DIKSIMERDEKA.COM YOGYAKARTA – Di saat bioskop-bioskop Tanah Air terus dibombardir oleh film horor yang sekadar mengumbar adegan jumpscare dan setan-setanan demi mengeruk cuan, sejarah aslinya ternyata jauh lebih bermakna. Hantu, penunggu pohon keramat, hingga siluman di mata air sejatinya bukanlah bentuk kebodohan masyarakat di masa lalu. Sebaliknya, hal itu adalah “senjata” kecerdasan lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan!

Fakta tak terduga ini dibongkar habis-habisan oleh Guru Besar sekaligus Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Suwignyo. Ia secara blak-blakan menepis anggapan miring yang menyebut masyarakat tradisional kita irasional. Di balik berbagai cerita mistis yang beredar secara turun-temurun, ada mekanisme kontrol sosial yang sangat efektif agar manusia tidak serakah merusak alam.

“Misalnya, mata air tertentu dikatakan dihuni oleh bulus putih (penjaga gaib). Siapa pun yang mencoba merusak mata air itu dipercaya akan mendapatkan akibat tertentu. Orang tetap memanfaatkan airnya, tetapi tidak berani merusak lingkungan di sekitarnya,” jelas Agus memberikan tamparan logika, Kamis (5/11/2026) dilansir dalam laman kepakaran UGM.

Menurut Agus, rekayasa pengetahuan berbalut kegaiban ini ampuh menjadi pagar batas perilaku masyarakat. Pohon besar yang dilabeli angker atau tempat jin bersemayam, pada akhirnya selamat dari tangan-tangan jahil tukang tebang liar. Artinya, ada visi konservasi alam kelas wahid di balik sebungkus mitos.

“Yang harus kita pelajari adalah mengapa orang melakukan itu. Karena percaya bahwa pohon ini dihuni oleh makhluk, konsekuensinya mereka tidak akan menebang pohon itu. Jadi, ada makna yang lebih besar dalam perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” tegasnya meluruskan stigma soal sesajen.

H2: Ironi Masa Kolonial: Penjajah Belanda Aja Pakai Isu Hantu Buat Jaga Hutan!

Saking efektifnya ketakutan masyarakat terhadap alam gaib, akal-akalan ini bahkan sampai “dibajak” oleh pemerintah kolonial Belanda. Penguasa kompeni sadar betul bahwa pelarangan hukum formal tidak akan cukup menghentikan perambahan hutan liar. Maka, diciptakanlah narasi hantu gaya baru untuk menakut-nakuti para perambah hutan.

“Pemerintah kolonial memanfaatkan model seperti ini untuk menjaga perambahan hutan secara tidak teratur oleh masyarakat setempat. Ada cerita-cerita hantu di masa kolonial yang memang diproduksi untuk mengendalikan perilaku ekspansif, misalnya pembukaan lahan secara tidak terukur,” bongkar Agus mengungkap fakta sejarah yang jarang diketahui publik.

H2: Horor Zaman Now Cuma “Jualan” Ketegangan, Kedalaman Moralnya Nol

Sayangnya, warisan budaya penjaga ekologi itu kini sudah melenceng jauh dari khitahnya. Kegaiban yang dulu sakral dan punya misi mulia menyelamatkan bumi, kini hanya dipandang sebagai komoditas murahan demi memuaskan nafsu industri hiburan, terutama perfilman.

Para sineas dan produser film dengan rakusnya mengeksploitasi kedekatan psikologis masyarakat Indonesia terhadap dunia mistis, lalu meramunya menjadi ladang bisnis yang sangat menggiurkan. Sosok penunggu tak lagi menjaga hutan, tapi dipaksa tampil di layar perak demi meraup jutaan penonton.

“Industri itu memotret potensi pasar. Artinya, ada realitas sosial. Masyarakat memang menyukai adanya ketegangan dalam suatu hiburan dan mereka lekat dengan cerita-cerita tersebut,” singgung Agus kritis. Ia juga menyoroti bagaimana setan di film-film era 70-an sering dibalut sensualitas, lalu berubah menyesuaikan selera pasar modern dengan memasukkan embel-embel tokoh agama.

“Perubahan tersebut menunjukkan bahwa industri film terus menyesuaikan karakter cerita dengan kondisi sosial dan potensi ekonomi yang berkembang,” imbuhnya.

Lantas, apakah rentetan film horor modern yang merajai box office hari ini masih punya fungsi mendidik masyarakat? Agus dengan pesimistis meragukan hal tersebut. Alih-alih membawa pesan moral soal kelestarian alam, film horor masa kini dinilai sangat dangkal dan hanya peduli urusan profit.

“Saya meragukan film horor masa kini memiliki dampak edukatif yang mendalam terhadap perilaku masyarakat, misalnya dalam hal menjaga lingkungan karena pesan moral dalam cerita dapat mengalami pendangkalan ketika berhadapan dengan pola konsumsi informasi yang semakin cepat dan pragmatis. Dampaknya mungkin tidak akan sedalam dulu ya kalau secara pedagogis secara edukatif tidak akan sedalam dulu,” pungkasnya tajam.