DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Muhammad Jumhur Hidayat memastikan PT Pertamina Patra Niaga akan bertanggung jawab atas kebocoran pipa minyak yang mereka miliki dan menyebabkan kematian pohon mangrove di Kawasan Benoa, Denpasar,

Tidak hanya pemulihan lingkungan, Jumhur yang dikenal sebagai aktivis buruh juga meminta kerugian masyarakat yang terdampak pencemaran tersebut dihitung dan diberikan ganti rugi apabila terbukti mengurangi mata pencaharian warga.

Pernyataan itu disampaikan Jumhur saat menerima laporan dan kajian dari Pendiri Gerakan Bersih-Bersih Bali, IGN Agus Norman Sasono, dalam Dialog Menteri Lingkungan Hidup bersama Masyarakat di Tukad Bindu, Denpasar, Selasa (9/6/2026).

“Saya pastikan Patra Niaga bertanggung jawab,” tegas Jumhur.

Baca juga :  Menteri LH Peringati Danone Segera Ikuti SE Gubernur Koster Soal Larangan AMDK

Dalam kesempatan itu, Jumhur langsung meminta jajaran Kementerian LH, termasuk Pusat Pengendalian Lingkungan (Pusdal) dan deputi terkait, segera menindaklanjuti laporan tersebut.

Ia mengatakan seluruh mangrove yang mati akibat kebocoran minyak tersebut dipulihkan melalui penanaman kembali, setelah area tersebut benar-benar bersih dari tumpahan minyak.

“Seluruh mangrove yang terdampak harus ditanam kembali. Kalau yang rusak satu hektare, dua hektare, atau tiga hektare, kita harus tanam lagi,” ujarnya.

Jumhur juga menegaskan pihaknya akan segera memanggil PT Pertamina Patra Niaga untuk meminta pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

“Nanti akan kami panggil Patra Niaga. Ini akan kami selesaikan, tidak sulit,” katanya.

Baca juga :  Menteri Hanif Nurofiq Turun Tangan Bersihkan Sisa Banjir di Pasar Badung dan Kumbasari

Selain kerusakan lingkungan, Kementerian LH juga akan menghitung dampak ekonomi yang dialami masyarakat sekitar, khususnya warga yang menggantungkan mata pencaharian pada kawasan pesisir dan mangrove.

“Kalau masyarakat dirugikan karena mata pencahariannya berkurang akibat tumpahan minyak di kawasan mangrove tersebut, maka kerugiannya harus dihitung dan menjadi bagian dari pertanggungjawaban,” tegas Jumhur.

Sementara itu dihadapan Menteri Jumhur, Agus Norman mengatakan mangrove yang terdampak kebocoran minyak pertamina mencapai 40-60 are. Dia berharap kasus ini segera ditangani, mengingat mangrove adalah ekosistem penting bagi keberlangsungan kawasan pesisir.

“Kita mohon ini diatensi karena pesisir ini sangat penting sekali bakaunya,” terangnya.

Baca juga :  Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung

Sebelumnya, tim peneliti dari Universitas Udayana (Unud) mengungkapkan pencemaran logam berat dan hidrokarbon sebagai penyebab utama kematian mangrove di kawasan Benoa.

Temuan tersebut diperoleh berdasarkan peninjauan menyeluruh terhadap data lapangan yang menunjukkan pola kematian tanaman terjadi dalam satu blok populasi yang sama dan tidak menyebar secara sporadis.

Dari pemeriksaan awal, peneliti tidak menemukan adanya infeksi patogen di lapangan. Tanaman diduga mati akibat faktor abiotik atau non-hayati, terutama karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak). Hal tersebut diperkuat dengan adanya pipa BBM milik Pertamina yang melintasi kawasan tersebut.

Reporter: Agus Pebriana