DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan konsep Segara Kerthi sebagai filosofi masyarakat Bali dalam memuliakan laut dan menjaga keseimbangan alam kepada peserta Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan (FKPTKP) Indonesia di Rumah Jabatan Gubernur Bali atau Jayasabha, Rabu (20/05/2026).

Koster menjelaskan Segara Kerthi merupakan bagian dari Sad Kerthi, yakni enam sumber utama kesejahteraan kehidupan yang menjadi dasar pembangunan Bali. Menurut dia, laut memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Bali, baik secara spiritual maupun ekologis.

“Laut adalah sumber kehidupan. Dari laut terjadi siklus air yang menopang kehidupan manusia,” ujar Koster saat memberikan sambutan dalam suasana gala dinner.

Ia mengatakan laut juga menjadi ruang suci dalam berbagai ritual penyucian masyarakat Bali. Karena itu, keberadaan laut beserta ekosistemnya harus dijaga secara berkelanjutan.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, laut juga menjadi tempat penyucian diri dan pelaksanaan berbagai upacara keagamaan. Salah satunya melalui upacara pekelem yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga keseimbangan alam.

“Kami percaya laut bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan sumber kehidupan. Apa pun yang dibuang manusia akhirnya bermuara ke laut. Karena itu laut tidak boleh dikotori. Laut harus dijaga agar tetap bersih dan sehat,” katanya.

Menurut Koster, konsep-konsep tersebut sejatinya telah diwariskan leluhur Bali sejak lama. Karena itu, ketika dunia saat ini berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan, masyarakat Bali dinilai telah lebih dulu memiliki fondasi konsep tersebut melalui Sad Kerthi.

“Konsep ini sudah diwariskan leluhur Bali sejak lama. Jadi ketika dunia berbicara tentang pembangunan berkelanjutan, Bali sebenarnya sudah memiliki konsep itu melalui Sad Kerthi,” ujarnya.

Karena itu, kata Koster, arah pembangunan Bali saat ini difokuskan agar tetap ramah lingkungan, menjaga sumber-sumber kehidupan, serta merawat alam secara berkelanjutan.

“Alam yang rusak harus dipulihkan, dikonservasi, dan direvitalisasi agar kehidupan masyarakat tetap sehat dan seimbang,” katanya.

Selain memaparkan Segara Kerthi, Koster juga memperkenalkan konsep Wana Kerthi atau memuliakan tumbuh-tumbuhan. Ia menyinggung perayaan Tumpek Wariga yang akan berlangsung pada Sabtu mendatang sebagai bentuk penghormatan masyarakat Bali terhadap alam.

“Tanpa tumbuh-tumbuhan manusia tidak bisa hidup. Tidak ada oksigen, tidak ada buah, tidak ada sumber pangan,” katanya.

Sementara itu, ditemui usai acara, Ketua FKPTKP Prof Ir Agus Riyanto mengatakan Bali memiliki potensi perikanan yang besar di Indonesia, baik dari sisi hasil tangkapan maupun potensi wisata berbasis kelautan.

“Ada banyak di sini seperti mola-mola, cakalang, tuna, yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah per tahun. Jika itu dikelola dengan baik tentu sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Agus, status Bali sebagai destinasi pariwisata dunia juga menjadi keuntungan tersendiri bagi pengembangan industri perikanan. Tingginya kunjungan wisatawan disebut menciptakan pasar yang besar bagi hasil perikanan lokal.

“Karena ini daerah pariwisata, pasarnya sangat dekat yaitu wisatawan. Dengan pengelolaan yang baik maka industri perikanan di Bali akan bagus,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali atas penyambutan peserta forum di Jayasabha. Menurut dia, Bali memiliki banyak hal yang dapat dipelajari, terutama terkait pembangunan berbasis budaya dan lingkungan.

“Bali kecil tetapi penuh isi. Itu yang harus kami pelajari,” ujarnya.

Agus menegaskan, FKPTKP siap memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang perikanan dan kelautan.

Sebelumnya, FKPTKP telah menggelar kongres pada 18-19 Mei 2026 di Bali yang dihadiri delegasi perguruan tinggi kelautan dan perikanan dari seluruh Indonesia.

Seusai pelaksanaan kongres, FKPTKP diterima Gubernur Bali Wayan Koster dalam acara di Jayasabha.

Sejumlah pejabat tampak hadir dlaam acara santap malam itu, di antaranya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bali Putu Sumardiana, Rektor Universitas Udayana Ketut Sudarsana, serta Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Bali I Gede Pramana.

Reporter: Agus Pebriana