DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Angka penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun drastis pada tahun 2026.

Berdasarkan data Puskesmas Kota Ruteng, jumlah kasus DBD pada tahun 2024 mencapai 90 kasus. Angka tersebut menurun menjadi 34 kasus pada tahun 2025 dan kembali turun drastis menjadi 3 kasus pada tahun 2026.

Meski demikian, Puskesmas Kota Ruteng tetap menyiapkan inovasi pelayanan kesehatan bertajuk Circle Emas atau Siaran Keliling Edukasi Masyarakat sebagai langkah strategis mencegah lonjakan kasus DBD.

Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD sekaligus memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi langsung ke lingkungan warga.

Petugas Penanggung Jawab DBD Puskesmas Kota Ruteng, Riny, mengatakan penurunan tersebut merupakan perkembangan positif dalam upaya pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Kendati angka kasus mengalami penurunan signifikan, pihaknya tidak ingin masyarakat lengah, terlebih, saat ini memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Sementara itu Kepala Puskesmas Kota Ruteng, drg. Margaretha Irmana Baung, menjelaskan bahwa salah satu strategi yang disiapkan adalah inovasi Circle Emas.

Melalui inovasi tersebut, kata Irmana, petugas kesehatan akan melakukan edukasi secara keliling dengan memanfaatkan data kasus DBD pada tahun-tahun sebelumnya sebagai dasar menentukan waktu pelaksanaan sosialisasi.

“Dengan demikian, edukasi kepada masyarakat dapat dilakukan lebih awal sebelum memasuki periode yang berpotensi mengalami peningkatan kasus” jelas Irmana, Kamis 5 Nopember 2026.

Selain inovasi Circle Emas, Puskesmas Kota Ruteng juga terus mengintensifkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan Sabtu Bersih di setiap Kelurahan.

Edukasi mengenai penerapan 3M Plus juga terus dilakukan melalui petugas promosi kesehatan di berbagai posyandu.

Irmana berkata, gerakan 3M Plus meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Selain itu, langkah plus dilakukan dengan berbagai upaya tambahan, seperti menggunakan kelambu, memasang kawat kasa, serta menggunakan losion antinyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk.

Pihak puskesmas berharap keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempertahankan tren penurunan kasus DBD.

Reporter: Berto Davids