DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Tahun baru, beban baru. Mungkin demikian kata untuk menggambarkan kondisi yang dihadapi masyarakat Bali hari ini. Bagaimana tidak, kenaikan harga elpiji 3 kilogram (Kg) di Bali per 16 Januari 2023 kemarin, menjadi kado pahit awal tahun bagi masyarakat Bali. Alih-alih, tahun baru mendapat semangat baru, yang didapat malah beban baru. Kenaikan harga gas, yang otomatis akan menaikan biaya produksi dan akhirnya diikuti kenaikan harga barang-barang lainnya.

Pertanyaan, mengapa di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang baru mulai merangkak bangkit setelah hampir 3 tahun diterpa badai pandemi Covid-19, pemerintah justru menaikan harga gas atau elpiji, yang notabene kebutuhan pokok masyarakat dan salah satu variabel dasar pembentuk harga barang-barang lainnya? Siapa yang paling diuntungkan atas kebijakan ini?

Usut punya usut, kenaikan harga gas tabung 3 Kg atau gas melon ini ditetapkan atas usulan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi Bali. Hiswana Migas sendiri merupakan organisasi perhimpunan agen atau pengusaha yang bergerak dalam pendistribusian minyak dan gas, pelaku usaha yang bergerak untuk mendapatkan keuntungan.

Diketahui, berdasarkan usulan Hiswana Migas Bali, sejak Senin (16/1/2023) harga eceran tertinggi atau HET gas melon naik dari semula Rp 14.500 per tabung menjadi Rp 18 ribu. Naik sebesar Rp 3.500 atau persentasenya kurang lebih 25 persen. Tentu ini angka yang cukup signifikan. Mengapa, organisasi para agen penyalur gas ini minta kenaikan harga?

Menurut Ketua Hiswana Migas Bali Dewa Ananta, penyesuaian (kenaikan) harga ini bertujuan agar agen-agen punya sandaran peraturan baru (payung hukum) untuk menjual gas melon ke masyarakat. Dengan demikian tata niaga elpiji 3 kg menjadi aman dan legal. 

Dewa Ananta menyebut kenaikan harga gas melon ini didasarkan atas harga yang terbentuk sejak lama di masyarakat yakni sejak harga Rp 17 ribu hingga Rp 19 ribu di pasaran. Selain itu, kenaikan ini, katanya, didasari kondisi makro dan mikro ekonomi sekarang, khususnya pascakenaikan harga BBM. Hal ini, menurut Dewa Ananta, memicu harga-harga sparepart atau suku cadang kendaraan operasional para agen, sehingga menjadi tidak efisien lagi.

Dewa Ananta yang juga pengusaha agen elpiji dan pemilik stasiun pengisian bulk elpiji (SPBU) ini menambahkan, pengajuan penyesuaian HET ini sudah dibuatkan kajian dan dipresentasikan ke Pemprov Bali oleh akademisi independen yang diminta bantuan oleh Hiswana Migas Bali. ‘’Semuanya berdasarkan data-data aktual dan terkini. Jadi tidak ngawur. Juga referensi-referensi terkait,’’ ungkap Dewa Ananta, lewat pesan WhatsApp (WA), seperti dilaporkan denpost.id.

Namun, menurut data dan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, para agen sebenarnya sudah mendapatkan untung yang lumayan. Dari harga pokok gas melon yang diberikan Pertamina Rp 11.500 per tabung, agen menjualnya ke pangkalan Rp 13.500, sehingga agen mendapatkan untung Rp 2.000 per tabung dan ditambah transport fee atau cashback Rp 1.060 per tabung. Maka selisih total yang didapat agen menjadi Rp 3.060 per tabung. 

“Sekarang dengan HET saat ini Rp 18 ribu  harga pokok dari Pertamina tetap Rp 11.500 tapi harga dari agen ke pangkalan naik jadi Rp 16 ribu, jadinya yang didapat agen (ditambah transport fee tetap Rp 1.060 per tabung), menjadi Rp 5.560 per tabung. Katakan agen dapat kuota 10.000 tabung per hari, maka untungnya agen per hari itu Rp 55.560.000 atau Rp 1.445.600.000 per bulan,” papar sumber salah satu pemilik pangkalan di Denpasar yang menolak disebut identitasnya.

Hal ini dibenarkan oleh Iwan, salah satu pelaku tata niaga elpiji di Bali. Ia mengatakan dari segi tata niaga, sejatinya para agen elpiji di Bali sudah sangat diuntungkan. Agen elpiji sebenarnya sudah mendapat untung cukup besar. “Dengan adanya kenaikan harga sekarang menjadi Rp 18 ribu, maka untung yang diperoleh para agen tentu bisa dihitung dengan mudah. Belum lagi jika agen itu merangkap punya SPBE, bisa jadi memperoleh untung berlipat-lipat,” katanya. Lalu bagaimana kondisi masyarakat kecil atas kondisi ini? 

