut, 32.828 guru resmi difasilitasi. Rinciannya cukup masif: 25.936 pendidik PAUD, 3.278 guru SD, 3.391 guru SMP/SMA/SMK, serta 223 guru SLB.
Untuk menampung kekuatan besar ini, 127 LPTK—termasuk 35 kampus yang baru saja bergabung—turun gunung bergotong royong mencetak sarjana-sarjana pendidik baru.
“Perjanjian kerja sama yang dilakukan bersama Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan merupakan salah satu bentuk gotong royong dalam memajukan pendidikan. Dengan semangat kolaboratif dan bersinergi, bergerak bersama memajukan pendidikan melalui peningkatan kualitas guru,” kata Nunuk bangga.
Langkah ini juga menjadi tiket emas bagi guru untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Pemenuhan S-1/D-4 adalah syarat wajib untuk mencicipi Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan menyabet sertifikasi. Kemendikdasmen menargetkan 8.900 guru dari Gelombang 1 bisa merampungkan studi jalur afirmasi tahun ini untuk langsung ‘gaspol’ ke PPG.
H2: Awas! Jangan Cuma Kejar Selembar Ijazah
Di balik program mentereng ini, Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (Dir. Guru PAUD dan PNF), Saiful Bari, melontarkan data yang bikin miris sekaligus memacu semangat. Masih ada ratusan ribu anak didik yang diajar oleh guru dengan kualifikasi di bawah standar.
“Berdasarkan data Dapodik, sebanyak 174.520 guru belum memenuhi kualifikasi akademik S-1/D-4, dan sebagian besar berasal dari Guru PAUD dan SD. Artinya, ratusan ribu anak didik kita masih belajar bersama guru yang perlu kita dukung untuk meningkatkan kompetensinya,” sentil Saiful.
Ia pun tak lupa memberikan salut kepada pihak kampus yang ikut andil memecahkan masalah pelik ini. “Apresiasi yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penyelenggara Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru atas dukungan dan kerja samanya. Kehadiran Ibu/Bapak hari ini menunjukkan komitmen kita bersama untuk menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua anak Indonesia,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Nunuk Suryani memberikan warning keras agar program ini tidak sekadar jadi ajang perburuan selembar ijazah belaka.
“Program ini bukan hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi lebih jauh mendukung upaya dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Tak hanya kualifikasi yang terpenuhi, namun juga meningkatnya kompetensi guru dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar di kelas,” pesannya tajam.

Tinggalkan Balasan