DIKSIMERDEKA.COM KUALALUMPUR-Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Malaysia turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Kamis. Pasar tertekan oleh ketidakpastian implementasi program biodiesel Indonesia serta rencana penurunan pajak ekspor sawit.

Dilansir dari Reuters, kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives turun 42 ringgit atau 0,95 persen menjadi 4.396 ringgit per ton atau sekitar Rp19,5 juta per ton. Angka tersebut menjadi penutupan terendah sejak 6 Maret.

Kepala Komoditas Sunvin Group India, Anilkumar Bagani, mengatakan pasar masih menunggu kejelasan berbagai aspek dalam program campuran biodiesel Indonesia yang menggunakan 50 persen bahan baku sawit atau solar B50.

Program tersebut diumumkan pada April dan dijadwalkan mulai berlaku 1 Juli 2026.

Menurut Bagani, volume total minyak sawit yang akan diserap untuk kebutuhan biodiesel masih belum jelas karena bergantung pada alokasi peserta subsidi maupun non-subsidi.

Selain itu, pasar juga dibebani isu kemungkinan penurunan pajak ekspor minyak sawit Indonesia pada Juni yang dinilai bisa meningkatkan tekanan harga.

“Pasar juga sedang membicarakan kemungkinan India menaikkan pajak impor minyak nabati untuk mengurangi arus keluar dolar AS,” ujar Bagani.

Perdana Menteri India Narendra Modi sebelumnya meminta masyarakat India mengurangi konsumsi minyak goreng setelah lonjakan biaya energi global akibat perang Iran menekan cadangan devisa negara tersebut.

Di pasar komoditas lain, kontrak minyak sawit di Dalian turun 1,47 persen, sementara harga minyak kedelai melemah baik di China maupun di Chicago Board of Trade.

Harga sawit biasanya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena bersaing di pasar minyak nabati global.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru menguat karena pelaku pasar menantikan hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terkait upaya meredakan perang Iran.

Kenaikan harga minyak mentah sebenarnya dapat mendukung penggunaan biodiesel berbasis sawit karena menjadi alternatif energi yang lebih kompetitif.

Sementara itu, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS sebesar 0,05 persen membuat harga sawit sedikit lebih murah bagi pembeli luar negeri.