DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui peningkatan akses pendidikan tinggi. Salah satu langkah strategis yang diambil yakni memperluas jangkauan Program Satu Keluarga Satu Sarjana bagi keluarga kurang mampu.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi menjadi prioritas utama. Saat ini, APK Perguruan Tinggi di Bali berada pada angka 38 persen. Koster menargetkan angka tersebut meningkat minimal menjadi 51 persen.

Baca juga :  Jalan Nasional Kembali Pulih, Warga Bajera Apresiasi Langkah Cepat Gubernur Koster

“Meski lebih tinggi dari rata-rata nasional, angka ini masih belum cukup untuk membentuk SDM Bali yang unggul dan kompetitif,” kata Gubernur Koster.

Koster menambahkan, peningkatan APK bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan pondasi penting dalam pembangunan SDM Bali Unggul.

Menurut Koster, SDM unggul tidak cukup hanya dengan kecerdasan akademis. Karakter, integritas, dan jati diri khas masyarakat Bali harus menjadi fondasi utama.

“Nilai akademik penting, tapi tidak cukup. Orang Bali harus dibangun berdasarkan nature-nya sendiri. Karakter seperti jujur, santun, tekun, ulet, dan loyal harus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Sambut Sinergi RRI Denpasar Dukung Pembangunan Bali

Ia menyebut, karakter masyarakat Bali yang kuat tersebut telah terbukti dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya melalui keberhasilan transmigran asal Bali di berbagai wilayah Indonesia.

“Diberi lahan yang sama, tapi yang paling berhasil itu transmigran dari Bali. Karena mereka ulet, cepat beradaptasi, dan tidak mudah menyerah,” terang Koster.

Koster menjelaskan, kekuatan karakter masyarakat Bali bersumber dari ajaran lokal seperti hukum Karma Pala—konsep spiritual bahwa hasil akan mengikuti perbuatan.

Baca juga :  Gubernur Koster Sapa Ribuan Umat Hindu di Puncak Dharma Santi Nyepi 2026

“Orang Bali mengedepankan kewajiban lebih dulu. Kerja dulu, baru hasil,” tegasnya.

Dengan perluasan akses pendidikan tinggi dan pembentukan karakter berbasis budaya lokal, Koster optimistis Bali mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara moral dan budaya.

“APK 51 persen itu bukan sekadar angka. Itu simbol kesiapan kita untuk bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.

Editor: Agus Pebriana