Masyarakat kecil makin ‘tercekik’.

Made Latri, pedagang godoh (pisang goreng), di Denpasar Timur (Dentim), Jumat (20/1/23) mengaku tak habis pikir dengan Hiswana Migas yang menaikkan HET gas melon khusus untuk di Bali. Sedangkan di daerah lain, harga gas melon masih seperti biasa. Sebelum harga gas melon naik saja, ia mengaku hanya mendapat sedikit keuntungan dari berjualan godoh. Sehingga, dengan adanya kenaikan ini, ia pun merasa usahanya semakin ‘tercekik’.

‘’Tanpa kenaikan harga gas melon saja, saya memperoleh untung sangat sedikit sebab harga pisang dan tepung juga mahal. Bagaimana nasib kami jika gas kompor penggoreng godoh harganya selangit? Kami harap pemerintah memperhatikan nasib kami, rakyat kecil,’’ ujar wanita penjual godoh ini.

Made Latri pun berharap, jika pemerintah benar-benar ingin memperjuangkan UMKM dan rakyat kecil, ketimbang pengusaha kaya, sebaiknya pemerintah segera menurunkan HET gas melon seperti semula (Rp 14.500/tabung). Hal itu perlu dilakukan karena perekonomian masyarakat Bali belum pulih benar. Selama ini rakyat (pedagang kecil) justru tengah berjuang keras memulai usaha lagi setelah hampir 3 tahun dilanda pandemi. 

‘’Jika kondisi perekonomian Bali atau nasional sudah normal, barulah dipikirkan kenaikannya. Tapi jangan terlalu tinggi juga, karena beban pedagang cukup berat. Belum lagi ketatnya persaingan,’’ tandasnya.

Pedagang kecil lainnya, yaitu Jamaludin yang sehari-hari berjualan mie ayam, mengaku sempat berpikir menghentikan jualan, karena HET gas melon sangat tinggi. Jika pemerintah mematok harga gas melon Rp 18 ribu per tabung, harga di pasaran tentu lebih tinggi, karena ada ongkos transport dan lain-lain. Harganya bisa saja antara Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung. 

‘’Mohon pemerintah peduli dengan kami pedagang kecil. Pastikan dulu perekonomian kita normal,’’ tandas Udin, panggilannya. Sedangkan pedagang kaki lima (PKL), Itun, yang menjual sosis di sekitar Alun-alun Ida I Dewa Agung Jambe, Klungkung, mengaku pasrah dengan naiknya HET gas melon. “Mau apa lagi? Saya membeli gas melon Rp 20 ribu per tabung. Dari kemarin (Senin,17 Januari 2023) kayaknya naik sebesar Rp 2.000,” ungkapnya.

Dengan kenaikan harga gas bersubsidi ini, Itun juga tidak berani menaikkan harga dagangannya. Dia justru khawatir kehilangan langganan jika sampai menaikkan harga sosis yang dia jual. Apalagi pedagang sosis di sekitar alun-alun cukup banyak, sehingga tidak mudah untuk meraup untung. “Naiknya harga gas ini pasti sangat berdampak. Yang penting, kami dapat beli gas aja. Kalau sampai langka, kami nanti ndak bisa jualan,” tandas Itun.

Sementara itu, pemilik pangkalan elpiji di Klungkung, Made Puja Darsana, mengaku banyak mendapat keluhan dari konsumen setelah adanya kenaikan harga gas melon ini. Tak jarang pula saat keliling mengantar elpiji,  Puja Darsana mendapat omelan dari para konsumen gara-gara kenaikan harga elpiji bersubsidi ini.

Namun Puja Darsana mengatakan tidak bisa berbuat banyak lantaran harga elpiji 3 Kg di tingkat agen naik dari Rp 14.500 menjadi Rp 16 ribu. Dia di tingkat pangkalan akhirnya menyalurkan gas tersebut ke masyarakat dengan HET Rp 18 ribu per tabung. “Kita saja di pangkalan menjual dengan harga Rp 18 ribu. Otomatis, warung-warung kecil pasti akan menjualnya dengan harga di atas Rp 18 ribu per tabung,” ungkap Puja Darsana.

Jika melihat kondisi tersebut, tidak sulit menyimpulkan siapa yang menari dan siapa yang menangis atas kenaikan harga gas melon ini. Tidak sulit menunjuk siapa pihak yang makin untung dan siapa yang kian buntung.