Negara Kacau Balau! Rekening Rakyatnya Dibekukan, Presiden Paraguay Resmi Digulingkan
DIKSIMERDEKA.COM PARAGUAY – Sebuah skandal megakorupsi dan perbankan baru saja meledak di Amerika Selatan, memicu krisis nasional yang membuat negara lumpuh total. Presiden Paraguay beraliran sayap kanan, Santiago Peña, resmi digulingkan dari jabatannya oleh Kongres dan langsung dikenakan status tahanan rumah.
Kejatuhan tragis ini bermula dari Krisis Bank Paraguay yang luar biasa parah, di mana lebih dari separuh populasi negara tersebut mendadak tidak bisa mengakses rekening bank mereka sendiri!
Petaka ini dipicu oleh pembekuan sepihak Bank Ueno setelah ditemukannya sejumlah kejanggalan fatal. Keputusan itu mengunci mati rekening milik 2,9 juta orang—sekitar 60 persen dari total populasi orang dewasa di Paraguay. Hanya dalam waktu semalam, jutaan rakyat tak berdaya. Mereka kelabakan karena uang jerih payah mereka ‘nyangkut’, sampai-sampai tak bisa membeli kebutuhan dasar seperti roti dan air minum. Penjualan ritel di seantero negeri bahkan dilaporkan anjlok parah hingga 80 persen.
Rakyat yang kelaparan dan marah pun turun ke jalan. Protes besar-besaran meletus dan berujung pada bentrokan berdarah dengan pihak kepolisian. Menghadapi amuk massa, Kongres bergerak cepat menggelar sidang pemakzulan sejak Rabu dan merampungkannya pada Jumat. Hanya beberapa menit setelah palu pemakzulan diketuk, surat perintah penangkapan terhadap Peña langsung diterbitkan.
Wakil Presiden Pedro Alliana langsung disumpah sebagai pemimpin baru. Di saat bersamaan, jaksa penuntut umum yang diiringi aparat kepolisian bersenjata lengkap mendatangi kediaman Peña. Sempat beredar rumor bahwa pria yang dikenal sebagai salah satu sekutu utama Presiden AS Donald Trump di kawasan tersebut kabur ke Argentina. Namun, pihak berwenang memastikan ia tak berkutik di rumahnya.
“Sudah dipastikan dia memang ada di dalam rumahnya. Dia secara sukarela mengizinkan petugas masuk dan bersedia mengikuti semua proses hukum,” tegas Jaksa Elena Fiore Franco kepada awak media.
Akal Bulus Sang Presiden: Jadikan Mantan Bos Bank Sebagai Gubernur Bank Sentral
Kehancuran ekonomi Paraguay ini rupanya diorkestrasikan dari Istana. Kejaksaan menuduh Peña melakukan aksi memperkaya diri secara ilegal, pencucian uang, hingga perdagangan pengaruh (influence peddling).
Modusnya bikin geleng-geleng kepala. Sesaat setelah dilantik menjadi presiden, Peña dengan mulus mengangkat Carlos Carvallo Spalding—yang tak lain adalah mantan CEO Bank Ueno—menjadi Gubernur Bank Sentral Paraguay. Tiga bulan berselang, Spalding yang kini berwenang mengatur perbankan, memberikan lampu hijau bagi Bank Ueno untuk berubah menjadi bank digital. Lewat karpet merah inilah, Ueno menjelma menjadi salah satu bank terbesar di Paraguay hanya dalam waktu singkat.
Uang haram pun mengalir deras. Bank ini melakukan ekspansi ugal-ugalan, mempermudah buka rekening, dan mengiming-imingi nasabah dengan bunga jauh di atas harga pasar. Tak cukup sampai di situ, dana pensiun publik yang dikelola negara juga ‘dirampok’ untuk disuntikkan ke bank tersebut. Diperkirakan, dana negara dan dana pensiun rakyat senilai US$ 800 juta hingga US$ 860 juta (sekitar Rp 13 triliun) mengalir masuk ke kantong Ueno.
Pengamat politik Hugo Duarte membongkar betapa terang-terangannya kongkalikong ini. “Karena Ueno mendapat restu dari kursi kepresidenan, sebagian besar dana pensiun yang dekat dengan pemerintah akhirnya didepositokan ke bank tersebut,” beber Duarte.
Keterlibatan Peña makin nyata. Ia diketahui mengantongi saham senilai US$ 1 juta di perusahaan yang nantinya menjadi Ueno Holding (induk Bank Ueno) pada tahun 2019. Saham itu baru ia lepas pada April 2025 saat ia sudah menjabat presiden, dengan dalih ia hanya sekadar “investor”. Kini, surat perintah penangkapan juga telah dikantongi aparat untuk meringkus Spalding.
Coba Mundur Demi Hindari Jerat Hukum
Sadar posisinya di ujung tanduk dan ditinggalkan oleh partainya sendiri, Peña yang merupakan ekonom berusia 47 tahun itu sempat mencoba mengambil langkah licik. Pada hari Kamis, ia mengajukan pengunduran diri. Tujuannya satu: mempertahankan hak istimewa hukum bagi mantan presiden yang otomatis diangkat menjadi ‘Senator Seumur Hidup’ di Paraguay, sehingga ia kebal hukum.
Namun, Kongres sudah muak. Mereka menolak mentah-mentah pengunduran dirinya dan memaksanya diadili lewat peradilan biasa layaknya warga negara biasa. Sadar dirinya kalah telak, Peña yang tak berani menampakkan batang hidungnya di sidang pemakzulan Kongres hanya bisa curhat lewat media sosial.
“Saya pamit dengan rasa syukur, seraya menyadari sepenuhnya penderitaan mereka yang kini sedang menunggu jawaban,” tulisnya, merujuk pada nasabah Bank Ueno yang uangnya raib.
Skandal ini sukses menorehkan tinta hitam dalam sejarah modern Paraguay. Senator dari kubu oposisi, Rafael Filizzola, dalam sidang pemakzulan mengutuk keras kejahatan struktural ini. Ia menyebut tragedi ini sebagai “salah satu skandal korupsi terbesar sejak kembalinya demokrasi” dan “penipuan terbesar yang dilakukan dari kekuasaan politik di era demokratis.”

Tinggalkan Balasan