Trump-Iran Damai! Iran Diguyur Rp5.351 Triliun, Selat Hormuz Dibuka Kembali
DIKSIMERDEKA.COM PARIS – Trump-Iran Damai setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal. Selat Hormuz dibuka kembali dan Iran mendapat paket rekonstruksi Rp5.351 triliunPresiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara. Kesepakatan tersebut langsung berlaku setelah ditandatangani dan menjadi langkah awal menuju perjanjian damai permanen, Rabu (17/6/2026).
Salah satu poin utama dalam memorandum kesepahaman itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, penghapusan seluruh jenis sanksi Amerika Serikat terhadap Iran, serta rencana rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar atau setara sekitar Rp5.351 triliun dengan kurs Rp17.838 per dolar AS.
Penandatanganan dilakukan saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis. Trump menyebut kesepakatan tersebut diperlukan untuk mencegah krisis ekonomi global yang lebih dalam akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

“Saya tidak ingin melihat bencana ekonomi. Jika konflik ini terus berlanjut, hal itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan di sela KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis dilansir dari BBC.
Meski demikian, Trump menegaskan masih ada sejumlah isu yang harus diselesaikan dalam 60 hari ke depan, terutama terkait program nuklir Iran yang menjadi salah satu alasan utama pecahnya konflik.
Dalam dokumen yang ditandatangani kedua negara disebutkan bahwa Iran kembali menegaskan tidak akan mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir. Sebagai bagian dari kesepakatan, uranium yang telah diperkaya akan diencerkan di dalam negeri Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Sebelumnya, Washington menuntut agar seluruh material nuklir Iran dipindahkan keluar dari negara tersebut.
Kesepakatan juga mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama konflik menjadi salah satu titik panas dunia. Jalur pelayaran strategis yang mengendalikan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia itu akan dibuka tanpa biaya selama 60 hari pertama.
Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengisyaratkan kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Ia membuka kemungkinan adanya pungutan tertentu bagi kapal yang melintas setelah masa 60 hari berakhir.
“Jika musuh tidak memahami bahasa logika, kami akan kembali menggunakan bahasa kekuatan,” ujar Ghalibaf kepada media pemerintah Iran.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari setelah operasi militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior. Konflik tersebut kemudian memicu gejolak pasar energi global dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Pengumuman kesepakatan damai langsung mendapat respons positif dari pasar. Harga minyak dunia turun sekitar satu persen dalam perdagangan Asia, meski masih berada di atas level sebelum perang dimulai.
Meski demikian, kesepakatan tersebut memicu kontroversi di Amerika Serikat. Sejumlah politikus Partai Republik maupun Demokrat mengkritik rencana rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar.
Senator Republik Ted Cruz mempertanyakan skema pendanaan tersebut. Menurutnya, memberikan akses dana dalam jumlah besar kepada Iran merupakan langkah yang berisiko.
Sementara itu, pejabat Gedung Putih membantah Amerika Serikat akan menggelontorkan dana tunai kepada Iran. Pemerintah AS menjelaskan dana rekonstruksi tersebut lebih mengarah pada investasi dan proyek pembangunan yang dapat dilakukan negara-negara mitra dengan persetujuan Washington.
Trump juga menegaskan bahwa laporan mengenai pemberian dana langsung kepada Iran merupakan informasi yang tidak benar.
“Kami tidak memberikan mereka uang. Kami tidak memberikan semua itu,” tegas Trump.
Meski begitu, ia mengakui aset-aset Iran yang dibekukan selama konflik kemungkinan akan dikembalikan pada waktu yang tepat.
Dalam 60 hari ke depan, kedua negara akan melanjutkan negosiasi teknis guna mencapai kesepakatan final yang diharapkan dapat mengakhiri konflik secara permanen sekaligus menstabilkan ekonomi dan pasar energi global.
Kesepakatan ini juga dipandang sebagai salah satu perkembangan geopolitik paling penting tahun ini. Selama konflik berlangsung, ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Dengan adanya kesepakatan awal tersebut, pelaku pasar berharap distribusi energi dunia kembali normal. Namun sejumlah pengamat menilai proses menuju perdamaian permanen masih panjang karena isu program nuklir Iran, keamanan kawasan, dan hubungan Iran dengan negara-negara sekutu Barat masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan dalam perundingan lanjutan.

Tinggalkan Balasan