Ebola Mengganas Lagi! WHO Panik, Afrika Tengah Siaga Darurat Global
DIKSIMERDEKA.COM NEWYORK -Wabah Ebola kembali bikin dunia deg-degan. Kepala HO Tedros Adhanom Ghebreyesus, sampai mengeluarkan status darurat kesehatan global setelah virus mematikan itu menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
Bos WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, terang-terangan mengaku khawatir.
“Skala dan kecepatan wabah ini sangat mengkhawatirkan,” katanya.memperingatkan bahwa wabah Ebola yang menyebar di Republik Demokratik Kongo dan Uganda kini berada dalam kondisi yang “sangat mengkhawatirkan” ujarnya dikutip dari CNN.
WHO menyebut lebih dari 130 kematian diduga terkait wabah tersebut, sementara jumlah kasus suspek telah melampaui 500 orang.
Tedros bahkan menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan global atau public health emergency of international concern.
Menurut WHO, wabah berpotensi semakin meluas karena kasus sudah ditemukan di wilayah perkotaan seperti Kampala, Goma, dan Bunia.
Yang membuat situasi makin mengkhawatirkan, sejumlah tenaga kesehatan juga dilaporkan ikut terinfeksi virus mematikan tersebut.
WHO juga menyoroti konflik bersenjata di provinsi Ituri, wilayah terpencil di Kongo tempat virus pertama kali terdeteksi awal Mei lalu.
Konflik tersebut menyebabkan lebih dari 100 ribu orang mengungsi dan memperbesar risiko penyebaran Ebola ke wilayah lain.
“Perpindahan penduduk selama wabah Ebola dapat meningkatkan risiko penyebaran lebih lanjut,” kata Tedros.
Wabah kali ini disebabkan virus Ebola jenis Bundibugyo, strain yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi khusus.
Ebola dikenal memiliki tingkat kematian rata-rata hingga 50 persen.
Virus menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, barang yang terkontaminasi, atau jenazah korban Ebola.
Gejalanya meliputi demam, muntah, diare, nyeri otot, hingga pendarahan internal dan eksternal.
Pejabat kesehatan Amerika Serikat mengatakan para ilmuwan kini mencoba mengembangkan terapi antibodi monoklonal sebagai pengobatan potensial untuk strain Bundibugyo.
Respons penanganan wabah juga dinilai terhambat akibat perang, kemiskinan, dan buruknya akses kesehatan di wilayah terdampak.
Organisasi kemanusiaan World Vision menyebut anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.
Direktur World Vision di Kongo, Philippe Guiton, mengatakan wilayah Ituri sudah lama dilanda konflik dan kekurangan bantuan kemanusiaan.
Selain itu, kondisi gizi buruk akut membuat daya tahan tubuh masyarakat semakin lemah.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat mulai mengirim tim bantuan bencana ke Kongo dan Uganda.
AS juga membatasi masuknya warga dari wilayah terdampak Ebola setelah seorang warga Amerika dilaporkan positif terinfeksi virus tersebut di Kongo.
WHO memperingatkan wabah kemungkinan jauh lebih besar dari angka resmi yang dilaporkan saat ini.
Dokter Craig Spencer, penyintas Ebola 2014, mengatakan banyak rantai penularan kemungkinan sudah terjadi sebelum wabah terdeteksi.
“Tidak diragukan lagi situasinya mungkin jauh lebih buruk daripada yang kita ketahui sekarang,” katanya.

Tinggalkan Balasan