DIKSIMERDEKA.COM GAZA– Sebuah foto yang memperlihatkan seorang tahanan Palestina dari Gaza dalam kondisi hanya mengenakan pakaian dalam, ditutup matanya, dan diikat menghadap ke bawah pada batang besi memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia (HAM). Mereka menilai foto tahanan palestina tersebut memperkuat laporan mengenai dugaan penyiksaan terhadap warga Palestina di dalam tahanan Israel.

Foto itu pertama kali diunggah oleh seorang tentara Israel melalui akun media sosial pribadinya dengan keterangan berbahasa Ibrani yang berarti “selamat pagi”. Unggahan tersebut kemudian dihapus, namun telah lebih dulu menyebar luas di media sosial setelah dibagikan kembali oleh seorang penulis dan aktivis Palestina yang dikenal sebagai Tamer.

Militer Israel mengonfirmasi foto tersebut merupakan gambar asli. Dalam pernyataannya, militer menyebut tindakan yang tergambar dalam foto itu tidak sesuai dengan nilai maupun aturan yang berlaku di tubuh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Pihak militer juga menyatakan telah membuka penyelidikan atas insiden tersebut.

Organisasi Physicians for Human Rights Israel (PHRI) menilai foto tersebut memperkuat ribuan kesaksian yang selama ini disampaikan para mantan tahanan Palestina.

Baca juga :  Gila! Israel Blak-blakan Minta 'Bekingan' Trump Buat Usir Warga Palestina dari Gaza

“Perlakuan yang merendahkan terhadap tahanan maupun penyebaran foto-foto yang mempermalukan mereka dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” kata Oneg Ben Dror dari Departemen Tahanan dan Narapidana PHRI dilansir The Guardian, Kamis(9/7/2026).

Menurutnya, berbagai laporan selama hampir tiga tahun terakhir menunjukkan adanya pola perlakuan yang tidak manusiawi terhadap warga Palestina yang ditahan.

Pendapat senada disampaikan Direktur Eksekutif Public Committee Against Torture in Israel, Sari Bashi. Ia mengatakan tidak ada alasan keamanan yang dapat membenarkan seorang tahanan ditahan hanya dengan pakaian dalam.

“Memaksa tahanan telanjang sebagian, kemudian memotret dan menyebarkan gambar tersebut di media sosial merupakan bentuk kekerasan seksual sekaligus dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” ujarnya.

Dua Keluarga Mengaku Mengenali Korban

Setelah foto itu viral, sedikitnya dua ibu di Gaza mengaku mengenali sosok pria dalam gambar tersebut sebagai anak mereka yang hilang setelah ditahan pasukan Israel.

Rana Abu Nasser meyakini pria dalam foto adalah putranya, Osama, yang ditangkap bersama anaknya yang masih berusia satu tahun pada Maret lalu.

Baca juga :  Konsisten Tolak Penjajahan Palestina: Koster Sejalan Sikap Prabowo Tolak Atlet Israel

“Saya mengenali detail tubuhnya. Ada pembengkakan di kaki dan bekas luka di kakinya. Itu sama seperti yang saya lihat di foto,” katanya kepada Reuters.

Sementara itu, Joudeh al-Ghoul juga mengaku yakin pria tersebut adalah putranya, Amin, yang hilang sejak ditangkap pada November 2023 saat berusaha menuju Gaza utara.

“Itu dia. Rambutnya, dagunya. Seorang ibu pasti mengenali anaknya. Saya memeluk telepon genggam dan menangis,” tuturnya.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas pria dalam foto tersebut.

Israel Selidiki Kasus

Militer Israel belum memberikan keterangan mengenai identitas tahanan, kondisi kesehatannya, maupun apakah keluarganya telah diberi informasi.

Kelompok HAM HaMoked sebelumnya melaporkan bahwa pada awal perang, militer Israel selama sekitar tujuh bulan tidak memberikan informasi mengenai keberadaan banyak warga Gaza yang ditahan. Kebijakan tersebut dinilai menyerupai praktik penghilangan paksa.

Sejak Mei 2024, Israel memang menyediakan alamat surat elektronik bagi keluarga yang ingin mencari informasi mengenai kerabat mereka yang ditahan. Namun menurut HaMoked, mekanisme tersebut belum sepenuhnya efektif karena masih banyak kasus warga Palestina yang keberadaannya tidak dapat dipastikan meski ada saksi yang menyatakan mereka telah ditangkap.

Baca juga :  Netanyahu Diam-Diam ke UEA Saat Perang Iran? Abu Dhabi Langsung Membantah

Kasus foto tahanan yang viral ini kembali memunculkan sorotan internasional terhadap perlakuan terhadap warga Palestina dalam tahanan Israel, sekaligus menambah tekanan agar penyelidikan yang diumumkan militer Israel dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Kasus ini kembali memicu perhatian komunitas internasional terhadap perlindungan hak-hak para tahanan di wilayah konflik. Sejumlah organisasi hak asasi manusia mendesak agar penyelidikan dilakukan secara independen, transparan, dan hasilnya dipublikasikan kepada publik. Mereka juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik mematuhi hukum humaniter internasional, termasuk menjamin perlakuan yang manusiawi terhadap setiap tahanan serta memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas mengenai keberadaan dan kondisi kerabat yang ditahan.

Desakan agar kasus ini diusut tuntas terus menguat. Kelompok hak asasi manusia menilai penyelidikan harus dilakukan secara independen dan transparan agar dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional tidak berhenti sebagai kontroversi, tetapi diikuti dengan pertanggungjawaban terhadap pihak yang terbukti melanggar