DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON — Pemilu di Amerika Latin kini bukan lagi sekadar urusan dalam negeri. Nama Donald Trump ikut membayangi arah politik kawasan.

Dilansir oleh CNN, Hampir 50 persen populasi Amerika Latin akan menghadapi pemilu dalam waktu dekat. Namun, dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa faktor eksternal terutama Washington yang berambisi memainkan peran yang semakin besar.


Trump Ingin Kuasai “Halaman Belakang”

Pengamat hubungan internasional Abelardo Rodríguez Sumano menilai Trump secara aktif membangun dominasi di kawasan.

“Ia berupaya menempatkan dirinya sebagai pemimpin seluruh belahan Barat. Ia mencari keselarasan; ia menginginkan kepatuhan penuh neg,” ara negara halaman belakangnya (Amerika Latin-red)ujarnya.

Menurutnya, Trump tidak mentoleransi perbedaan ideologi dengan kepentingan Amerika.


Tekanan Politik dan Ekonomi

di periode keduanya, Trump disebut meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Amerika Latin.

Baca juga :  Jaya Negara Ajak Masyarakat Aktif Sosialisasikan Tahapan Pemilu

Mulai dari kebijakan deportasi migran, intervensi terhadap Venezuela, hingga ancaman terhadap negara yang tidak memilih kandidat yang didukungnya.

Seorang pejabat Gedung Putih, Anna Kelly, membela kebijakan tersebut.

“Presiden telah berhasil memperkuat hubungan di kawasan kita sendiri untuk membuat seluruh wilayah lebih aman dan stabil,” katanya kepada CNN.


Tuduhan “Pemerasan Politik”

Namun, tidak semua pihak sepakat.

Profesor Farid Kahhat dari Peru menilai pendekatan Trump justru bersifat koersif( memaksa-red).

“Trump pada dasarnya sedang memeras para pemilih,” ujarnya.

Ia mencontohkan yang terjadi di Honduras, di mana kebijakan imigrasi AS dan ancaman penghentian bantuan dapat berdampak langsung pada ekonomi negara tersebut.


Pemilu Besar Jadi Penentu

Analis memprediksi Trump akan terlibat dalam pemilu penting di Brasil dan Kolombia.

Namun, strategi agresif tersebut bisa berbalik arah.

Baca juga :  Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Kekuasaan Presiden Dibatasi

“Intervensi yang terlalu kuat justru bisa mendorong pemilih ke arah berlawanan,” kata Sandra Borda, pengamat politik dari Universitas Andes di Bogotá.


Dukungan Selektif dan Ancaman

Trump juga disebut secara terbuka mendukung kandidat tertentu.

Ia mendukung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan diyakini akan terus mendukung kandidat yang menantang pemerintahan kiri di kawasan.

Rodríguez menilai Trump memiliki banyak alat tekanan.

“Ada banyak level yang bisa ia gunakan: diplomasi, ekonomi, tarif, bahkan intervensi militer atau operasi intelijen,” ujarnya. “Ia memiliki rentang opsi yang sangat luas.”


Pemilih Mulai Jenuh

Di sisi lain, masyarakat Amerika Latin mulai menunjukkan kelelahan politik.

Setelah bertahun-tahun berganti antara pemerintahan kiri dan kanan, pemilih kini lebih pragmatis.

“Yang paling umum bukan pergeseran ke kiri atau kanan, tetapi partai berkuasa hampir selalu kalah dalam pemilu berikutnya,” kata Kahhat.

Baca juga :  Investigasi The Guardian: Konflik Global Jadi Arena Perjudian, Jutaan Dolar Dipasang untuk Perang AS-Iran dan Rusia-Ukraina

Isu Keamanan Jadi Kunci

Lonjakan kejahatan di kawasan juga memengaruhi arah kampanye.

Model keamanan keras seperti yang diterapkan Presiden El Salvador Nayib Bukele kini menjadi referensi banyak kandidat.

“Pendekatan keras biasanya menguntungkan kubu kanan,” ujar Kahhat.


Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam geopolitik Amerika Latin. Jika sebelumnya kawasan ini relatif independen, kini tekanan eksternal—terutama dari AS—kembali menguat.

Trump tampaknya berupaya membangun kembali doktrin lama: menjadikan Amerika Latin sebagai wilayah pengaruh utama.


Pemilu di Amerika Latin kini tidak lagi sekadar soal pilihan rakyat. Di balik layar, kekuatan global ikut bermain.

Dan di tengah dinamika tersebut, satu hal menjadi jelas: pengaruh Amerika Serikat, di bawah Donald Trump, kembali menjadi faktor penentu di kawasan.