Gubernur Koster Minta Pertamina Investigasi Menyeluruh Kasus Pertalite di Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Keluhan masyarakat terkait dugaan kerusakan kendaraan akibat penggunaan Pertalite di sejumlah SPBU di Bali menjadi sorotan serius Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Gubernur Bali Wayan Koster menanggapi isu ini dengan hati-hati dan meminta agar investigasi dilakukan secara menyeluruh dan berbasis data.
“Yang terdampak dan bermasalah hanya beberapa. Belum tentu akibat bahan bakar. Kalau memang dari Pertalite, tentu jumlah yang terdampak akan jauh lebih banyak,” ujar Gubernur Koster saat menerima jajaran Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus di Jayasabha, Denpasar, Minggu (29/6/2025).
Gubernur mendorong agar investigasi dilakukan secara ilmiah dan komprehensif. “Lakukan riset dengan baik untuk menemukan penyebabnya. Bandingkan jumlah pengguna dengan jumlah kasus. Kalau memang Pertalite bermasalah, dampaknya akan luas. Meski begitu, tetap harus diantisipasi,” tegasnya.
Di samping itu, Gubernur Koster juga kembali menegaskan komitmennya terhadap transisi energi bersih di Bali. Ia menyatakan bahwa percepatan energi terbarukan merupakan harga mati untuk mewujudkan kemandirian energi di Pulau Dewata.
“Kita harus mengurangi ketergantungan dari luar. Energi ramah lingkungan seperti gas alam harus terus dikembangkan. Ini adalah visi saya untuk Bali,” tegasnya.
Program Bali Energi Bersih telah diatur dalam Peraturan Gubernur Bali No. 45 Tahun 2019, yang mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
Pemerintah juga aktif mempromosikan kendaraan listrik dan pemanfaatan panel surya di berbagai sektor, termasuk perkantoran, hotel, mal, hingga perumahan.
“Kebijakan ini juga berpengaruh pada citra pariwisata Bali. Wisatawan mancanegara sangat peduli terhadap isu lingkungan dan energi bersih,” pungkasnya.
Pertamina Tindak Cepat dan Periksa Sampel BBM
Sales Area Manager Retail Bali Pertamina Patra Niaga, Endo Eko Satryo, menjelaskan bahwa laporan pertama muncul pada 14 Juni 2025, dari sebuah bengkel di Gianyar yang melaporkan enam kendaraan mogok. Pertamina langsung merespons cepat dengan melakukan pengecekan lapangan.
“Kami segera turun ke lokasi dan mengambil sampel BBM, baik dari kendaraan konsumen, SPBU, maupun depot,” jelas Endo. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Pertalite dari SPBU dan depot memenuhi standar kualitas.
Namun investigasi belum berhenti. Sebanyak 50 sampel dari kendaraan yang terdampak masih diperiksa secara detail di laboratorium yang berkompeten.
“Kepada konsumen, kami tidak lepas tangan. Walaupun masih dalam tahap penyelidikan, kami tetap tindak lanjuti keluhan dengan membantu perbaikan kendaraan,” tambahnya.
Pertamina juga membuka layanan pengaduan di 103 SPBU dan menggandeng 31 bengkel resmi di Bali. Hingga kini, sebanyak 84 kendaraan melaporkan keluhan, dan 20 di antaranya telah menerima ganti rugi untuk biaya perbaikan, terutama pada filter bensin.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan