DIKSIMERDEKA.COM, NTT – Di sebuah tenda sederhana beratapkan terpal BNPB, Anselmus Saman duduk termenung mengenakan celana training, switer putih dan topi koboi di kepala. Rupanya ia sedang berada di tenda pengungsian sejak gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang enam Kabupaten di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu.

Anselmus memilih membawa keluarganya untuk menggungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir dengan ancaman gelombang tsunami.

Disambangi diksimerdeka.com, Minggu 13 September 2026, Anselmus sedang duduk termenung dengan sebatang rokok di tangannya, tatapan matanya terlihat layu, raut wajahnya lirih seakan sedang merefleksikan peristiwa maut yang dialaminya tiga pekan lalu merupakan pertolongan Tuhan yang memberinya keselamatan.

Anselmus sehari-hari bekerja sebagai seorang nelayan yang melaut di Pantai Nanga Banda, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. Ia selamat dari gelombang besar usai gempa berkekuatan 7,7 mengguncang pesisir utara pagi itu.

Kepada diksimerdeka.com, Anselmus berkisah, pada tanggal 15 Agustus sekitar Pukul 05.45 WITA ia sedang menarik jaring ke atas perahu kecilnya, kebetulan semalam ia memutuskan tidur di perahu.

Ilustrasi gelombang besar

Hari mulai membuka pagi, matahari belum sepenuhnya terlihat, Anselmus bangun dari perahunya dan bergegas menarik jaring, namun belum sampai 30 menit ia melakukan aktivitas itu gempa berkekuatan tinggi tiba-tiba datang mengguncang hingga perahunya pun bergerak tak biasa.

Saat itu Anselmus sempat menoleh ke daratan untuk berlari menyelamatkan diri, namun pasir yang ada di pesisir daratan pantai Nanga Banda pagi itu diterpa angin kencang hingga mendadak berhamburan ke atas langit seakan memberi tanda-tanda air laut akan naik.

Baca juga :  Guncangan Gempa Cianjur M5,6 Terasa Hingga ke Jakarta

Tak hanya itu, Anselmus juga mendengar suara dentuman reruntuhan bangunan di Kampung Nanga Banda yang jaraknya tak jauh dari lokasi ia melaut

“Saat gempa datang saya dalam posisi di atas perahu sedang tarik jaring, begitu mau lari ke darat menyelamatkan diri pasir tiba-tiba berhamburan ke atas, bunyi reruntuhan bangunan di Nanga Banda “tem..tem..tem” juga terasa sekali di telingah saya lalu akhirnya saya memutuskan untuk tetap bertahan di perahu” aku pria yang sehari-hari disapa Ansel ini

Ia lanjut mengisahkan, setelah gempa berhenti air laut tiba-tiba mulai surut drastis, sebuah fenomena mengejutkan yang baru ia lihat selama bertahun-tahun melaut.

Saat itu pula gelombang besar datang menyelimutinya hingga perahu yang ia naiki terombang-ambing dihantam tekanan arus gelombang yang sangat deras.

Ansel hanya bertahan dengan cara berpegangan pada kayu palang di perahu. Ia pun terseret arus gelombang bersama perahunya sampai ke muara sungai.

Beruntung dalam peristiwa maut itu Ansel diselamatkan oleh kayu pada sebatang pohon yang ada di dekat muara sungai. Kayu itu berhasil menggandaskan Ansel dan perahunya dari hempasan gelombang besar.

“Selama saya melaut baru lihat gelombang sebesar itu, menghantam saya berkali-kali hingga nyaris tak bisa bernafas. Saya hanya berpegang pada perahu supaya tidak terpisah. Puji Tuhan berkat pertolongan yang maha kuasa saya diselamatkan oleh kayu pada sebatang pohon yang ada di tepi sungai, disitu saya dan perahu kandas” tutur Ansel lirih.

Setelah selamat dari bahaya itu, Ansel pun cepat-cepat berlari ke daratan dan menuju rumahnya di Kampung Nanga Banda. Dalam perjalanan menuju rumah Ansel dihantui rasa khawatir akan keberadaan istri dan anaknya.

