Krisis Air Gaza Makin Gawat! Warga Terpaksa Minum Air Tercemar
DIKSIMERDEKA.COM GAZA-Di tengah konflik yang belum mereda, Gaza kini menghadapi krisis yang lebih sunyi namun mematikan: kekurangan air bersih. Serangan yang merusak infrastruktur dan menelan korban pekerja sipil memperparah situasi yang sudah rapuh.
Dalam beberapa pekan terakhir, situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk setelah serangkaian serangan menewaskan seorang insinyur air dan dua pengemudi yang bertugas mendistribusikan air kepada warga.
Kematian mereka bukan hanya kehilangan nyawa semata, tetapi juga mengganggu sistem distribusi air yang sudah berada di titik kritis. Infrastruktur sipil yang selama ini menopang kebutuhan dasar warga termasuk jaringan air bersih dan pengolahan limbah telah mengalami kerusakan masif selama lebih dari dua tahun konflik.
“Sejak awal perang, kami kehilangan sekitar 19 pekerja fasilitas air yang sedang melakukan perbaikan dan distribusi. Penargetan ini kini menjadi bagian dari realitas operasional,” ujar Omar Shatat, pejabat pengelola air di Gaza seperti yang dilansir The Guardian.
Serangan terbaru terjadi di sumur al-Zein di wilayah utara Gaza, ketika para teknisi tengah bekerja. Satu orang tewas, empat lainnya terluka, dan fasilitas tersebut mengalami kerusakan serius yang berdampak pada ribuan warga.
Empat hari sebelumnya, dua pengemudi yang bekerja untuk Unicef juga tewas saat berada di titik pengambilan air utama. Insiden ini disebut mengancam jalur distribusi air bersih bagi ratusan ribu warga.
Air Jadi Barang Mewah
Akses terhadap air bersih kini menjadi kemewahan di Gaza. Standar internasional menetapkan kebutuhan air bersih sekitar 50 hingga 100 liter per orang per hari. Namun kenyataannya, warga Gaza hanya mendapatkan sekitar 7 liter air minum dan 16 liter untuk kebutuhan domestik.
Bahkan, banyak warga tidak mencapai batas minimal 6 liter per hari untuk air layak minum.
Di tengah keterbatasan itu, harga sabun dan produk kebersihan melonjak tajam. Kelangkaan barang membuat harga meningkat dua kali lipat dalam waktu singkat.
“Krisis ini sangat besar. Permintaan tinggi, tapi pasokan sangat terbatas,” ujar seorang pedagang di Deir al-Balah.
Dampak Kesehatan Meluas
Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Tanpa akses air bersih dan sanitasi, penyakit mudah menyebar di tempat-tempat pengungsian yang padat.
“Tanpa air bersih, tanpa sabun, dan dengan kondisi tempat tinggal yang penuh sesak, ini menjadi akar dari banyak penyakit yang kami tangani setiap hari,” kata Laureline Lasserre dari Médecins Sans Frontières.
Warga pun dihadapkan pada pilihan sulit setiap hari: menggunakan air untuk minum, memasak, atau membersihkan diri.
Seorang ayah pengungsi, Omar Saada, menggambarkan bagaimana keluarganya harus bangun sejak pagi untuk mendapatkan air.
“Kami bangun sejak pukul enam pagi hanya untuk mendapatkan air. Sekarang hanya tersedia sekitar dua jam saja,” katanya.
Air yang tersedia pun tidak selalu aman. Ia mengaku air yang mereka konsumsi kerap menyebabkan sakit perut dan infeksi.
Krisis yang Terakumulasi
Kerusakan jaringan air dan instalasi desalinasi diperparah oleh keterbatasan bahan bakar dan suku cadang. Upaya perbaikan sering terhambat, bahkan harus dilakukan dengan menggabungkan komponen dari fasilitas yang rusak.
“Kami terpaksa merakit ulang bagian-bagian dari fasilitas yang hancur untuk membuat satu unit yang bisa berfungsi,” kata Shatat.
Situasi semakin berat di kamp pengungsian, di mana lebih dari satu juta orang hidup tanpa sistem pembuangan limbah yang memadai. Tangki septik sering meluap, menciptakan risiko kesehatan yang serius.
Versi Berbeda
Pihak Israel membantah adanya pembatasan terhadap pasokan air dan peralatan. Mereka menyatakan telah menyediakan suplai air melalui beberapa jalur pipa dan fasilitas desalinasi.
Namun di lapangan, warga tetap menghadapi kenyataan yang berbeda—air terbatas, sanitasi buruk, dan risiko penyakit yang terus meningkat.
Di Gaza, krisis air bukan sekadar persoalan teknis. Ia telah menjadi krisis kemanusiaan yang menyentuh aspek paling mendasar kehidupan: bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan