Inter vs Arsenal 1-3: Chivu Akui Nerazzurri Kalah Kualitas
DIKSIMERDEKA.COM, Milan,-Inter kembali tumbang di Liga Champions. Kalah 1-3 dari Arsenal di San Siro bukan sekadar soal skor, tetapi potret jarak kualitas yang masih harus dikejar Nerazzurri. Cristian Chivu mengaku terkesan dengan kedalaman skuad Arsenal, sekaligus menegaskan penyesalan terbesarnya justru datang dari kekalahan-kekalahan sebelumnya.
Bukan Sekadar Kalah Skor
Inter sebenarnya tidak sepenuhnya tenggelam. Gol penyama dari Petar Sucic sempat menjaga asa, terutama ketika laga berjalan seimbang di babak pertama. Namun, momen kunci kembali menjadi pembeda. Arsenal mematikan lewat dua gol Gabriel Jesus dan satu serangan balik Viktor Gyokeres saat Inter mulai membuka garis pertahanan.
Menurut Chivu, peluang di skor 1-1 seharusnya bisa mengubah alur. Meski begitu, ia sadar momentum saja tidak cukup. Intensitas, kecepatan berpikir, dan kualitas sentuhan Arsenal membuat Inter terus berada dalam tekanan.
Set-Piece dan Kedalaman Skuad
Masalah lama Inter kembali muncul pada situasi bola mati. Skema zonal marking gagal meredam pergerakan kolektif Arsenal dari tiang jauh. Selain itu, perbedaan kedalaman skuad terlihat jelas. Arsenal bisa menurunkan pemain segar tanpa menurunkan kualitas, sementara opsi Inter lebih terbatas.
Chivu juga menyoroti perubahan sikap Arsenal di babak kedua. Tim tamu tampil lebih rendah, lebih disiplin, dan jauh lebih efektif. Di titik ini, pengalaman Arsenal di level tertinggi berbicara.
Regret yang Datang Terlambat
Menariknya, Chivu justru tidak terlalu menyesali laga ini. Ia lebih menyoroti kekalahan dari Atletico Madrid dan Liverpool. Menurutnya, jika Inter tampil dengan sikap seperti malam ini pada laga-laga tersebut, hasilnya mungkin berbeda.
Kekalahan ketiga beruntun ini membuat Inter keluar dari delapan besar sementara. Namun, Chivu menegaskan timnya siap jika harus melalui jalur play-off. Ia menilai proses menuju sepak bola yang lebih cepat dan intens sedang berjalan, meski belum sempurna.
Bagi Inter, laga ini bukan akhir. Namun, selama masalah konsistensi, set-piece, dan transisi bertahan belum teratasi, laga besar akan terus menjadi batu sandungan.

Tinggalkan Balasan