Ribuan Pekerja Tumbang Seketika

DIKSIMERDEKA.COM NAIROBI– Di balik kecanggihan AI, ribuan pekerja tiba-tiba kehilangan pekerjaan tanpa perlindungan, tanpa kepastian. Gelombang PHK pekerja AI Kenya mengguncang industri teknologi global. Lebih dari 1.000 pekerja di Nairobi mendadak kehilangan pekerjaan setelah Meta memutus kontrak dengan perusahaan outsourcing Sama. Seperti yang dilansir The Guardian, Sabtu (18/4/2026).

Langkah ini menuai kecaman keras. Aktivis menilai kejadian ini menunjukkan rapuhnya nasib pekerja teknologi di negara berkembang.


Konten Sensitif Picu Pemutusan Kontrak

Masalah bermula dari laporan mengejutkan.Sejumlah pekerja disebut diminta menonton konten sangat pribadi, termasuk rekaman orang di toilet hingga adegan seksual yang diambil dari kacamata pintar Meta.Tak lama setelah itu, Meta langsung mengambil langkah tegas.

“Foto dan video bersifat privat bagi pengguna. Manusia hanya meninjau konten AI untuk meningkatkan performa produk dengan persetujuan pengguna. Kami juga memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Sama karena tidak memenuhi standar kami,” tegas Meta.


Hanya Diberi Waktu 6 Hari

Yang lebih mengejutkan, para pekerja hanya diberi waktu sangat singkat.Organisasi Oversight Lab menyebut mereka hanya mendapatkan pemberitahuan enam hari sebelum diberhentikan. Selain itu, lembaga tersebut kini mendampingi para pekerja untuk mencari jalur hukum.


Trauma dan Tekanan Mental

Ini bukan pertama kalinya kasus seperti ini terjadi.

Sebelumnya, gugatan hukum mengungkap banyak pekerja mengalami trauma berat akibat harus menyaring konten ekstrem.

Mulai dari depresi hingga PTSD menjadi risiko yang mereka hadapi setiap hari.


Sama Membela Diri

Di sisi lain, pihak perusahaan Sama membantah telah mengabaikan kesejahteraan pekerja.

“Kami memahami dampak ini terhadap tim kami dan memberikan dukungan dengan penuh perhatian dan rasa hormat,” ujar Sama.

Mereka juga mengklaim telah memberikan fasilitas lengkap.

“Tim kami menerima upah layak, manfaat penuh, serta akses ke layanan kesehatan dan konseling,” tambahnya.


Kritik Keras: Sistem AI Global Tidak Adil

Namun demikian, kritik tetap mengalir deras.

Oversight Lab menilai sistem industri AI saat ini merugikan negara berkembang.

“Sudah saatnya kita menyadari bahwa strategi ini merugikan generasi muda dan ekonomi kita, serta tidak mendorong partisipasi Kenya dalam ekosistem AI,” tegas mereka.


Ketimpangan Kekuasaan Terungkap

Seorang mantan pekerja, Kauna Malgwi, mengungkap realita pahit industri ini.

“Masalah ini bukan hanya satu perusahaan. Ini menunjukkan bagaimana industri AI global bekerja. Kekuasaan ada di perusahaan teknologi besar, sementara risiko ditanggung pekerja outsourcing di negara berkembang,” ujarnya.


Kasus PHK pekerja AI Kenya menjadi peringatan keras.Di balik kemajuan teknologi, ada jutaan pekerja yang berada di posisi rentan.Jika tidak diatur dengan jelas, ketimpangan ini akan terus berulang.