Pemadaman listrik total yang dialami Provinsi Bali pada Jumat (02/05/2025) memberikan pelajaran berarti bahwa Bali harus segera mencapai mendiri energi. Jika tidak, kejadian serupa dapat terjadi kembali di masa depan dan taruhanya adalah citra Bali sebagai pulau pariwisata.

Waktu baru menunjukan pukul 7 malam ketika Ibu Sarwi mulai membereskan dagangannya. Warung kecil miliknya di Jalan Ratna, Denpasar biasanya tutup pukul 9 malam, namun harus tutup lebih awal.

Pemadaman listrik hari itu yang berlangsung sejak sore hari, membuat warung Ibu Sarwi segera gelap gulita, mesin pendingin pun mati total. Di samping itu, ia juga merasa was-was tindak kejahatan mungkin terjadii.

Ibu Sarwi mengatakan bahwa sepengalamanya selama ini pemadaman hanya berlangsung dua sampai tiga jam. Tapi kali ini sudah lebih dari tiga jam tapi listrik belum menunjukan tanda-tanda kembali.

Alhasil Ibu Sarwi memutuskan menutup warungnya lebih awal dari biasanya. Ia pun belum memprediksi berapa jumlah kerugian dari pemadaman total ini.

Baca juga :  PLN Berhasil Pulihkan Kelistrikan Bali, Seluruh Pelanggan Kembali Menyala

PLN Bali mengatakan pemadaman disebabkan oleh gangguan pada kabel laut transfer Jawa-Bali. Gangguan ini menyebabkan seluruh pembangkit listrik di Bali lepas dari sistem sehingga Bali gelap gulita.

Di samping itu, pemadaman listrik juga mengakibatkan gangguan pada jaringan komunikasi dan layanan internet. Listrik secara bertahap mulai menyala pukul 9 sampai 10 malam.

Bali memiliki ketergantungan pasokan listrik dari Jawa. Berdasarkan data PLN, kebutuhan listrik di Bali pada tahun 2024 mencapai 1.157,6 megawatt (MW). Sebagian besar kebutuhan itu disalurkan melalui kabel bawah laut dari Pulau Jawa.

Kergantungan ini membuat, jika sewaktu-waktu terjadi gangguan pada jaringan interkoneksi tersebut, Bali bisa mengalami pemadaman listrik yang cukup besar, seperti hari ini.

Pemadaman listrik tentu akan berdampak bagi masyarakat Bali, terutama pada sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian Bali. Pemadaman listrik akan menggangu operasional hotel, restoran, fasilitas wisata serta layanan lainya yang membutuhkan pasokan listrik.

Baca juga :  Gangguan Kabel Bawah Laut, Bali Blackout !

Jika pemadaman berulang ini terus terjadi, maka kepercayaan wisatawan terhadap Bali sebagai destinasi kelas dunia bisa perlahan menurun. Untuk itu, penting bagi Bali mempercepat kemandirian energi.

Namun harus ditekankan bahwa kemandirian energi Bali, tidak diperoleh dari tambahan pasokan listrik dari Jawa. Jika demikian, maka Bali akan tetap rentan terjadi pemadaman. Melainkan dengan membangun dan memaksimalkan potensi sumber daya energi lokal yang berkelanjutan.

Bali sebetulnya menyimpan potensi energi terbaruan yang sangat besar. Kajian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebutkan bahwa total potensi energi terbarukan Bali mencapai 11.806 MW.

Hal Ini mencakup potensi energi surya sebesar 10.000 MW, energi angin 1.000 MW, energi panas bumi 262 MW, energi laut 320 MW, serta potensi lain seperti mikrohidro, biomassa, dan sampah. Dengan jumlah ini, Bali sebetulnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan listriknya sendiri tanpa mengandalkan pasokan dari luar.

Baca juga :  Bali Padam Total Hari ini, Mandiri Energi Mendesak Direalisasikan

Namun harus diakui, potensi sebesar itu masih jauh dari realisasi. Hingga kini, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) Bali baru mencapai 1,48%. Angka ini bahkan masih jauh dari target nasional sebesar 23% pada tahun 2025. Salah satu hambatanya adalah minimnya dukungan infrastruktur.

Untuk itu, pemerintah perlu mengambil langkah tegas dan strategis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur energi terbarukan di Bali. Sebagai penyumbang devisa pariwisata terbesar, sudah seharusnya pemerintah pusat tidak memandang Bali hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan strategis nasional yang membutuhkan dukungan penuh dalam hal ketahanan energi.

Kemandirian energi bukanlah sesuatu yang tidak bisa dicapai pulau sekecil Bali. Kemandirian energi adalah harapan yang harus diwujudkan. Hal ini bisa terwujud jika semua pemangku kepentingan mau bekerja sama mulai dari pemerintah pusat, daerah, PLN, investor dan masyaraakat. Bali tidak bisa terus bersandar pada listrik dari pulau lain

Penulis: Agus Pebriana