Como VS Milan, Menang 3-1,Rossoneri Jaga Asa Scudetto
DIKSIMERDEKA.COM- duel Como vs Milan menjadi gambaran paling jujur tentang sepak bola modern: dominasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan. Sejak menit awal, Como tampil agresif dan berani mengambil inisiatif.specialnya , AC Milan justru pulang dengan tiga poin krusial. Dalam laga Como vs Milan ini, efektivitas Rossoneri berbicara lebih keras dibanding penguasaan bola.
Selain itu, pertandingan tunda pekan ke-16 Serie A ini datang pada momen genting. Napoli gagal menang, Inter terus melaju, dan Milan tidak memiliki ruang untuk terpeleset. Oleh sebab itu, meski kondisi tim belum ideal dan beberapa pemain inti absen, Milan tetap tampil fokus sepanjang duel Como vs Milan.
Como Unggul Cepat, Milan Kehilangan Kendali
Pada awal laga, Como langsung menekan. Hasilnya pun cepat terlihat. Baru 10 menit berjalan, skema sepak pojok pendek berujung pada sundulan Marc-Oliver Kempf yang gagal diantisipasi Youssouf Fofana. Gol itu bukan hanya membuka skor, tetapi juga mengangkat kepercayaan diri tuan rumah.
Setelah itu, Como semakin nyaman. Mereka menguasai bola, mengatur tempo, dan memaksa Milan bertahan lebih dalam. Bahkan, Lucas Da Cunha nyaris menggandakan keunggulan. Dalam situasi tersebut, Milan tampak kesulitan keluar dari tekanan. Karena itulah, Max Allegri mulai merespons dengan perubahan taktik.
Maignan Menjaga Milan Tetap Bernapas
Namun demikian, dominasi Como tidak langsung berbuah gol tambahan. Alasannya jelas: Mike Maignan. Dalam duel Como vs Milan, kiper Prancis itu tampil luar biasa. Ia menepis sepakan melengkung Nico Paz, menggagalkan sundulan jarak dekat Da Cunha, serta menghalau tembakan rendah Tasos Douvikas.
Lebih jauh lagi, setiap peluang Como seolah mentok di sarung tangan Maignan. Pada fase ini, Milan memang tidak dominan. Akan tetapi, mereka tetap bertahan dengan disiplin. Di sinilah peran kiper menjadi krusial, terutama ketika tekanan datang tanpa henti.
Baca juga : AC Milan Kejar Tanda Tangan Wonderkid Serbia Andrej Kostic
Penalti Nkunku Mengubah Alur Laga
Di tengah tekanan yang terus mengalir, Milan justru mendapatkan momentum. Alexis Saelemaekers mencuri bola, Adrien Rabiot dijatuhkan, dan wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Momen ini menjadi titik balik penting dalam Como vs Milan.
Selanjutnya, Christopher Nkunku maju sebagai eksekutor. Meski Rafael Leao sempat mengajukan diri, Allegri mengambil keputusan tegas. Keputusan itu terbukti tepat. Nkunku menaklukkan kiper Como dan menyamakan skor. Sejak saat itu, arah pertandingan perlahan berubah.
Rabiot Menghukum, Milan Tersenyum
Setelah gol penyeimbang, Milan bermain lebih tenang. Mereka tidak lagi terburu-buru. Sebaliknya, serangan dibangun dengan perhitungan matang. Leao mengontrol bola, mengecoh lawan, lalu mengirim umpan cerdik ke Rabiot. Tanpa ragu, Rabiot menyelesaikannya dengan setengah voli mematikan.
Gol tersebut menjadi pembeda. Meskipun demikian, Como tidak menyerah. Nico Paz dan Maxi Perrone masih sempat mengguncang mistar. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada tuan rumah. Hingga peluit akhir berbunyi, skor tetap berpihak pada Milan.
Dengan demikian, Como vs Milan kembali menegaskan pelajaran klasik sepak bola Italia. Dominasi tanpa ketajaman hanya akan menjadi statistik. Sebaliknya, Milan menunjukkan mental juara: sabar, klinis, dan tahu kapan harus menghukum lawan.

Tinggalkan Balasan