PP KMHDI Ajak Maknai Galungan sebagai Otonan Gumi
DIKSIMERDEKA.COM – Perayaan Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (Buda) Kliwon Wuku Dungulan, 17 Juni 2026, didorong untuk dimaknai lebih dari sekadar ritual keagamaan.
Ketua Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PP KMHDI, I Dewa Gede Darma Permana, menyerukan agar Galungan tahun ini menjadi momentum membangun kesadaran ekoteologis dan memperkuat relasi manusia dengan alam.
Menurutnya, Galungan sejatinya memiliki makna sebagai Otonan Gumi atau hari lahir Bumi, sehingga menjadi momentum reflektif untuk memulihkan kembali keseimbangan alam di tengah ancaman krisis lingkungan.

“Galungan adalah kemenangan Dharma atas Adharma. Namun di saat yang sama, kita sering abai bahwa Bumi sedang berjuang untuk bernapas. Polusi udara, alih fungsi lahan hijau, dan krisis sampah plastik adalah bentuk nyata Adharma yang melukai Ibu Pertiwi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Hindu, Otonan identik dengan penyucian diri. Filosofi itu, kata dia, seharusnya juga diterapkan kepada Bumi melalui tindakan nyata menjaga lingkungan.
Darma menilai simbol-simbol Galungan, termasuk penjor yang dihiasi hasil bumi, seharusnya tidak berhenti sebagai ornamen seremonial, melainkan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ekosistem.
“Penjor adalah simbol kesejahteraan dan keseimbangan ekologi dari akar hingga pucuk. Akan menjadi paradoks jika penjor berdiri megah, tetapi di sekitar rumah tak ada lagi pohon yang tumbuh subur atau udara sudah tercemar,” katanya.
Selain isu lingkungan, ia juga menyoroti semakin maraknya penggunaan buah impor dalam kebutuhan upacara keagamaan. Menurutnya, kondisi itu berpotensi menggerus kedaulatan petani lokal.
Ia mengkritik ironi ketika banten Galungan justru dipenuhi buah dari luar negeri, sementara hasil panen petani lokal kesulitan terserap pasar.
“Saat Galungan, penggunaan buah lokal sejatinya bukan hanya soal persembahan secara sekala, tetapi juga bentuk Yadnya sosial karena menggerakkan ekonomi rakyat. Ini momentum untuk mengurangi ketergantungan pada budaya impor,” tegasnya.
Darma mengajak umat Hindu agar mulai memprioritaskan hasil bumi Nusantara dalam setiap rangkaian upacara, sekaligus membangun kesadaran untuk menanam dan membeli langsung dari petani sekitar.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kemenangan Dharma di era modern tidak lagi hanya dimaknai sebagai pertarungan spiritual, tetapi juga perjuangan melawan kebodohan dan keserakahan terhadap alam.
Ia mengaitkan hal itu dengan ajaran dalam Lontar Sundarigama yang memaknai Galungan sebagai momentum penyatuan spiritual untuk mencapai kejernihan pikiran demi menegakkan Dharma.
“Dharma Yudha hari ini adalah menjaga lingkungan. Tanam pohon, kelola sampah, dan edukasi masyarakat harus menjadi gerakan bersama, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Ia berharap Galungan 2026 dapat menjadi titik balik perubahan perilaku umat, sehingga kemeriahan perayaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi keberlanjutan alam dan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan