DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Fenomena kabut asap di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukan konsentrasi yang sangat pekat. Hal tersebut dipicu dari peristiwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhulta) yang terjadi di Kalimantan dan Sulawesi akhir-akhir ini.

Kabupaten Manggarai pun termasuk wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkena dampak asap secara signifikan dari peristiwa Karhulta itu.

“Saat ini wilayah NTT berada dalam sebaran kabut asap hingga memicu penurunan kualitas udara serta terganggunya pernapasan dan jarak pandang masyarakat” bunyi keterangan tertulis yang dikutip dari BMKG.

Baca juga :  All Out Gempur Karhutla! 54 Ribu Pasukan dan 64 Pesawat Diterjunkan Jinakkan Lahan Gambut

Meski demikian, Rumah Sakit Lapangan (RSL) Ruteng, Kabupaten Manggarai belum bisa memastikan fenomena kabut asap itu berdampak ke Ispa pasien atau tidak.

Menurut keterangan Staf Humas RSL Ruteng, Yohana R.D. Mari bahwa saat ini pihaknya belum bisa mengklasifikasi secara keseluruhan penyebab pasien dengan keluhan Ispa. Karena menurut Yohana pasien yang terkena Ispa tidak hanya disebabkan oleh fenomena kabut asap saja tetapi juga disebabkan oleh kondisi RSL Ruteng yang masih kotor dan berdebu semenjak kepindahannya dari RSUD Ruteng akibat bencana gempa bumi dua bulan lalu.

Baca juga :  All Out Gempur Karhutla! 54 Ribu Pasukan dan 64 Pesawat Diterjunkan Jinakkan Lahan Gambut

“Memang kita perhatikan khusus di RSL Ruteng banyak pasien dengan keluhan Ispa, tetapi hal ini bukan karena faktor kabut asap saja tetapi karena kondisi RSL yang masih berdebu, tentu ini sangat mempengaruhi pasien yang ada disini” jelas Yohana.

Berdasarkan hasil identifikasi, kata dia, keluhan Ispa tidak hanya diderita oleh pasien tetapi juga tenaga kesehatan yang bekerja ekstra di RSL Ruteng.

Baca juga :  All Out Gempur Karhutla! 54 Ribu Pasukan dan 64 Pesawat Diterjunkan Jinakkan Lahan Gambut

Khusus untuk pasien, keluhan Ispa ini banyak didominasi oleh anak-anak karena anak-anak masuk dalam kategori kelompok rentan.

“Pasien anak memang masuk kategori kelompok rentan terkena Ispa sejak masuk UGD, tetapi secara anamese atau hasil identifikasi kami belum mengklasifikasi apakah dipengaruhi oleh kabut asap atau hal lain, demikian pun tenaga kesehatan” tutur Yohana.

Reporter: Berto Davids