DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Perang Puputan Badung tidak hanya sekedar perang mempertahankan teritori kekuasaan, tapi lebih dari itu, perang yang terjadi 20 September 1906 silam itu merupakan simbol betapa masyarakat Bali memiliki jiwa merdeka, yang tidak sudi tunduk di bawah kekuasaan penjajah kolonial, Belanda. 

“Lebih baik mati daripada harus hidup berlutut.” Mungkin demikian pepatah yang tepat untuk mengungkapkannya. Hari ini, 20 September 2020, tepat 114 tahun berlalunya perang Puputan Badung, menjadi salah satu hari dengan momen masa lalu paling heroik dalam sejarah masyarakat Bali yang harus selalu dikenang. 

Memperingati momen bersejarah tersebut, tokoh Puri Gerenceng Denpasar, AA. Ngurah Agung, mengajak kita untuk menyelami kembali makna dari perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu, khususnya oleh Raja Pemecutan bersama rakyat Bali pada waktu itu.

Baca juga :  Perpusnas Bawa 'Kidung Bhuwana Winasa' ke UNESCO, Lontar Kuno Saksi Bisu Heroisme Srikandi Bali

“Apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita menjadi teladan yang harus dijaga dan diajarkan sampai ke anak cucu kita. Kalau dulu berjuang melawan penjajah, namun hari ini kita berjuang dengan ilmu pengetahuan untuk menjaga dan memajukan NKRI,” ucapnya.

Semangat Perang Puputan Badung ke 114, tahun 2020 ini pun mendapatkan kontekstualisasinya, mengingat rakyat Bali di 6 Kabupaten/Kota akan memilih Kepala Daerahnya dalam Pilkada serentak 9 Desember 2020 mendatang. Semangat Puputan Badung diharapkan menjadi inspirasi bagi calon yang maju dalam kontestasi ini.

Baca juga :  Perpusnas Bawa 'Kidung Bhuwana Winasa' ke UNESCO, Lontar Kuno Saksi Bisu Heroisme Srikandi Bali

Khususnya Kota Denpasar, salah satu Calon Wali Kota, Gede Ngurah Ambara Putra hadir dalam peringatan Perang Puputan Badung di Puri Gerenceng Denpasar, Minggu (20/9). Ambara Putra pun ikut melantunkan kakawin yang mengisahkan tentang perjuangan Perang Puputan Badung karya I Gusti Oka Manek.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap Ambara Putra, pihak puri memberikan kesempatan kepada Ambara untuk membubuhkan tanda tangan diatas kain berlukis tapak kaki, yang dibentangkan dari gedong puri sampai angkul-angkul sebagai simbol jejak kaki leluhur puri saat berangkat menuju Perang Puputan Badung.

Baca juga :  Perpusnas Bawa 'Kidung Bhuwana Winasa' ke UNESCO, Lontar Kuno Saksi Bisu Heroisme Srikandi Bali

Sebagai salah satu Cawali, Ambara Putra merasa ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan hari peringatan Perang Puputan ini menjadi momentum perubahan menjaga Bali. Bahkan hal itu, ia konsepkan di dalam visi-misi pencalonannya menjadi Walikota Kota Denpasar 2020.

“Program yang kami tawarkan 5P yakni, Puri, Para, Pura, Purana, Purohita yang merupakan pembentuk dari budaya ini agar bisa lebih ringan, kita harus menjaga 5P ini sebagai pedoman budaya kita. Kita juga akan meningkatkan sektor pendapatan, harus ada upaya menjaga Denpasar ini dalam sisi pemasukannya, bukan hanya pengeluarannya saja,” ujarnya. (*/sin)