DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Momentum Hari Raya Galungan yang biasanya menjadi masa panen bagi pedagang daging babi di Pasar Badung, Denpasar, justru tidak terjadi tahun ini. Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli menjelang hari raya umat Hindu tersebut.

Salah seorang pedagang daging babi, Cik Lan, mengatakan jumlah pembeli pada Galungan tahun ini tidak mengalami peningkatan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi pasar masih relatif sepi.

“Lesu sekarang pembeli,” ujarnya saat ditemui di kiosnya di Pasar Badung, Denpasar, Senin (15/6/2026).

Karena penjualan yang diperkirakan tidak terlalu ramai, Cik Lan mengaku mengurangi stok dagangannya. Jika pada Galungan sebelumnya ia menyiapkan tiga ekor babi per hari, tahun ini ia hanya menyediakan dua ekor.

Di tengah lesunya daya beli, harga daging babi justru mengalami kenaikan di tingkat pedagang. Saat ini harga daging babi di tingkat pedagang mencapai Rp85 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp80 ribu per kilogram. Sementara untuk bagian beef belly, harganya mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Baca juga :  Galungan di Tahun Politik, Ini Kata Ketua PHDI Denpasar

Menurut Cik Lan, kenaikan harga dipicu karena momentum hari raya dan meningkatnya harga babi hidup di tingkat peternak.

“Mulai hari ini naik harga babinya,” katanya.

Meski harga babi naik akibat meningkatnya permintaan menjelang hari raya, Cik Lan menilai kondisi di pasar tidak menunjukkan peningkatan transaksi yang signifikan.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Ibu Iwan. Ditemui di kiosnya di Pasar Badung, ia mengatakan penjualan pada Galungan kali ini lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya Galungan ramai, sekarang agak lesu,” ujarnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Pimpin Langsung Proses Penyedotan Air di Basement Pasar Badung

Menurut Iwan, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan pembeli adalah maraknya pedagang daging babi musiman yang berjualan di pinggir jalan.

Ia menilai sebagian masyarakat lebih memilih membeli di pedagang emperan karena harga yang ditawarkan lebih murah. Ia mengatakan selisih harga antara pedagang di pasar dan pedagang musiman tersebut bisa mencapai Rp5 ribu per kilogram.

“Mereka di sana bisa jual lebih murah, sementara kami di sini harus menyesuaikan harga karena juga menanggung biaya sewa kios,” katanya.

Karena itu, Iwan berharap ada regulasi yang dapat mengatur keberadaan pedagang musiman agar tidak berdampak pada keberlangsungan usaha pedagang di pasar tradisional.

Sementara itu, Cik Lan juga menilai fenomena pembagian daging babi oleh sejumlah pejabat dan politisi menjelang hari raya turut memengaruhi penjualan di pasar.

Baca juga :  Pasar Murah Galungan–Kuningan Libatkan 50 UMKM, Canang Ceper Jadi Primadona

Menurutnya, sebagian masyarakat yang telah mendapatkan daging gratis tidak lagi membeli daging babi dalam jumlah besar di pasar.

“Sekarang kan banyak yang bagi-bagi, sehingga mereka sudah punya daging. Mereka kesini ketika misalnya, waktu bagi-bagi tidak dapat balung. Baru mereka beli balung kesini,” terangnya.

Salah satu pegawai di Pasar Badung, I Ketut Sumarni membenarkan lesunya pembelian daging babi di pasar jelang Hari Raya Galungan.

Menurutnya, salah satu penyebab lesunya pembelian daging babi adalah marak muncul pedagang daging babi di pinggir jalan.

“Jadi yang ke pasar itu hanya pembeli partai besar saja dia. tapi kalau masyarakat mungkin sudah beli di pedagang tumpahan itu,” terangnya.

Reporter: Agus Pebriana