Baca juga :  Denpasar Gempa di Sasih Kedasa, Begini Makna Menurut Lontar

Kekhawatiran itu terus muncul saat ia melihat sebagian rumah di Kampung Nanga Banda sudah roboh dan bahkan ada yang rata tanah akibat gempa

Semua penduduk di kampung itu sudah berlari dan mengungsi ke bukit tinggi yang dinamai sebagai tempat pengungsian, yakni Bukit Barangkolong, Kelurahan Mata Air dan Bukit Golo Conggo, Desa Ruis, Kecamatan Reok.

Setibanya di Kampung Nanga Banda, Ansel mendapati rumahnya masih berdiri kokoh, ia juga mendapat kabar istri dan anaknya sudah mengungsi.

“Dari situ saya merasa legah karena telah mendapat kabar istri dan anak saya sudah mengungsi lebih dulu” ungkap Ansel.

Tak tunggu lama ia pun ikut mengungsi ke Bukit Golo Conggo dan mendapati istri dan anaknya selamat. Disitulah Ansel kembali mengisahkan peristiwa maut yang ia rasakan di laut usai diguncang gempa bermagnitudo 7,7.

“Saat itu memang setelah gempa saya saksikan sendiri gelombang besar datang menghantam dan menyeret saya, antara hidup dan mati saya pasrah kepada Tuhan” ujar Ansel.

Sampai saat ini Ansel dan keluarga masih bertahan di tenda pengungsian. Sesekali ia turun ke laut melihat perahunya yang sudah rusak masih terkandas di batang kayu.

Jaring yang ia pakai untuk menangkap ikan sudah hanyut terbawa air.

Ansel berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa satu unit perahu yang layak dan satu unit jaring untuk menangkap ikan agar ia bisa kembali melaut setelah bencana ini berlalu.

Untuk diketahui, Kecamatan Reok menduduki posisi teratas sebagai wilayah di Kabupaten Manggarai yang paling banyak menelan korban jiwa usai gempa berkekuatan 7,7 itu mengguncang NTT.

Baca juga :  Kunjungi Desa Ban, Wagub Cok Ace Beri Perhatian pada Pemulihan Trauma Pasca Gempa

Data yang diperoleh diksimerdeka.com, kurang lebih ada 12 orang di Kecamatan Reok yang meninggal dunia akibat reruntuhan bangunan setelah gempa.

Identitas sebagai berikut:

1). Resni, 21 Tahun, Perempuan, Katholik Karyawati Pepen Cell, alamat Gumbang, Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.

2). Faisal, Laki – Laki, 42 tahun, islam, Lingkungan Bari, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

3). Habibi, Laki – Laki, 7 tahun, Pelajar, Islam, Lingkungan Bari, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

4). Rulin Ahmad, Laki – Laki, 61 tahun, Islam, Tani, Alamat Kampung Batok, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

5). Hamide, Laki – Laki, 70 tahun, ( lansia ) alamat Kampung Ojang, Desa Robek, Kecamatan Reok,Kabupaten Manggarai.

6). Asia Perempuan, 76 tahun, Islam,IRT, Alamat Kampung Aji, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

7). Stefano Bernadito, Laki – Laki, 37 tahun, Katholik, Swasta, Alamat Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

8). Supriadin, Laki – Laki, Islam, 45 tahun, Nelayan, alamat Motor Pecah, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

9). Hendrikus Gampur, Laki – Laki, 31 tahun, Katholik, swasta, Alamat Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

10). Yurnina Ludis, Perempuan, 55 tahun, Katholik, IRT, Alamat Kampung Jati, Kelurahan Baru, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

11). Heliana Plate, Perempuan, 67 tahun, Katholik, Lansia, Alamat Lingkungan Naru, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

12). Yustina Mbawo, Perempuan, 39 tahun, Katholik, IRT, Alamat Komplek Pertokoan Reo, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Reporter: Berto