Wilayah NTT Kena Dampak Partikulat Karhulta, Begini Imbauan BMKG untuk Warga
DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Sebaran Partikulat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhulta) di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Papua kini tembus sampai ke wilayah Indonesia bagian timur. Akibatnya wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga terkena dampak partikulat.
Stasiun Metereologi Kelas III Frans Sales Lega melalui keterangan tertulisnya menjelaskan, sebaran partikulat karhulta terkini menunjukan konsentrasi yang sangat pekat. Kondisi ini menyebabkan sebaran asap meluas secara signifikan sampai ke wilayah NTT.
“Wilayah NTT saat ini berada dalam sebaran partikulat. Hal tersebut memicu penurunan kualitas udara dan terganggunya jarak pandang di wilayah kita” bunyi keterangan tertulis itu.
Menanggapi fenomena itu Metereologi Kelas III Frans Sales Lega pun mengeluarkan beberapa imbauan untuk warga.
Untuk warga yang wilayahnya terkena dampak partikulat karhulta diminta agar selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk melindungi saluran pernapasan. Masker yang disarankan berstandar N95 atau KN95
Selain itu warga juga diminta untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan yang tidak mendesak, terutama kelompok rentan.
Warga juga diimbau untuk perbanyak mengkonsumsi air putih serta menjaga udara dalam ruangan tetap bersih dengan menutup jendela menggunakan penjernih udara
Jangan lupa pantau terus informasi cuaca dan kualitas udara dari kanal resmi BMKG.
Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Kehutanan melalui sistem SiPongi Kemenhut, terpantau ada 793 titik api (hotspot) secara nasional (per 10 Oktober 2026)
Kalimantan Selatan terdapat titik api dan perluasan lahan terbakar di Kabupaten Barito Kuala (Handil Bakti) dan daerah lainnya. Sementara Kalimantan Timur & Sulawesi kebakaran juga terdeteksi meluas di Kutai Barat (Kalimantan Timur), Mamasa (Sulawesi Barat), dan Kolaka Timur (Sulawesi Tenggara).
Hal tersebut menyebabkan terjadinya kabut asap tebal sampai wilayah NTT hingga berpotensi memperpendek jarak pandang, mengganggu penerbangan, serta keselamatan lalu lintas di darat.
Reporter: Berto Davids

Tinggalkan Balasan