Sinar matahari timur jatuh di atas batu saat sebuah pesan masuk dari salah satu grup Whatsapp, Minggu 30 November 2025. Kalimat itu seperti butiran cahaya saat Bali di ujung rangkaian Galungan dan Kuningan, hari raya yang selalu menyisakan kelembutan spiritual.

“Menolong tanpa syarat, menerima tanpa melupakan, dan memberi tanpa mengingat.” Begitu bunyi pesan itu. Sederhana tapi dalam. Menyatu dalam hening pagi berbalut aroma dupa yang mengepul dari sudut sanggah keluarga. 

Pesan itu semakin terasa dalam saat mengetahui pengirimnya adalah orang nomor satu di Pulau Dewata. Ya, pesan dari Wayan Koster, Gubernur Bali.

Pagi itu tidak sepenuhnya hening, sesekali suara burung gereja terdengar riuh saling berebut dan berbagi beras bija sisa upacara. Di tengah suasana teduh, pesan Gubernur Koster itu pun terasa menyatu dengan denyut alam. 

Baca juga :  Jelang Galungan, Distan Denpasar Cek Daging Babi di 36 Pasar

Nalar masih mencerna saat pesan kedua kembali tiba. “Proses menuju penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta, syarat mutlak mampu menghilangkan egoisme dan berbagai keterikatan.” Begitu bunyinya. Bergetar. Rasanya seperti ditampar dengan kelembutan.

Kata-kata itu membuat nalar semakin bekerja. Mengingat apapun yang memiliki asosiasi dengan rangkaian kata-kata itu. Tiap sudut ruang ingatan pun diperiksa, menarik diri untuk melihat kembali lebih dalam apa makna Galungan dan Kuningan.

Dalam pencarian itu, keselarasan antara kata-kata yang dikirim dari layar ponsel dengan keheningan di luar jendela semakin terasa, seolah keduanya saling menjelaskan dan saling meneguhkan.

Baca juga :  Jelang Galungan, Distan Denpasar Cek Daging Babi di 36 Pasar

Pesan pertama mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada pelaksanaan ritus upacara. Ia justru dimulai setelah dupa padam dan altar ditinggalkan. 

Keikhlasan tanpa syarat, kebijaksanaan untuk menerima luka tanpa dendam, serta kemurahan hati tanpa pamrih adalah ajaran yang kerap luput di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Pesan kedua mengantar pada renungan lebih dalam. Galungan dan Kuningan pada dasarnya adalah perjalanan menuju keseimbangan. Meredakan ego, menumbuhkan ketenangan, dan merawat hubungan suci antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. 

Kuncinya, penyatuan jiwa dan raga hanya mungkin ketika berbagai keterikatan dilepas satu per satu.

Baca juga :  Jelang Galungan, Distan Denpasar Cek Daging Babi di 36 Pasar

Saat dupa terakhir dan hari raya berlalu, pesan itu tidak ikut padam. Ia justru mengendap, menggema pelan, mengingatkan bahwa setelah ritual berakhir, kehidupan kembali dimulai dan di situlah letak ujian sebenarnya.

Penyucian tidak hanya hadir lewat upacara, tetapi lewat cara manusia menjalani harinya. Pesan itu menggantung lembut, bagaikan aroma dupa yang belum sepenuhnya hilang, halus, tenang, membawa kita dalam renungan. Renungan bahwa keikhlasan dan pengendalian diri adalah ibadah yang tak pernah selesai.

Dua pesan reflektif Wayan Koster itu menjadi penutup ideal rangkaian Galungan Kuningan tahun ini. Dua kalimat reflektif dari seorang gubernur yang memilih berbicara tentang nilai, bukan sekadar tentang jabatan.