Perang Iran Bikin Toyota Rugi Rp60 Triliun, Harga Material dan Penjualan Terpukul
DIKSIMERDEKA.COM TOKYO-Toyota melaporkan kerugian besar akibat perang Iran yang mengguncang pasar global. Produsen mobil terbesar dunia itu menyebut konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan biaya bahan baku dan penurunan penjualan hingga menelan kerugian sekitar 3 miliar GBP atau setara rp60 triliun rupiah. Dilansir dari Media Inggris The Guardian.
Dalam laporan keuangan terbaru, Toyota mengatakan laba operasionalnya turun menjadi 3,8 triliun yen untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Perusahaan mengakui dampak perang di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap bisnis mereka.
Toyota menyebut biaya material melonjak hingga 400 miliar yen atau sekitar £1,9 miliar akibat perang Iran. Selain itu, perusahaan juga kehilangan sekitar 270 miliar yen karena penurunan penjualan di kawasan Timur Tengah, pasar yang selama ini menjadi salah satu basis kuat Toyota.
Perusahaan juga terpukul oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang disebut membebani Toyota hingga 1,38 triliun yen.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dan penutupan Strait of Hormuz disebut mengguncang industri global. Jalur strategis itu merupakan rute penting perdagangan minyak dan barang dari Timur Tengah ke Asia dan dunia.
Produsen Asia menjadi yang paling terdampak karena sangat bergantung pada ekspor dari kawasan Teluk. Lobi industri otomotif Jepang bahkan menyebut 70 persen impor aluminium Jepang berasal dari Timur Tengah. Lonjakan harga minyak juga membuat biaya produksi ban kendaraan meningkat.
Toyota memperkirakan laba perusahaan akan kembali turun untuk tahun fiskal hingga Maret 2027. Perusahaan memprediksi pendapatan operasional tahun depan hanya sekitar 3 triliun yen atau turun lebih dari seperempat dibanding tahun sebelumnya.
Chief Accounting Officer Toyota, Takanori Azuma, mengakui perusahaan sulit menutupi dampak negatif dari konflik Timur Tengah.
“Kami tidak yakin dapat sepenuhnya menutupi dampak negatif sebesar 670 miliar yen dari Timur Tengah,” kata Azuma.
Ia menjelaskan perang Iran memengaruhi hampir seluruh rantai produksi kendaraan, mulai dari biaya bahan bakar, transportasi, hingga cat dan material lain yang digunakan di pabrik perakitan mobil.
“Dampaknya terasa pada biaya bahan bakar, biaya transportasi, serta biaya cat dan material lain yang digunakan di pabrik kendaraan,” ujarnya.
Sepanjang tahun fiskal terakhir, Toyota menjual sekitar 9,6 juta kendaraan di seluruh dunia. Sekitar separuhnya merupakan mobil hybrid yang menggunakan kombinasi mesin bensin dan baterai kecil.
Penjualan global Toyota naik 2 persen, didorong pertumbuhan 9 persen di Amerika Utara. Namun perusahaan masih mengandalkan strategi hybrid dibanding kendaraan listrik penuh.
Toyota hanya menjual sekitar 600 ribu mobil listrik berbasis baterai selama setahun terakhir, meski angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan