BMKG: Aktivitas Gempa Flores Menurun, tapi Belum Sepenuhnya Berakhir
DIKSIMERDEKA.COM, KUPANG – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat saat ini sudah 14.857 kali gempa susulan mengguncang wilayah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca gempa bermagnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
Meski demikian, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang, Arief Tyastama mengatakan bahwa aktivitas kegempaan tersebut mengalami tren penurunan yang konsisten.
Arief menjelaskan, berdasarkan pemantauan BMKG hingga 12 September 2026 pukul 06.00 WITA gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2 terjadi sebanyak 185 kali gempa dirasakan, sementara gempa dengan magnitudo di atas 5 tercatat sebanyak 38 kali kejadian.
“Berdasarkan grafik mingguan, jumlah gempa susulan terus mengalami peluruhan, dari 5.011 kejadian pada minggu pertama, 4.267 pada minggu kedua, 3.160 pada minggu ketiga, dan 2.421 kejadian pada minggu keempat” jelas Arief, Senin 14 September 2026.
Ia mengingatkan bahwa aktivitas gempa susulan belum sepenuhnya berakhir sehingga BMKG masih terus melakukan pemantauan secara berkelanjutan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa serta tetap mewaspadai kemungkinan gempa susulan” ucapnya.
Di samping itu Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong kebijakan pemulihan masyarakat terdampak di 6 Kabupaten.
Selain memastikan kebutuhan tanggap darurat, Pemprov NTT akan mulai menyiapkan berbagai langkah kebijakan untuk mendukung pemulihan masyarakat.
Gubernur NTT, Emanuel Melky Laka Lena mengatakan, saat ini pemerintah sedang mengupayakan relaksasi utang bagi masyarakat terdampak pada bank maupun koperasi.
Tak hanya itu, pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang berasal dari enam kabupaten terdampak pada perguruan tinggi di seluruh Indonesia juga masuk dalam upaya yang sedang ditangani oleh pemerintah.
Dukungan dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi yang diusulkan berdasarkan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) juga masuk dalam rencana kerja pemerintah ke depan.
Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut harus dipersiapkan secara terukur agar penanganan tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir, tetapi berlanjut pada pemulihan kehidupan masyarakat dan pembangunan kembali wilayah terdampak.
Reporter: Berto

Tinggalkan Balasan