Hari Arak Bali 2026 Jadi Ajang Konsolidasi Pelaku Industri Menuju Pasar Global
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali menyelenggarakan Hari Arak Bali ke-6 pada 29 Januari 2026 di The Westin Resort Nusa Dua–Bali International Convention Centre (BICC). Perayaan ini akan menjadi ajang konsolidasi pelaku industri arak Bali.
Perayaan ini rencananya dihadiri lebih dari 500 pemangku kepentingan industri Arak dan Brem Bali. Mulai dari petani, koperasi, produsen, distributor, pelaku pariwisata dan hospitality, serta regulator dan kementerian terkait.
Di samping itu, pemerintah juga mengundang BPOM RI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, serta jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).
Sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 1 Tahun 2020, Arak & Brem Bali telah mengalami transformasi nyata dari produk tradisi yang selama puluhan tahun berada di ruang informal, menjadi produk budaya yang sah, diakui, dan berkembang sebagai bagian dari industri kreatif dan pariwisata Bali.
Hingga saat ini tercatat sudah ada 58 merek Arak & Brem Bali yang diproduksi secara legal, dinaungi oleh 18 koperasi dari berbagai wilayah di Bali. Data ini menunjukkan industri Arak & Brem Bali tumbuh sebagai ekosistem dari hulu ke hilir.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali sekaligus Penanggung Jawab Panitia Hari Arak Bali 2026, Ngurah Wiryanata, mengatakan peringatan tahun ini dirancang sebagai forum konsolidasi industri, bukan hanya sekadar perayaan.
“Hari Arak Bali ke-6 menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, menjaga konsistensi dan keamanan produksi, memperbaiki sistem distribusi, serta menyiapkan promosi terstruktur menuju pasar global,” kata Wiryanata.
Ia menjelaskan rangkaian kegiatan meliputi talkshow kebijakan dan standar produk, pameran Arak dan Brem Bali, deklarasi bersama ‘Arak & Brem Bali Goes Global’, kompetisi mixologist, serta kegiatan jejaring antar pelaku industri.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan pengembangan Arak dan Brem Bali akam diarahkan sebagai ekosistem industri yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Menurutnya, Arak dan Brem Bali kini tidak lagi hanya diposisikan sebagai produk tradisional, tetapi sebagai industri budaya yang dikelola secara modern dan bertanggung jawab.
“Pengembangan Arak dan Brem Bali harus dibangun dari hulu hingga hilir. Kehadiran off taker dan agregator menjadi bagian penting untuk menghubungkan petani, perajin, koperasi, hingga industri dalam satu sistem yang tertata,” ujar Koster.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan