DIKSIMERDEKA.COM RIYADH – Jantung ibu kota Arab Saudi dibikin tak berdaya. Otoritas Saudi terpaksa menangguhkan seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional utama di Riyadh hingga Sabtu pekan depan. Keputusan drastis ini diambil setelah gelombang serangan rudal Houthi kembali membombardir wilayah tersebut, merusak fasilitas, dan merenggut satu nyawa tambahan, Selasa (13/10/2026).

Maskapai regional seperti Gulf Air dan Bahrain Air sudah lebih dulu mengibarkan bendera putih dengan membatalkan penerbangan mereka. Menurut juru bicara militer Arab Saudi, Houthi kembali menghujani kota-kota Saudi dengan rudal pada Senin kemarin.

Kepanikan sudah tak bisa ditutupi. Keputusan penangguhan di bandara tersibuk kedua di negara Teluk itu menyusul tragedi berdarah pada hari Sabtu(10/10/2026), ketika rudal Houthi menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Rekaman CCTV televisi pemerintah Saudi memperlihatkan momen mengerikan: penumpang yang tengah antre di terminal tenggelam dalam kepulan asap tebal dan tertimpa reruntuhan puing bangunan tepat saat rudal Houthi menghantam.

“Tak Ada Kata Takut” di Tengah Badai Rudal

Di tengah situasi yang mencekam, pemerintah Saudi mencoba tampil tegar dengan tetap menggelar Konferensi Energi WPC ke-25 di Riyadh demi memproyeksikan kesan bahwa situasi terkendali. Namun, faktanya berbicara lain. Sejumlah eksekutif minyak senior memilih absen atau hanya hadir secara virtual.

Dilansir The Guardian, Menteri Energi Saudi, Abdulaziz bin Salman, tampil di mimbar konferensi dengan nada menantang. Ia menegaskan, “rasa takut tidak ada dalam kamus Saudi,” sembari menyoroti ketangguhan sistem energi kerajaan dan tekad rakyatnya dalam menghadapi krisis.

Di sisi lain, Presiden dan Kepala Eksekutif Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan yang lebih realistis. Ia menyebut Saudi telah berinvestasi besar-besaran untuk melindungi pasokannya, namun menegaskan, “tidak ada negara, bahkan yang secakap dan seyakin negara kita, yang dapat mengamankannya sendirian.”

Baca juga :  Produk AS Tanpa Sertifikat Halal Masuk RI? Ini Penjelasan Akademisi

Nasser juga melontarkan peringatan tajam kepada dunia: “Pasar bisa mendiversifikasi pemasok. Mereka tidak bisa mendiversifikasi geografi […] ketika infrastruktur energi di wilayah ini ditargetkan, konsekuensinya menjangkau ekonomi di mana-mana.”

Kini, evaluasi darurat tengah dilakukan untuk mencari tahu mengapa rudal-rudal Houthi bisa dengan mudah menembus pertahanan udara Saudi yang sedang kedodoran parah. Pelajar dan pekerja kantoran bahkan disarankan bekerja dari rumah. Houthi kini makin beringas dengan menargetkan kota Khamis Mushait dan Bandara Internasional Raja Fahd di Dammam.

Ancaman Keras untuk Paman Sam: Jangan Ikut Campur!

Kelompok Houthi tidak hanya menantang Saudi. Mereka terang-terangan menggertak Amerika Serikat. Menyusul komentar Donald Trump pada akhir pekan lalu yang mengatakan akan “melihat” kemungkinan ikut campur dalam serangan Saudi, Houthi langsung merespons panas.

“Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan berunding mengenai keputusan untuk merespons, sebaliknya, akan ada respons yang cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS dan semua kepentingannya di kawasan,” tegas Mohammed Al Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, dalam wawancara dengan AFP.

Ia juga mengeluarkan peringatan keras tanpa kompromi: “semua pegawai dan pekerja di fasilitas minyak dan bandara Saudi untuk menjauh dari situs-situs ini, karena telah menjadi target yang sah”.

Sejak bulan lalu, serangan Houthi secara presisi menargetkan tangki bahan bakar di Bandara Riyadh beserta gudang afiliasinya, menghancurkan satu pesawat penumpang Airbus A320 yang sedang terparkir, dan merusak setidaknya lima pesawat lainnya.

Baca juga :  Washington Tuduh Hacker Iran Bobol Sistem Tangki BBM AS

Ke Mana Putra Mahkota MBS Saat Houthi Menyerang?

Di tengah krisis yang memuncak, Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) justru tak terlihat di depan publik sejak Selasa pekan lalu. Absennya sang pangeran mencerminkan besarnya tekanan yang ia hadapi untuk mencari jalan keluar dari perang yang terus merongrong kepemimpinannya sejak 2014. Saudi sangat butuh stabilitas untuk melepaskan ketergantungan ekonominya dari minyak, tetapi hingga kini gagal menemukan cara untuk memulihkannya di Yaman.

Di medan perang Yaman, darah terus tumpah di Taiz, kota ketiga dan provinsi terpadat. Pesawat tempur Saudi melancarkan delapan serangan terpisah terhadap setiap konsentrasi pasukan Houthi. Setidaknya 60 pejuang dari kedua belah pihak tewas pada hari Minggu saja.

Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, mengeluarkan seruan darurat untuk mencabut pengepungan Houthi, memperingatkan bahwa krisis obat-obatan akan segera melumpuhkan layanan bedah darurat dan perawatan intensif di kota tersebut.

Secara total, Houthi mengklaim Saudi melancarkan 124 serangan udara pada hari Minggu. Intelijen Saudi kini sibuk memburu Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin Houthi yang tertutup, di tengah rumor pembunuhannya. Sayangnya, Saudi tampaknya buta soal lokasi pasti keberadaannya, baik di ibu kota Sana’a maupun di markas besarnya di Saada.

Gagalnya Mediasi Iran dan Permainan Geopolitik yang Makin Liar

Di front diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mencoba membuka jalur komunikasi dengan mitranya dari Saudi, Faisal bin Farhan, untuk menawarkan diri sebagai mediator.

Menurut Mohammed al-Bukhaiti, Arab Saudi sempat menerima tawaran mediasi Iran dan mengusulkan gencatan senjata satu bulan, diikuti gencatan senjata dua minggu. Namun, Houthi menolak mentah-mentah kedua tawaran tersebut.

Baca juga :  AS–Israel Akui Rencanakan Serangan Berbulan-bulan, Bahrain Konfirmasi Pangkalan Armada Kelima AS Diserang

“Pertempuran kali ini tidak seperti para pendahulunya; arenanya tidak lagi sama, dan kartunya telah berubah. Oleh karena itu, penyelesaian yang komprehensif harus dilakukan antara Riyadh dan Sana’a (ibu kota Houthi) karena setiap hari yang berlalu dalam pertempuran ini akan memperluas cakupannya dan memperdalam kerugiannya, dan penyelesaian yang mungkin dilakukan hari ini bisa menjadi sulit atau mustahil di hari esok,” ujar al-Bukhaiti dengan nada tajam.

Hari Selasa ini, Dewan Keamanan PBB di New York dijadwalkan bersidang untuk membahas resolusi yang menetapkan Houthi sebagai organisasi teroris asing.

Di sisi lain Yaman, Aidarous al-Zubaidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC) yang diasingkan, menyerukan pasukannya untuk bertempur di semua front, sebuah manuver yang disambut baik oleh Saudi. Namun, faksi internal selatan sendiri masih retak, terutama dengan adanya tantangan dari Abd al-Rahman al-Mahrami yang memimpin Brigade Raksasa Selatan (Southern Giants Brigades).

Sementara diplomasi coba dijalin, kelompok garis keras Iran, Mohsen Rezaei, mengklaim bahwa Iran terus menyerang lima hingga enam kapal kecil di Selat Hormuz setiap malam untuk memperketat blokade demi mendongkrak harga minyak dan melemahkan Donald Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menutup konstelasi konflik ini dengan sindiran menohok soal Donald Trump. Merujuk pada perlakuan Trump terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Baghaei melontarkan kutipan sinis:

“Menjadi musuh Amerika bisa berbahaya, tetapi menjadi teman Amerika itu mematikan. Anda bisa melihat sendiri seperti apa persahabatan dan permusuhan Amerika dengan sekutu-sekutunya.”