DIKSIMERDEKA.COM ASUNCION – Kena batunya! Presiden Paraguay berhaluan sayap kanan, Santiago Peña, akhirnya mengibarkan bendera putih alias mengundurkan diri pada Kamis waktu setempat. Langkah mundur ini diambil setelah ia tersangkut Skandal Bank Digital yang memicu krisis politik dan finansial parah hingga meruntuhkan sistem perbankan nasional dalam beberapa hari terakhir.

Pusat gempa krisis ini ada pada Skandal Ueno Bank. Di bawah era kekuasaan Peña yang singkat, bank digital yang awalnya tidak dilirik ini mendadak disulap menjadi salah satu raksasa pemberi pinjaman terbesar di negara itu. Klaimnya tak main-main: mereka memegang rekening dari 60 persen populasi orang dewasa di Paraguay.

Namun, bom waktu itu meledak. Senin (2/11/2026) lalu, bank sentral Paraguay memerintahkan Ueno Bank ditutup karena bangkrut (insolvensi). Akibatnya sangat brutal: tabungan 3 juta nasabah dibekukan total. Ratusan ribu keluarga awam menjerit karena tak punya uang sepeser pun untuk sekadar membeli lauk-pauk dan kebutuhan harian. Massa langsung tumpah ruah ke jalanan melakukan protes besar-besaran, sementara sejumlah bos bank digiring ke penjara.

Peña (47), sang ekonom yang baru berkuasa sejak Agustus 2023 dan seharusnya menjabat hingga 2028 ini, akhirnya tak kuat menahan tekanan pemakzulan yang mendapat dukungan masif dari berbagai pihak.

“Rekan senegara yang terhormat, hari ini saya berbicara kepada Anda di salah satu momen paling sulit dalam hidup saya. Dengan hati yang tertuju pada Paraguay dan dengan keyakinan bahwa republik kita harus selalu berada di atas orang atau keadaan apa pun, saya telah memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri saya sebagai presiden republik,” ujar Peña dalam sebuah tayangan video.

H2: Dari Promo Sembako Hingga ‘Nilep’ Uang Pensiunan

Jejak rekam Ueno Bank sebenarnya berawal dari perusahaan pembiayaan kecil di era 1970-an. Pada 2021, mereka dicaplok oleh Grupo Vázquez, salah satu konglomerasi raksasa Paraguay. Ajaibnya, di akhir 2023—tepat saat Peña sudah berkuasa—bank ini langsung mendapat karpet merah dari bank sentral untuk beroperasi sebagai bank digital.

Mereka jor-joran membakar uang. Ueno Bank memikat rakyat kecil dengan promo cash-back sembako yang tak masuk akal, hingga menjadi sponsor utama tim nasional sepak bola Paraguay. Saking kacaunya situasi saat ini, para pemain timnas sampai merilis surat terbuka yang menuntut pertanggungjawaban tegas dari pemerintah.

Boroknya makin tercium saat terungkap bahwa bank ini ‘dipercaya’ mengelola dana antara USD800 juta hingga USD850 juta (belasan triliun rupiah) yang berasal dari entitas negara dan dana pensiunan rakyat. Konflik kepentingan langsung disorot tajam karena Peña sebelumnya tercatat memiliki saham di Ueno Holding.

Peña sempat ngeles. Ia berdalih bahwa sebagai ekonom, itu murni hanya sebuah “investasi” dan sahamnya sudah dilepas. Saat pers lokal membongkar dugaan nepotisme di balik mengalirnya duit negara ke bank tersebut, Peña justru menuding hal itu sebagai “kampanye media palsu” untuk menggoyang pemerintahannya. Namun, desas-desus menyebut Peña selama ini sengaja menutup mata atas peringatan bahaya dari bank sentral.

Oposisi tak tinggal diam. Senator oposisi Rafael Filizzola menyebut skandal ini sebagai mega-korupsi yang terstruktur.

“Penipuan terbesar yang dilakukan dari kekuasaan politik di era demokrasi … Ini adalah bank yang diciptakan dari kekuasaan politik, untuk menggunakan uang publik bagi bisnis swasta yang terhubung dengan kekuasaan politik, dengan presiden republik berada di pucuk pimpinannya,” katanya kepada radio 1020 AM.

Ditinggal Sekutu, Ancaman Bui Menanti

Palu godam bagi Peña datang dari partainya sendiri, Partai Colorado, dan mantan sekutunya, eks Presiden Horacio Cartes. Cartes secara terbuka mendukung pelengseran Peña.

“Kita tidak akan berpihak pada pencurian dana publik, swasta, dan pensiunan. Kita harus memikirkan rakyat dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi di partai Colorado. Kami mendukung pemakzulan presiden republik, Santiago Peña, untuk memulihkan tatanan kelembagaan republik,” tulis Cartes di media sosialnya.

Merasa sudah dikepung dan anggota dewan mulai menggelar debat pemakzulan, Peña merilis video pengunduran dirinya.

“Saya melakukannya demi memikirkan stabilitas negara kita, perdamaian sosial, dan perlunya melestarikan institusi demokrasi kita,” kata sang mantan presiden tersebut.

“Saya juga ingin meminta maaf kepada rakyat jika pada suatu saat saya mengecewakan mereka … Namun hari ini prioritas saya hanya satu: ketenangan pikiran rakyat Paraguay yang mempercayakan tabungan mereka pada sistem keuangan kita … Harapan terbesar saya adalah kembalinya dana-dana tersebut terjamin,” tambahnya, sembari tetap bersikeras tidak melakukan kesalahan apa pun dalam skandal ini.

Peña sendiri dikenal sebagai sekutu penting Presiden AS Donald Trump di Amerika Latin, bahkan menjadi salah satu dari sedikit pemimpin kawasan yang hadir di pelantikan kedua Trump. Ia juga kerap dipuji oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sayangnya, baik Trump maupun Rubio belum buka suara soal lengsernya ‘sohib’ mereka ini.

Kini, kursi kepresidenan Paraguay kosong dan belum jelas siapa yang akan mengisinya. Secara teori, Wakil Presiden Pedro Alliana seharusnya naik tahta. Namun ironisnya, Alliana juga dicurigai kuat ikut cawe-cawe dalam Skandal Ueno Bank, meski ia membantahnya.

Nasib Peña kini di ujung tanduk. Sejam usai pengumuman mundurnya, majelis rendah secara aklamasi meloloskan mosi pemakzulan yang kini berlanjut ke senat. Jika senat mengetok palu, Peña tak hanya kehilangan kursi, tapi juga akan dilucuti kekebalan parlementernya. Bui dan pengadilan pidana biasa sudah menanti di depan mata.