DIKSIMERDEKA.COM TOKYO Gempa Filipina berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Mindanao pada Senin (8/6/2026) memicu peringatan tsunami di Jepang dan membuat sejumlah sekolah serta layanan kapal feri dihentikan sementara.

Langkah antisipasi tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Pasifik Jepang. Pemerintah setempat meminta warga tetap waspada dan menjauhi pantai hingga kondisi dinyatakan aman.

Salah satu daerah yang menutup sekolah adalah Kota Yugawara di Prefektur Kanagawa yang berada di kaki Gunung Hakone. Sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menghentikan kegiatan belajar mengajar selama status peringatan tsunami masih berlaku.

Selain sektor pendidikan, layanan transportasi laut juga terdampak. Pemerintah Jepang menghentikan sementara sejumlah layanan feri yang beroperasi di perairan terdampak, termasuk di Teluk Tokyo dan kawasan Kepulauan Okinawa.

Meski demikian, layanan kereta cepat Shinkansen yang melintasi jalur pesisir masih beroperasi normal. Bandara-bandara di Okinawa juga tetap melayani penerbangan karena kondisi dinilai masih aman untuk operasional penerbangan.

Tsunami Diperkirakan Mencapai Pesisir Jepang

Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) sebelumnya mengeluarkan peringatan tsunami Jepang setelah gempa besar terjadi di wilayah selatan Filipina.

Peringatan tersebut mencakup wilayah pesisir Pasifik Jepang mulai dari Prefektur Ibaraki di timur hingga Okinawa di bagian selatan.

JMA memperkirakan gelombang tsunami dengan ketinggian maksimum sekitar satu meter berpotensi mencapai sejumlah wilayah pesisir Jepang secara bertahap.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di dekat pantai diminta tetap menjauhi area pesisir dan bersiap melakukan evakuasi apabila kondisi memburuk.

Menurut data pemerintah Jepang, sekitar 181.500 penduduk yang tinggal di hampir 96.000 rumah tangga berada di wilayah yang terdampak peringatan tsunami tersebut.

Pemerintah Minta Warga Tetap Waspada

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tidak mengabaikan potensi bahaya.

Melalui akun media sosial X, Takaichi meminta warga mengikuti seluruh arahan dari otoritas setempat dan segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila diperlukan.

Pemerintah Jepang juga menginstruksikan berbagai instansi terkait untuk terus memantau perkembangan situasi dan memastikan informasi terbaru dapat diterima masyarakat dengan cepat.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari prosedur mitigasi bencana yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Jepang dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.

Gelombang Awal Relatif Kecil

Meskipun peringatan tsunami telah dikeluarkan, gelombang awal yang terdeteksi di wilayah Okinawa hanya mencapai beberapa sentimeter.

Namun JMA menegaskan masyarakat tidak boleh lengah karena tsunami akibat gempa jarak jauh sering kali menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan tsunami lokal.

Dalam banyak kasus, gelombang pertama bukanlah yang terbesar. Gelombang susulan yang lebih tinggi justru dapat muncul beberapa jam setelah gempa utama terjadi.

Pejabat JMA, Shinji Kiyomoto, mengingatkan bahwa situasi serupa pernah terjadi pada Desember 2023 ketika gempa magnitudo 7,6 mengguncang Mindanao.

Saat itu, gelombang tsunami setinggi 40 sentimeter tercatat mencapai Pulau Hachijojima yang berada di selatan Tokyo. Peringatan tsunami bahkan baru dicabut sekitar sembilan jam setelah gempa terjadi.

Aktivitas Laut Masih Dipantau

Hingga Senin sore waktu setempat, otoritas Jepang masih terus memantau perubahan kondisi laut di berbagai wilayah pesisir.

Status peringatan tsunami Jepang belum dicabut karena para ahli masih melakukan analisis terhadap kemungkinan munculnya gelombang susulan.

Masyarakat diminta tidak mendekati pantai, pelabuhan, muara sungai, maupun kawasan rendah di dekat laut sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah.

Gempa besar yang mengguncang Filipina selatan kembali mengingatkan negara-negara di kawasan Pasifik akan tingginya risiko aktivitas seismik di wilayah Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, yang dikenal sebagai salah satu kawasan paling aktif secara geologi di dunia.

Jepang Perketat Antisipasi Bencana

Langkah cepat yang diambil pemerintah Jepang menunjukkan tingginya kesiapsiagaan negara tersebut dalam menghadapi ancaman tsunami. Meski gelombang yang terdeteksi masih relatif kecil, otoritas memilih menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menghindari risiko yang lebih besar. Jepang memiliki pengalaman panjang menghadapi gempa bumi dan tsunami sehingga setiap peringatan dini selalu ditindaklanjuti dengan langkah antisipasi yang ketat demi melindungi keselamatan warga.