Akhir Tragis Ritel Legendaris! Berusia 188 Tahun, David Jones Australia Bangkrut Dilibas Era Belanja Online
SYDNEY, DIKSIMERDEKA.COM – Lonceng kematian berdentang keras bagi industri ritel konvensional! Jaringan toserba (department store) tertua kebanggaan Australia, David Jones, akhirnya menyerah pada kerasnya zaman. Ritel raksasa yang telah berdiri kokoh selama 188 tahun ini resmi berstatus pailit dan masuk ke dalam pengawasan kurator (voluntary administration).
Tragedi kebangkrutan perusahaan yang akrab disapa warga lokal sebagai “DJs” ini secara langsung mengancam nasib sekitar 6.000 karyawan yang kini dihantui bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
Tumbangnya sang raksasa bukanlah kejadian semalam. Selama bertahun-tahun, David Jones babak belur dihajar masalah keuangan seiring dengan berubahnya gaya hidup pelanggan yang berbondong-bondong membelot ke platform belanja online. Meski berstatus pailit, pihak kurator dari McGrathNicol memastikan bahwa 38 toko fisik dan layanan online David Jones akan tetap beroperasi sementara firma FTI Consulting meninjau masa depan perusahaan.
Menyikapi kehancuran ini, CEO David Jones, Erica Berthold, berusaha menenangkan publik.
“David Jones adalah perusahaan ikonis dan begitu banyak warga Australia memiliki cerita serta kenangan mengunjungi toko-toko DJ,” ujar Berthold. Ia juga mengklaim perusahaannya masih memiliki “rencana yang matang” untuk “menata ulang bisnis ini untuk masa depan”.
“Saya berterima kasih kepada pelanggan, anggota tim kami, dan mitra kami atas dukungan mereka yang terus-menerus kepada David Jones melewati masa ini,” tambahnya dengan nada getir dilansir dari BBC..
Lilitan Utang Sewa dan Napas Buatan dari Kurator
Borok keuangan David Jones semakin tercium jelas beberapa jam sebelum dewan direksi memutuskan menyerahkan perusahaan ke tangan kurator. Scentre Group, perusahaan raksasa pengelola pusat perbelanjaan Westfield yang menjadi tuan rumah bagi 17 toko David Jones, membongkar fakta bahwa ritel tersebut menunggak uang sewa sejak September dan Oktober, sehingga “melanggar” perjanjian sewa.
Pihak Scentre mengaku kecewa karena niat baik mereka ditolak mentah-mentah oleh Anchorage Capital Partners, firma ekuitas yang baru membeli David Jones pada tahun 2023 namun gagal membalikkan keadaan.
“Kami telah memberikan tawaran yang murah hati kepada Anchorage Capital yang akan memfasilitasi kelanjutan perdagangan David Jones dan secara mengecewakan tawaran tersebut telah ditolak oleh mereka,” bunyi pernyataan resmi Scentre.
Christopher Hill dari FTI Consulting selaku penerima mandat (receivers) membeberkan realitas pahit yang mencekik David Jones.
“Kami memahami lingkungan perdagangan ritel saat ini, biaya yang membengkak, jejak ritel yang signifikan namun ketinggalan zaman, serta tantangan rantai pasok telah mengarah pada titik ini,” terang Hill. Ia berharap penunjukan kurator ini akan memberi “ruang bernapas” bagi David Jones untuk merestrukturisasi bisnisnya.
Lonceng Kematian Sang “Harrods-nya Australia”
Bagi rakyat Australia, logo corak hitam-putih khas David Jones bukan sekadar tempat belanja, melainkan simbol prestise dan kemewahan. Bahkan, Ratu Elizabeth II saat masih berusia 27 tahun pernah menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di lantai tujuh toko David Jones cabang Elizabeth Street pada kunjungannya di tahun 1954 silam.
Pakar Pemasaran dari Business School Universitas Macquarie, Jana Bowden, menyebut keruntuhan ini sebagai “lonceng kematian” bagi format toserba konvensional.
“Ini dulunya adalah lambang kemewahan berbelanja di Australia – versi Harrods-nya orang Aussie,” kata Bowden. “Tempat di mana Anda akan pergi untuk melihat dan menjadi bagian dari kemewahan dan kegemerlapan, di mana Anda bisa mengagumi semua label mewah premium, dan merasa seolah Anda telah sukses.”
Menurut Bowden, keajaiban DJs perlahan pudar. “Orang-orang rela bepergian berjam-jam dari luar kota hanya untuk melihat jendela (pajangan) itu dan merasakan keajaibannya. Toko-toko di kota telah mempertahankan keanggunan kelas atas mereka, tetapi toko-toko di pinggiran kota sangat jauh dari harapan – mereka biasa saja, kurang menarik, dan jelas tidak ada kemewahan,” kritiknya tajam.
Kini, nasib 6.000 pekerja berada di ujung tanduk. Sekretaris Nasional serikat pekerja SDA (Shop, Distributive and Allied Employees’ Association), Gerard Dwyer, menegaskan prioritas utama serikat adalah menyelamatkan sebanyak mungkin pekerjaan.
“Kami tidak ingin melihat akhir dari David Jones, jadi mungkin ini akan menjadi model yang lebih kecil yang kemudian dibangun kembali dan melangkah dari sana,” ucap Dwyer. “Lebih kecil lebih baik daripada tidak ada David Jones sama sekali, dan David Jones yang lebih kecil nantinya bisa menangani beberapa tantangan yang jelas-jelas sedang mereka hadapi.”
Peringatan Keras: Segera Habiskan Voucher Anda!
Proses kebangkrutan ini juga berisiko memberikan kerugian masif bagi para kreditor tak berjaminan, termasuk pemasok barang yang kabarnya sudah mulai menarik produk mereka dari toko.
Di sisi konsumen, Angus Kidman dari situs perbandingan konsumen Finder melontarkan peringatan keras agar pelanggan yang masih memegang gift card (kartu hadiah) atau voucher untuk segera membelanjakannya sebelum terlambat.
“Jika bisnis ini tidak menemukan pembeli, kartu hadiah itu hampir pasti tidak akan bernilai,” tegas Kidman memperingatkan. “Toko-toko tampaknya masih menerima kartu hadiah untuk saat ini, jadi jangan tunda lagi. Hal ini juga berlaku untuk semua diskon yang Anda peroleh melalui David Jones Rewards.”
Kebangkrutan berdarah ini menandai pertama kalinya David Jones masuk dalam pengawasan kurator, setelah hampir dua abad selamat melewati berbagai gempuran zaman dan gonta-ganti kepemilikan—mulai dari melantai di bursa saham, dicaplok konglomerat asing asal Afrika Selatan (Woolworths), hingga jatuh ke pelukan ekuitas swasta yang kini terbukti gagal menyelamatkannya.

Tinggalkan Balasan