DIKSIMERDEKA.COM HAVANA Langit Havana gelap, listrik padam, krisis energi makin parah. Tapi di tengah tekanan Amerika Serikat, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel justru melawan.

Dalam wawancara pertamanya dengan media AS, ia menegaskan satu hal: tidak akan mundur.

“Kami adalah negara yang bebas dan berdaulat. Kami memiliki kemandirian dan tidak tunduk pada keinginan Amerika Serikat,” tegasnyaseperti yang dilansir Media Inggris The Guardian.


⚠️ Tolak Tekanan AS

Diaz-Canel dengan keras menolak tekanan Washington yang terus menggencet Kuba melalui blokade energi.

Ia bahkan menyebut AS tidak punya hak moral untuk menuntut apa pun dari negaranya.

“Pemerintah Amerika Serikat yang menjalankan kebijakan bermusuhan terhadap Kuba tidak memiliki moral untuk menuntut apa pun dari kami,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa mundur bukan pilihan.

“Konsep pejuang revolusi menyerah dan mundur, itu bukan bagian dari kosakata kami,” tegasnya.


Krisis Energi Lumpuhkan Kuba

Tekanan AS bukan tanpa dampak.

Blokade minyak membuat Kuba kesulitan mendapatkan pasokan energi, terutama setelah suplai dari Venezuela terputus.

Akibatnya, negara itu mengalami pemadaman listrik, krisis bahan bakar, dan gangguan layanan publik.


Rusia Pasang Badan

Di tengah tekanan tersebut, Rusia memastikan tidak akan meninggalkan Kuba.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menegaskan komitmen negaranya.

“Kami tidak bisa mengkhianati Kuba. Itu tidak mungkin. Kami tidak akan meninggalkannya sendirian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bantuan Rusia tidak akan berhenti pada satu pengiriman minyak saja.

“Masih terlalu dini untuk menyebut langkah selanjutnya, tapi jelas kami tidak akan membatasi bantuan hanya pada satu pengiriman,” katanya.


Konflik Makin Kompleks

Ketegangan antara AS dan Kuba terus meningkat.

Pemerintahan Donald Trump bahkan disebut mempertimbangkan langkah ekstrem terhadap Kuba dan menilai kepemimpinan di Havana sebagai ancaman keamanan nasional.


Situasi ini menunjukkan pertarungan geopolitik yang semakin tajam. Di satu sisi, AS menekan melalui ekonomi. Di sisi lain, Rusia masuk sebagai penyeimbang kekuatan.Kuba kini berada di titik kritis: bertahan atau runtuh di tengah tekanan global.

Pernyataan Diaz-Canel menegaskan satu hal: Kuba tidak akan menyerah. Namun dengan krisis energi yang semakin parah, masa depan negara itu kini berada di persimpangan.