Perpusnas Bawa ‘Kidung Bhuwana Winasa’ ke UNESCO, Lontar Kuno Saksi Bisu Heroisme Srikandi Bali
JAKARTA, DIKSIMERDEKA.COM –, Sejarah perlawanan rakyat Bali melawan keangkuhan kolonialisme Belanda tak boleh hanya berdebu di rak arsip! Mengambil langkah agresif untuk merawat ingatan kolektif bangsa, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) resmi mendaftarkan naskah kuno Kidung Bhuwana Winasa (Nyanyian tentang Dunia yang Telah Lenyap) sebagai nominasi UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) 2026.
Berdasarkan siaran pers resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) manuver pengajuan ini adalah hasil kolaborasi strategis antara Perpusnas dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron di Munggu (Mengwi, Badung), serta Gria Gede Belayu di Marga (Tabanan). Tujuannya sangat jelas: memaksa dunia internasional mengakui dan merawat warisan dokumenter dari kacamata pribumi yang selama ini kerap ditenggelamkan oleh sejarah versi penjajah kolonial Belanda.
Melawan Narasi Belanda Lewat 55 Lempir Daun Lontar
Plt. Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) Perpusnas, Aditia Gunawan, mempresentasikan betapa vitalnya mahakarya ini. Menurut Aditia, Kidung Bhuwana Wināśa bukanlah sekadar karya sastra biasa.
Dalam rilis Perpusnas, Aditia menjelaskan bahwa Kidung Bhuwana Wināśa merupakan satu-satunya puisi tradisional Bali yang diketahui secara akurat mendokumentasikan intrik diplomasi, konflik, dan perlawanan berdarah yang melibatkan Bali, Lombok, serta pemerintah kolonial Belanda.
Ditulis langsung oleh tokoh Ida Pedanda Ngurah pada rentang Agustus hingga Desember 1918, naskah sakti ini terdiri atas 55 lempir daun lontar dengan 383 bait yang tersusun apik dalam empat pupuh. Keistimewaan mutlaknya terletak pada perspektif masyarakat lokal dalam merekam kegetiran pengalaman kolonialisme dan perjuangan mempertahankan kedaulatan.
Jerit Puputan dan Gugurnya Para Srikandi
Salah satu bagian paling menggetarkan dari naskah ini adalah rekam jejak keberanian kaum perempuan Bali yang tak gentar menghadapi terjangan pasukan Belanda, khususnya dalam peristiwa berdarah Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908).
Mengutip terjemahan dari salah satu bait dalam lontar tersebut, Aditia mengungkapkan fakta kepahlawanan yang luar biasa dari kaum Hawa di medan perang.
“Para perempuan maju bersama, tetapi satu per satu gugur diterjang tembakan hingga semuanya tewas,” ungkap Aditia di hadapan para delegasi.
Sebagai informasi, dalam pengajuan ke MoWCAP 2026 ini, Kidung Bhuwana Wināśa diajukan bersamaan dengan naskah Bo’ Sangaji Kai (Catatan Kerajaan Bima). Aditia menegaskan bahwa kedua pusaka Nusantara ini memiliki benang merah yang sangat kuat dalam menghadirkan perspektif peran sentral perempuan di lintasan sejarah.
“Bo’ Sangaji Kai memuat catatan tentang kedudukan dan perlindungan perempuan dalam kehidupan masyarakat Bima. Sementara Kidung Bhuwana Wināśa merekam keberanian perempuan Bali yang turut berjuang melawan pasukan kolonial,” pungkasnya menutup paparan resmi tersebut.
Melalui nominasi UNESCO MoWCAP ini, Perpusnas dan para pemangku kepentingan di Bali berharap kekayaan pengetahuan lokal tersebut tak hanya diakui, tetapi juga diabadikan sebagai ingatan kolektif yang tak ternilai bagi kawasan Asia Pasifik.

Tinggalkan Balasan